Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

13.4.08

Menjelang Akhir sebuah Perantauan...

Hari-hari ini, saya dan keluarga sedang "menghitung hari", karena pada akhir April nanti secara resmi saya akan menyelesaikan tugas penelitian di Jerman, dan kembali ke habitat asal di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Saya tidak yakin setelah kembali beraktivitas nanti bisa menulis lagi secara rutin di blog ini, tapi saya berharap masih bisa melakukannya.

Sebagai hasil riset selama hampir dua tahun di Malaiologischer Apparat, des Orientalischen Seminars, Universität zu Köln, saya sudah mempersiapkan sebuah buku yang bertujuan untuk mempublikasikan hasil edisi teks Ithaf al-Dhaki, sebuah karya tasawwuf yang ditulis pada pertengahan abad 17 oleh Ibrahim al-Kurani (1616-1690). Rancangan buku ini juga akan memuat keterangan tentang profil pengarang, latar belakang pendidikannya, jaringan keilmuannya, serta karya-karya selengkapnya.

Penelitian filologis, yang saya padukan dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual Islam, atas teks Ithaf al-Dhaki ini saya lakukan antara bulan Agustus 2006 sampai April 2008, saat saya menerima beasiswa Post-doctoral Program dari Yayasan The Alexander von Humboldt (The AvH), Jerman. Program beasiswa itu sendiri tidak mungkin saya terima tanpa adanya undangan untuk melakukan penelitian dari Prof. Edwin Wieringa.

Kajian atas teks Ithaf al-Dhaki sebetulnya pernah diawali oleh A.H. Johns (Australian National University), yang ---bersama Nagah Mahmud al-Ghoneimy (Universitas Al-Azhar Kairo)--- pernah mempersiapkan sebuah edisi teks berdasarkan lima salinan naskah, yakni naskah koleksi Perpustakaan Masjid Al-Azhar, Kairo, yang diduga kuat adalah naskah yang saat ini terdaftar sebagai MS 288 di Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Kairo, MS 684 koleksi Perpustakaan India Office, MS Or. 7050 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, serta MS 2578 dan MS 2954 koleksi Perpustakaan Dar al-Kutub, Kairo.

Sayangnya, edisi teks dan hasil kajian Johns dan koleganya itu belum sempat diselesaikan. Meskipun dalam artikelnya beberapa tahun kemudian (Johns 1981: 432-433) Johns menegaskan kembali bahwa ia sedang mempersiapkan edisi dan kritik teks Ithaf al-Dhaki, nyatanya telaah pentingnya itu tidak pernah sampai kepada pembaca. Setelah mengetahui maksud penelitian saya, Prof. Johns kemudian bermurah hati untuk ‘mewariskan’ draft yang telah ia buat itu, yang terdiri dari draft terjemahan teks ke dalam bahasa Inggris, serta sebagian kecil kritik teks yang pernah dibuatnya. Pada gilirannya, draft awal versi Johns ini banyak membantu penelitian lebih lanjut atas teks Ithaf al-Dhaki yang saya lakukan. Johns juga sempat menulis tentang pentingnya Ithaf al-Dhaki, serta mengutip beberapa bagian teks ---terutama berkaitan dengan latar belakang penulisannya --- dalam artikelnya yang ditulis sebagai salah satu dari kumpulan artikel persembahan untuk Sutan Takdir Alisjahbana (Johns 1978: 469-485).

Selain Johns, Ithaf al-Dhaki juga pernah menjadi salah satu sumber utama penelitian yang dilakukan oleh Azyumardi Azra. Dalam karyanya ---yang edisi bahasa Indonesianya terbit pada 1994, dan disusul kemudian dengan edisi Inggrisnya (2003)--- Azra menempatkan Ithaf al-Dhaki sebagai salah satu rujukan terpenting ajaran neo-Sufisme yang berkembang di dunia Islam pada umumnya, dan di dunia Melayu-Nusantara pada khususnya. Tentu saja Azra tidak bermaksud mempersiapkan sebuah edisi teks Ithaf al-Dhaki, karena penekanannya adalah pada pencitraan al-Kurani, melalui pemikiran-pemikiran sufistis dalam karya-karyanya, sebagai seorang Sufi moderat yang terlibat dalam saling silang hubungan antara para ulama di Haramayn dengan sejumlah ulama asal Melayu-Nusantara. Corak pemikiran seperti yang terekam dalam Ithaf al-Dhaki inilah yang ditegaskan Azra sebagai bibit-bibit pembaharuan Islam yang dilanjutkan, dikembangkan, serta dielaborasi oleh murid-murid al-Kurani di dunia Melayu-Nusantara, khususnya melalui Abdurrauf ibn Ali al-Jawi sebagai murid sekaligus kawan terdekatnya (Azra 1994).

Hampir senada dengan Azra ---meskipun sama sekali tidak mengutipnya---, artikel panjang yang ditulis Basheer M. Nafi (2002) juga patut disebut dalam konteks kajian atas pemikiran al-Kurani. Saat melakukan telaah atas kompleksitas hubungan antara tasawwuf dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan sejumlah ulama pra-modern Islam akhir abad 17 dan awal abad 18 di Haramayn, Nafi banyak mengeksplorasi pemikiran mistiko-filosofis al-Kurani dalam Ithaf al-Dhaki, dan juga dalam karya lainnya seperti Tanbih al-‘Uqul atau al-Ilma‘ al-Muhit, yang dianggapnya memiliki pengaruh besar terhadap corak dan kecenderungan pemikiran pembaharuan sejumlah ulama berpengaruh berikutnya, terutama yang memang pernah menjadi murid-murid al-Kurani sendiri seperti Muhammad T{ahir (1081-1145/1670-1733), yang juga adalah putra kandungnya, dan Muhammad ibn ‘Abd al-Hadi al-Sindi (w. 1138/1726).

Seperti tampak dalam keseluruhan pembahasan Ithaf al-Dhaki, al-Kurani jelas dapat dianggap sebagai salah satu di antara penafsir, sekaligus pembela, pemikiran-pemikiran tasawuf filosofisnya Ibn al-‘Arabi (560-638/1165-1240). Akan tetapi, sejauh menyangkut para penafsir pemikiran Ibn al-‘Arabi ini, umumnya para sarjana hanya menyebut ‘Abd al-Razzaq al-Kashani (w. 736/1335), ‘Abd al-Karim al-Jili (w. 832/1428), atau ‘Abd al-Rahman al-Jami (w. 898/1492), dan tidak pernah menyebut al-Kurani sebagai salah seorang di antaranya. Hal ini sangat mungkin dikarenakan pemikiran-pemikiran al-Kurani sendiri belum banyak diketahui. Memang, di antara hampir seratus buah pena al-Kurani, baru tiga di antaranya yang pernah diterbitkan, tidak termasuk Ithaf al-Dhaki yang sesungguhnya mengandung pembahasan panjang serta mendalam berkaitan dengan doktrin mistiko-filosofis Ibn al-‘Arabi tersebut.

Karenanya, penelitian saya ini antara lain dimaksudkan untuk memperkenalkan kontribusi pemikiran al-Kurani, khususnya berkaitan dengan konsep-konsep wahdat al-wujud, wajib al-wujud, dan wujud mutlaq yang sering dikaitkan sebagai ajaran Ibn al-‘Arabi. Dalam konteks tradisi intelektual Islam di dunia Melayu-Indonesia pada pertengahan abad 17, Ithaf al-Dhaki, yang menjadi sumber utama penelitian saya, dapat dianggap sebagai salah satu sumber terpenting karena merupakan salah satu, kalau tidak satu-satunya, sumber Arab yang menyebut terjadinya kesalahpemahaman masyarakat Muslim di wilayah ini berkaitan dengan doktrin wahdat al-wujud pada saat itu.

Dan, berangkat dari hipotesis Johns bahwa Abdurrauf ibn Ali al-Jawi adalah salah seorang di antara jama‘at al-jawiyin murid al-Kurani yang melaporkan situasi keagamaan di wilayah yang disebut sebagai “bilad Jawah” tersebut, serta meminta al-Kurani untuk menulis sebuah penjelasan atas kitab al-Tuhfah al-Mursalah yang menjadi sumber kesalahfahaman (Johns 1975: 48-54), maka kita patut menduga bahwa mereka yang dimaksud oleh al-Kurani terutama adalah masyarakat Muslim di Aceh, tempat terjadinya perdebatan intelektual mengenai doktrin wahdat al-wujud antara para pengikut ajaran Hamzah Fansuri dan Shamsuddin al-Sumatra’i dengan kelompok Muslim ortodoks yang dimotori oleh Nuruddin al-Raniri.

Telaah atas teks dan konteks Ithaf al-Dhaki ini juga sekaligus menegaskan pentingnya memperluas cakupan kajian manuskrip Nusantara supaya tidak hanya terbatas pada karya-karya yang ditulis oleh pengarang, dan dalam bahasa, lokal saja, melainkan juga naskah-naskah berbahasa non-lokal, seperti Arab, karangan penulis non Melayu-Nusantara, tetapi memiliki keterkaitan kuat dengan wacana dan tradisi intelektual di wilayah ini.

Bagi saya sendiri, draft buku ini merupakan hasil ‘kontemplasi’ selama hampir dua tahun dalam sebuah lingkungan yang sangat memungkinkan untuk sebuah aktifitas penelitian. Melalui beasiswa penuh dari Yayasan The AvH dan dukungan maksimal dari Prof. Wieringa selaku “tuan rumah” di Institut Malaiologie, Universitas Cologne, saya beruntung memperoleh kesempatan berharga untuk menelusuri sumber-sumber primer berkaitan dengan karya-karya al-Kurani yang tersimpan secara terpisah di sejumlah perpustakaan Mancanegara.

Karenanya, ucapan terima kasih pertama ingin saya sampaikan kepada The AvH yang telah menerima proposal penelitian saya, serta menyetujui perpanjangan masa penelitian dari satu tahun menjadi 21 bulan akibat “membengkaknya” sumber-sumber penelitian yang dijumpai. Saya bersyukur bisa menjadi orang pertama dari kalangan UIN/IAIN, serta salah seorang di antara tidak lebih dari 35 an peneliti asal Indonesia dan puluhan ribu peneliti lainnya dari berbagai pelosok dunia, yang mereguk pengalaman sebagai penerima beasiswa penelitian dari salah satu Yayasan terkemuka di Jerman ini.

Pengalaman sebagai Humboldtian telah menarik saya ke dalam sebuah jejaring akademis lintas disiplin yang simpul-simpulnya niscaya akan menjadi potensi berharga dalam membangun dan mengembangkan tradisi akademik di kampus sendiri. Moto “once an Humboldtian always an Humboldtian” dari The AvH sangat memungkinkan para alumninya untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama akademik, baik dengan The AvH sendiri maupun dengan sesama Humboldtian.

Kemudian, Prof. Edwin Wieringa adalah salah satu kunci terpenting keberhasilan aktifitas penelitian saya. Tidak saja ia telah memberikan keleluasaan dalam melakukan tahap-tahap penelitian dan menyediakan fasilitas yang sangat maksimal di Institut Maliologie, tetapi lebih dari itu juga banyak memberikan saran agar penelitian saya dapat berjalan secara efisien serta menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Bagi saya, Prof. Wieringa adalah mitra diskusi yang sangat menyenangkan, rileks, dan bahkan sangat peduli dengan masalah-masalah pribadi atau keluarga yang saya hadapi selama tinggal di Jerman. Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan setulus-tulusnya atas semua kebaikannya yang telah saya terima.

Di Institut, saya juga berhutang budi kepada Frau Walburga Stork dan Joachim Niess serta kolega-kolega lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang selama masa penelitian banyak membantu memfasilitasi kelancaran aktifitas saya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada mereka semuanya.

Seperti saya singgung di atas, pada pertengahan aktifitas penulisan buku ini, Prof. A.H. Johns “mewariskan” semua salinan hasil edisi teks Ithaf al-Dhaki yang belum selesai kepada saya, dan kemudian saya sempurnakan dengan menyertakan dua belas salinan naskah Ithaf al-Dhaki yang belakangan saya jumpai. Untuk itu, ucapan terima kasih tak terhingga saya sampaikan atas kepercayaan Prof. Johns untuk “melanjutkan” penelitian atas salah satu karangan terpenting Ibrahim al-Kurani ini.

Penelusuran salinan naskah Ithaf al-Dhaki di sejumlah perpustakaan juga telah melibatkan beberapa sahabat yang dengan tulus membantu dengan cara mereka masing-masing. Dr. Nursamad Kamba di Jeddah serta Amin Samad, M.A. di Cairo adalah dua orang yang kepadanya saya harus berterima kasih. Atas bantuan keduanya, serta kawan-kawan lain di Kairo, saya dapat memperoleh salinan naskah Ithaf al-Dhaki koleksi Perpustakaan Universitas Al-Azhar, yang oleh Johns pernah disebut sebagai salah satu salinan terbaik.

Selanjutnya, keleluasaan saya melakukan penelitian juga tidak lepas dari izin yang diberikan oleh Pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora, untuk meninggalkan tugas-tugas akademik selama masa penelitian ini. Saya hanya bisa berusaha agar masa waktu yang telah saya habiskan ini akhirnya dapat membuahkan sesuatu yang akan bermanfaat bagi lembaga.

Last but not least, saya ingin mempersembahkan segalanya buat Ida, istri tercinta, juga Fadli, Alif, dan Jiddane, buah hati tersayang, yang telah mengorbankan semua pilihan pribadinya untuk menemani dan tinggal jauh dari keluarga di kampung halaman. Saya tahu persis, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk beradaptasi, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah; mereka tidak punya pilihan selain berusaha untuk menyesuaikan diri serta menghadapi berbagai masalah, mulai dari perkara bahasa sampai soal perbedaan adat istiadat dan budaya. Saya hanya berharap dan berdoa, semoga pilihan ini pada akhirnya dapat memberikan yang terbaik buat kita bersama.


Print This Page

2 Kommentare:

Mawhib said...

many congrat's untuk bukunya...kami nantikan buku itu di cairo..untuk dikaji

semoga tor inventarisir naskah nusantara di setujui

Anonymous said...

kang Oman, saya Nano yang dulu datang di presentasi Munich waktu kang Oman diundang kang Ahya. Sekarang saya di Cina, di sela-sela waktu saya saya lagi menulis topik identifikasi Muslim Nusantara. Email kang Oman apa, tolong email kan ke saya: estananto@yahoo.de. Makasih, sukses selalu kang!