Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

6.12.07

Memungut Kearifan Johann Wolfgang von Goethe

Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bonn, menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi judul Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya ini berisi terjemahan kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.

Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang ‘tiba-tiba’ menarik perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi sastra ini, saya banyak tertegun dan ‘terpaksa’ membaca serta merenungkan berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.

Betapa tidak? Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya selama bertahun-tahun adalah tentang konsep-konsep ontologis soal keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif tasawuf. Saya tidak pernah berfikir untuk membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya ‘tiba-tiba’ menemukan inti pemikiran para Sufi yang adiluhung itu teruntai dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa Indonesia yang sangat puitis.

Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini hanyalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (tajalli) dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S. 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-‘Arabi, yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi besar berjuluk al-Shaykh al-Akbar yang paling getol medakwahkan konsep tashbih (penyerupaan) dan tanzih (transendensi) Tuhan ini.

Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya berjudul “Goethe – Tokoh Jerman Terbesar” (h. 9-33), dalam puisi Im Namen desssen (Atas Nama Dia) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).

Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe tidak hanya sedang ‘meminjam’ popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.

Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan West-Östlicher Diwan, atau yang dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai al-Diwan al-Sharq li al-Muallif al-Garbi, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai Diwan Barat-Timur (h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe. Dalam Offenbar Geheimnis (Bukan Rahasia), Goethe bahkan menunjukkan pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):

Namun dalam mistik kau murni
Karena mereka tak memahamimu,

Meski tak shalih,
engkau suci!

Itu tak rela mereka akui
.

Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya ‘sufistis’nya adalah bukan berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe terhadap dunia Timur.

Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut Damshäuser, “… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam, dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…”. Goethe lebih suka menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Goethe sendiri (h. 29).

Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima bagian, yakni ‘Batas-batas Manusia’, ‘Keping-keping Kebijaksanaan’, ‘Merindu Mati di Kobaran Api’, ‘Tak Berkulit Tak Berbiji’, dan ‘Wasiat’. Masing-masing bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe (h. 23).

Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan, seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin, Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya (h. 9-21).

Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan karya-karya agung semisal Faust II (1831) dan sebelumnya, West-Östlicher Diwan (1819) yang telah saya sebut di atas.

Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk saling menunjukkan apresiasi.

Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan itu dikelola.

Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan saja yang tidak terlalu berguna.

Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya. Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.

Print This Page

2 Kommentare:

m lim said...

wah... membaca ulasan ini saya jadi ingin membaca koleksi puisi Goethe... duh... too many books to read too little time.....

thanks for sharing!

mer

Lusi Lindri Negeri Westfalia said...

Hatur nuhun Kang Oman,

resensi saya terhadapnya, memang memilih jalur rumit. Jalur pandangan dunia seorang perempuan. Dan, membaca ini, memperkaya wawasan. Bagi siapapun.