Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

6.1.07

Tentang Kesusastraan Melayu

Dikutip seutuhnya dari buku

Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Sedunia

karangan: Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman
Jakarta: YOI dan EFEO, 1999
hlm 131 - 133

Kesusastraan Melayu muncul dan berkembang mulai dengan abad ke-14 di beberapa bandar di kedua sisi Selat Malaka. Pada waktu itu bahasa Melayu sudah berabad-abad tersebar di Kepulauan Indonesia dan di Dunia Melayu pada umumnya sebagai bahasa perantara (lingua franca) dan sudah pula menjadi media dakwah agama Islam. Oleh karena itu, sastra Melayu, yang tertulis dengan huruf Arab, menyebar juga di seluruh dunia Nusantara; karya-karya dalam bahasa Melayu tidak ditulis di Riau atau di Semenanjung Melayu saja, melainkan di berbagai pusat kerajaan yang berjauhan seperti misalnya di Aceh, Bima, dan Ternate.

Naskah-naskah yang tertua (abad ke-16 dan ke-17) dibahas a.l. oleh van Ronkel 1896, Shellabear 1898, dan Blagden 1930. Naskah tersebut sangat langka; kebanyakan naskah yang kini diketahui berasal dari abad ke-18 dan terutama abad ke-19. Naskah-naskah itu tersimpan di puluhan perpustakaan di seluruh dunia; Mulyadi 1994 (khususnya h. 11-21) memberikan gambaran sekilas tentang dunia pernaskahan Melayu dan tentang beberapa koleksi terpenting di dunia; Howard mendaftarkan naskah-naskah yang waktu itu tersimpan di beberapa perpustakaan terbesar di dunia. Sekitar tahun 1980, naskah yang ada diperkirakan berjumlah empat sampai lima ribu buah, namun usaha yang dilakukan oleh beberapa lembaga, terutama di Malaysia dan di Aceh, selama 15 tahun terakhir ini, untuk mengumpulkan naskah, sampai berhasil memperoleh ribuan naskah baru, membuktikan bahwa naskah-naskah masih sangat banyak di tangan masyarakat.

Disebabkan peranannya sebagai bahasa dagang, dakwah, pengajaran, kesusastraan, politik, dan pemerintahan, sampai menjadi bahasa nasional di Indonesia dan di Malaysia, maka bahasa Melayu mendapat perhatian khusus dari pakar-pakar mulai abad ke-18. Buku-buku yang terpenting tentang isi dan perkembangan kesusastraan Melayu adalah: Hooykaas 1937 (dengan resensi oleh Overbeck 1938), Winstedt 1958, Liauw 1982, Braginsky 1993 & 1998, dan Iskandar 1995; Kratz 1996 membahas studi-studi mutakhir tentang kesusastraan tersebut. Sebenarnya sebuah ragam bahasa Melayu Kuna sudah tertulis pada abad ke-7 dengan aksara jenis India, dan diperkirakan bahwa selanjutnya bahasa Melayu terus dipergunakan secara tertulis dengan memakai aksara yang sejenis dengan aksara rencong atau Rejang. Oleh karena itu naskah-naskah yang dalam buku ini diuraikan dalam bab khusus tentang Bahasa-bahasa Sumatra Selatan sangat erat hubungannya dengan naskah-naskah yang dibahas dalam bab ini.

Mengingat bahwa naskah yang kita kenal relatif muda usianya, sedangkan karya-karya Melayu jarang diketahui masa tertulisnya, maka dokumen lama tentang sastra tersebut mempunyai arti penting. Tiga daftar naskah pernah disusun oleh orang asing antara tahun 1696 dan 1736; dari daftar itu diketahui bahwa sementara karya Melayu sudah beredar luas pada abad ke-17 dan ke-18.

Daftar pertama disusun oleh M. Leydecker dan C. Mutter pada bulan Mei 1696 di Batavia, yaitu daftar naskah-naskah peninggalan seorang perwira asal Prancis bernama Isaac de Saint-Martin, yang meninggal pada bulan sebelumnya. Daftar tersebut, sebanyak k.l. 60 naskah Melayu (di antara 89 entri), dimuat dan dibahas oleh de Haan 1900; van Ronkel 1900 menelitinya lebih lanjut dan menyimpulkan bahwa koleksi de Saint-Martin itu pernah menjadi milik Pemerintah Hindia Belanda dan kemudian diboyong oleh Raffles ke Eropa, sehingga naskah-naskahnya yang tersisa tersimpan di Royal Asiatic Society di London.

Namun Voorhoeve 1964: 256 - 258 membuktikan bahwa penjelasan van Ronkel sebenarnya keliru dan lebih lanjut (h. 266) menyebut sebuah «daftar naskah-naskah Arab dan Melayu yang disuruh pindahkan oleh Raffles dari Arsip ke Bataviaasch Genootschap» susunan C.G.C. Reinwardt; di antara 78 naskah yang didaftarkan, terdapat k.l. 30 naskah yang berasal dari koleksi de Saint-Martin; kesimpulannya: «mungkin sekali hampir semua naskah tersebut hilang selama periode kemerosotan Bataviaasch Genootschap dalam paruh pertama abad ke-19». Daftar naskah Isaac de Saint-Martin dibicarakan juga oleh Winstedt 1920b, dan kemudian dimuat lagi dalam Mulyadi 1994: 27-29, namun dengan berbagai kekeliruan.

Daftar yang kedua dimuat oleh F. Valentijn dalam karya ensiklopedisnya Oud en Nieuw Oost-Indiën (1724-1726, jil. III (1): 26-27); isinya hanya 23 judul. Daftar tersebut dimuat juga dalam Mulyadi 1994: 30. Daftar ketiga disusun oleh pendeta G.H. Werndly dan dimuat dalam bukunya tentang tata bahasa Melayu (1736: 343-357); daftar itu, sebanyak 77 judul, dapat juga dijumpai dalam Mulyadi 1994: 31-33.

Mungkin sekali ada juga daftar-daftar lain yang dapat membantu kita memahami situasi sastra dan pernaskahan Melayu pada abad ke-17 dan ke-18; sebagai contoh, sebuah daftar karya-karya Melayu pernah disusun oleh seorang naturalis Swedia bernama C.F. Hornstedt semasa tinggal di Batavia pada tahun 1783-1784; daftar itu terdapat dalam buku hariannya (h 150 - 155 dari naskah berbahasa Swedia berjudul Dagbok pa Java) yang tersimpan di perpustakaan Universitas Uppsala (Swedia); mengenai Hornstedt dan buku hariannya, lihat Kumar 1989 (khususnya h. 257, cat. 1).

Upaya katalogisasi naskah-naskah Melayu telah banyak dilakukan; Chambert-Loir 1980a meresensikan semua katalog dan daftar naskah yang terbit sebelum tahun 1980; lebih dari 86 buah katalog disebut dalam Ding Choo Ming 1987; artikel ini juga mengemukakan cara pemerolehan naskah oleh berbagai lembaga. Sejumlah katalog dari tahun 1849 hingga 1980 dibahas juga dalam Ibrahim Ismail 1981, sedangkan Ibrahim Ismail 1987 mengandung uraian mengenai sistematika beberapa katalog.