Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

7.1.07

Ringkasan Disertasi

Penjelasan Umum
Penelitian ini akan memfokuskan telaahnya pada upaya pemaknaan terhadap naskah-naskah keagamaan, dalam hal ini naskah tentang tarekat Shattâriyyah yang muncul di Sumatra Barat.

Naskah-naskah Shattâriyyah yang menjadi sumber primer penelitian ini berjumlah 10 judul, karangan atau tulisan dari tiga orang ulama Shattâriyyah di Sumatra Barat, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin, H. K. Deram (w. 2000), dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan.

Alasan dipilihnya tiga penulis tersebut, selain karena naskah-naskahnya memang bisa dianggap mewakili zamannya, juga karena hingga penelitian ini ditulis, hanya tiga penulis inilah yang bisa diakses karya-karyanya, sementara para penulis dan penyalin lainnya —meskipun telah diketahui pasti keberadaan karya-karyanya— hingga kini belum dapat diakses karena berbagai alasan.

Penting dikemukakan bahwa sebutan “naskah Shattâriyyah” dalam penelitian ini sendiri dimaksudkan dalam pengertiannya yang paling umum, yakni tidak hanya merujuk pada naskah yang berjudul “Shattâriyyah” dan berisi ajaran tarekat Shattâriyyah saja, melainkan naskah-naskah yang berkaitan dengan tarekat Shattâriyyah secara umum, baik menyangkut ajarannya maupun kesejarahannya, yang berkembang di Sumatra Barat. Oleh karenanya, di antara naskah-naskah Shattâriyyah tersebut, terdapat misalnya naskah berjudul Kitâb al-Taqwîm wa al-Siyâm (Kitab tentang Penanggalan dan Puasa). Sepintas, sepertinya tidak ada kaitan antara tema kitab ini dengan dunia tarekat, khususnya tarekat Shattâriyyah. Akan tetapi, dalam konteks Sumatra Barat, persoalan cara menghitung hari atau bulan dan cara menentukan hari pertama puasa di bulan Ramadan ini menjadi wacana yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran tarekat Shattâriyyah tersebut. Bahkan, rumusan yang dikemukakan dalam kitab ini menjadi semacam identitas kaum Shattari sebagai kelompok Muslim tradisionalis, yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lain, seperti penganut tarekat Naqshbandiyyah atau Muslim Modernis misalnya.

Selain 10 naskah versi Sumatra Barat tersebut, —untuk mengukur sejauhmana dinamika yang terjadi dalam ajaran tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat— dalam penelitian ini juga disertakan 2 sumber Arab yang berkaitan dengan tarekat Shattâriyyah, dan dianggap sebagai sumber rujukan ajaran tarekat Shattâriyyah di dunia Islam Melayu-Indonesia. Sumber pertama adalah al-Simt al-Majîd (Untaian yang Mulia), sebuah kitab tasawuf karangan Shaikh Ahmad al-Qushâshî. Kitab ini menjadi sangat penting dalam penelitian ini karena, setidaknya, dua alasan: pertama, al-Qushâshî adalah salah seorang guru utama Abdurrauf al-Sinkili, tokoh yang paling bertanggungjawab dalam penyebaran tarekat Shattâriyyah di dunia Melayu-Indonesia.

Al-Qushâshî pula yang menginisiasi al-Sinkili sebagai khalifah tarekat Shattâriyyah; kedua, kitab al-Simt al-Majîd berisi ajaran tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ritual tarekat, seperti metode zikir, tatacara baiat, talkin, dan berbagai rumusan doktrin tasawuf yang banyak dijumpai dalam ajaran tarekat Shattâriyyah di dunia Melayu-Indonesia.

Kitab kedua adalah Ithâf al-Dhakî bi Sharh al-Tuhfah al-Mursalah Ilâ Rûh al-Nabî (Persembahan yang Suci: Penjelasan atas Kitab al-Tuhfah al-Mursalah Ilâ Rûh al-Nabî), karangan Ibrâhîm al-Kûrânî. Kitab ini penting, juga karena dua alasan yang hampir sama: pertama, al-Kûrânî adalah guru utama al-Sinkili selain al-Qushâshî, yang banyak membentuk corak dan kecenderungan pemikiran keislaman al-Sinkili, khususnya dalam rumusan tentang doktrin-doktrin mistiko filosofisnya; kedua, kitab Ithâf al-Dhakî mengandung rumusan tentang reinterpretasi wahdatul wujud, yang kemudian dikembangkan oleh al-Sinkili sebagai rumusan ajaran tarekat Shattâriyyah.

Adapun pertimbangan dipilihnya tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat sebagai topik kajian adalah karena, setidaknya, empat alasan:

Pertama, tarekat Shattâriyyah, selain merupakan jenis tarekat paling awal yang datang di wilayah ini (abad ke-17), juga —dan ini yang paling penting— berkembang secara sistematis melalui surau-surau. Perkembangan tarekat Shattâriyyah, dan juga tarekat lainnya, melalui surau ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang khas di Sumatra Barat, karena, meskipun di wilayah lain, seperti Jawa, misalnya, tarekat juga sebagian berkembang melalui pesantren, tapi dapat dipastikan bahwa lebih banyak pesantren yang tidak mengembangkan tarekat dibanding yang mengembangkannya. Hal yang sebaliknya terjadi di Sumatra Barat, yakni bahwa hampir semua surau keagamaan menjadi basis pengembangan tarekat, dalam konteks penelitian ini, tarekat Shattâriyyah, kendati penting dicatat bahwa, di pesantren-pesantren di Jawa yang tidak mengembangkan tradisi tarekat ini, ajaran-ajaran tasawuf, khususnya tasawuf amalinya Imam al-Ghazalî, tetap menjadi salah satu pelajaran penting;

Kedua, hingga kini, tradisi penulisan naskah-naskah Shattâriyyah dalam bahasa Melayu Kitab di Sumatra Barat masih terus berlangsung, seiring dengan masih banyaknya pengikut tarekat ini yang menamakan dirinya kaum Shattari. Dalam hal ini, sekali lagi penting disebut peran sentral surau yang, dalam konteks Sumatra Barat, telah menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan budaya masyarakatnya. Hal ini terjadi, karena melalui keberadaan dan peran surau lah, tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan yang telah berumur ratusan tahun tersebut tetap berlangsung, dan menjadi bagian dari identitas kaum Shattari tersebut. Hal ini tentu saja berbeda dengan fenomena tarekat Shattâriyyah di wilayah lain, dimana tradisi penulisan naskah di kalangan penganutnya tidak lagi berkembang, melainkan hanya memanfaatkan naskah-naskah klasik yang telah ada sebelumnya;

Ketiga, munculnya berbagai bentuk ekspresi ritual tarekat di kalangan kaum Shattari yang bernuansa lokal, dan mencerminkan sebuah kekhasan tersendiri, sehingga menarik untuk dicermati;

Keempat, belum dilakukannya penelitian atas naskah-naskah Shattâriyyah di Sumatra Barat tersebut, apalagi jika dihubungkan dengan dinamika dan perkembangannya dari waktu ke waktu.


Metode Penelitian
Secara keseluruhan, penelitian ini merupakan kajian kepustakaan, yang dalam pembahasannya akan menggunakan dua pendekatan: pertama, pendekatan filologis, dan kedua, pendekatan sejarah sosial intelektual.

Pada dasarnya, sebuah pendekatan filologis bertujuan untuk menjembatani komunikasi antara teks yang tertuang dalam naskah dengan pembacanya. Oleh karenanya, seorang filolog niscaya harus melakukan, setidaknya, dua hal: menghadirkan teks yang siap baca, dan melakukan interpretasi atas teks tersebut agar dapat dimengerti oleh khalayak pembaca (Robson 1994: 12). Untuk sampai pada tujuan di atas itulah, dalam penelitian ini, penulis akan mendeskripsikan keseluruhan naskah yang menjadi sumber primer penelitian, dan melakukan analisis kodikologis atasnya.

Hanya saja, dalam penelitian ini, penulis tidak akan memilih satu teks tertentu untuk dilakukan suntingan atasnya, kendati untuk memenuhi keniscayaan sebuah penelitian filologi, yakni menghadirkan teks yang siap baca, penulis akan menampilkan transkripsi atas salah satu teks naskah Shattâriyyah yang penulis anggap paling mewakili kategori naskah Shattâriyyah di Sumatra Barat.

Adapun tidak dilakukannya suntingan teks dalam penelitian ini adalah karena, setidaknya, tiga alasan:

Pertama, suntingan atas beberapa teks Shattâriyyah yang menjadi sumber primer penelitian ini telah dilakukan dalam bentuk penelitian lain, baik yang dilakukan oleh penulis sendiri maupun oleh peneliti lain;

Kedua, tujuan pokok dari penelitian ini adalah untuk melihat dinamika dan perkembangan tarekat Shattâriyyah melalui naskah-naskahnya. Dan, untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini meniscayakan dilibatkannya sebanyak mungkin naskah yang berhubungan dengan tarekat Shattâriyyah, baik yang bersifat ajaran maupun kesejarahannya. Hal ini jelas tidak memungkinkan dilakukannya suntingan teks yang mengandaikan adanya satu teks saja dengan beberapa varian naskahnya. Selain itu, kebanyakan naskah Shattâriyyah yang dijumpai dapat dipastikan bukan merupakan salinan satu dari yang lain;

Ketiga, penulis berkeyakinan bahwa substansi dari sebuah penelitian filologis sendiri sesungguhnya tidak hanya sekedar kritik teks, yang mencakup perbandingan berbagai bacaan dari naskah-naskah yang berbeda-beda, dan membuat silsilah naskah (stemma). Lebih dari itu, sebuah penelitian filologis idealnya juga sampai pada upaya mengetahui sifat dasar teks-teks yang dikajinya. Oleh karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seorang filolog belum bisa dianggap telah menyelesaikan tugasnya jika ia belum berhasil mengeluarkan sifat dasar teks-teks yang dikajinya tersebut (Robson 1994: 13). Karena alasan inilah penulis, dalam penelitian atas naskah-naskah Shattâriyyah ini, lebih memfokuskan pada upaya untuk menempatkan pembahasan atas naskah-naskah tersebut dalam konteksnya, dan mengasumsikan keseluruhan naskah tersebut sebagai satu kesatuan yang tidak berdiri sendiri, dan tidak terpisah satu sama lain, baik dalam hal waktu, tempat maupun lainnya.

Untuk melakukan kontekstualisasi atas naskah-naskah Shattâriyyah itulah, pendekatan kedua, yakni sejarah sosial-intelektual, menjadi penting. Sejarah sosial intelektual dalam pengertian ini dimaksudkan sebagai kajian atau analisis terhadap faktor-faktor sosial intelektual yang mempengaruhi terjadinya peristiwa sejarah itu sendiri (lihat Azra 2002: 4). Dalam hal ini, tarekat Shattâriyyah dengan berbagai doktrin dan ajaran dalam naskah-naskahnya akan ditempatkan sebagai faktor sosial intelektual yang turut menentukan sebuah perjalanan sejarah.
Pendekatan sejarah sosial-intelektual ini, pada gilirannya diharapkan dapat menjadi semacam alat bantu untuk mengetahui sifat dasar teks-teks Shattâriyyah yang dikaji, sehingga teks-teks tersebut dapat dipahami dalam konteksnya yang tepat. Apalagi, beberapa teks Shattâriyyah di antaranya bersifat kesejarahan, di mana teks-teks sejarah tersebut —seperti diisyaratkan oleh Hoesein Djajadinigrat— akan sangat penting peranannya karena memberikan gambaran tentang konsep kehidupan dan dunia perasaan sekelompok masyarakat pada kurun waktu tertentu (Djajadinigrat 1983: 318).

Dalam penelitian ini sendiri, yang dimaksud dengan sejarah sosial intelektual adalah rekonstruksi ajaran tarekat Shattâriyyah yang terdapat dalam naskah-naskahnya, serta telaah atas dinamika dan perkembangannya di tengah-tengah gerakan keagamaan Islam di Sumatra Barat pada umumnya.

Beberapa Kesimpulan
Dari keseluruhan pembahasan atas naskah-naskah Shattâriyyah di Sumatra Barat, ada beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan:

Pertama, tradisi keagamaan di Sumatra Barat —khususnya yang berkembang pada periode awal datangnya Islam ke wilayah ini, dan pada saat Islam bercorak tarekat menjadi kecenderungan utama— telah memberikan stimulus atas munculnya tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan, yang pada gilirannya memperkaya khazanah naskah-naskah Nusantara secara keseluruhan.

Kini, naskah-naskah keagamaan Sumatra Barat umumnya tersimpan di tangan keluarga atau ahli waris para ulama yang sebelumnya menjadi penulis atau bahkan pengarang naskah-naskah tersebut. Naskah-naskah tersebut masih banyak yang tidak bisa diakses oleh generasi Muslim berikutnya, karena lebih dianggap sebagai benda atau pusaka keramat oleh pemiliknya, sehingga dengan demikian, berbagai pengetahuan yang tersimpan di dalamnya pun masih belum maksimal tergali.

Kedua, dari telaah atas sebagian naskah Shattâriyyah yang menjadi objek penelitian ini, tampak bahwa naskah-naskah tersebut, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu, ditulis oleh pengarangnya masing-masing dalam, atau untuk menjelaskan, konteks tertentu. Tampak juga bahwa keseluruhan naskah tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah satu sama lainnya.

Selain itu, naskah-naskah Shattâriyyah di Sumatra Barat juga terhubungkan dengan sumber-sumber Arab, terutama melalui hubungan intelektual di antara para penulisnya, mulai dari Shaikh Ahmad al-Qushâshî, Shaikh Ibrâhîm al-Kûrânî, Shaikh Abdurrauf al-Sinkili, sampai kepada para penulis di Sumatra Barat yang terhubungkan melalui salah satu murid utama al-Sinkili, yakni Shaikh Burhanuddin Ulakan.

Ketiga, melalui hasil telaah atas naskah-naskahnya pula, tampak jelas bahwa tarekat Shattâriyyah yang berkembang di Sumatra Barat, dalam beberapa hal, terutama menyangkut ritual zikir tarekatnya, melanjutkan apa yang telah dikemukakan dalam naskah-nakah Shattâriyyah, baik yang ditulis oleh para ulama Arab di Haramayn maupun oleh ulama Melayu-Indonesia sendiri di Aceh. Akan tetapi, selain itu, ekspresi para penganut tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat juga telah menunjukan dinamika serta sifat dan kecenderungannya yang khas, yang banyak dipengaruhi oleh watak budaya dan tradisi lokal.

Keempat, hingga “usianya” yang lebih dari 300 tahun sejak awal kedatangannya pada akhir abad ke-17, tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat telah melahirkan banyak khalifah dan guru tarekat yang menyebarkan ajaran tarekat ini ke berbagai wilayah di Sumatra Barat. Umumnya, penyebaran tarekat Shattâriyyah oleh guru-guru tarekat ini dilakukan melalui surau-surau yang, terutama pada masa awal Islam tersebut, menjadi pusat transmisi keilmuan Islam.
Dengan rentang waktu perkembangan yang sedemikian panjang tersebut, saling-silang hubungan guru tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat dengan murid-muridnya menjadi sangat rumit dan tidak mudah untuk diketahui seluruhnya. Kendati demikian, melalui telaah atas naskah —khususnya yang berupa silsilah— yang ditulis oleh para ulama tarekat Shattâriyyah itu sendiri, ditambah dengan beberapa data dari sumber lain, penelitian ini “berhasil” merekonstruksi silsilah guru-guru tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat ini, kendati masih jauh dari sempurna.

Kelima, dalam konteks Islam Indonesia, sifat serta kecenderungan doktrin dan ajaran tarekat Shattâriyyah di Sumatra Barat yang bersifat lokal, seperti diperlihatkan dalam naskah-naskahnya, sesungguhnya telah memperlihatkan suatu fenomena Islam lokal yang sangat dinamis dan memperkaya mozaik Islam itu sendiri. Dalam hal ini, fenomena yang sama niscaya dapat dijumpai dalam naskah-naskah Shattâriyyah lokal di daerah lain, seperti dalam naskah-naskah berbahasa Jawa misalnya. Unsur lokalitas dalam naskah-naskah keagamaan seperti naskah Shattâriyyah ini sudah selayaknya mendapat perhatian untuk dijadikan sebagai sumber primer dalam upaya merekonstruksi dinamika dan perkembangan tarekat Shattâriyyah di Indonesia.

Lebih dari itu, karena fenomena tarekat Shattâriyyah merupakan bagian tak terpisahkan dari Islam Indonesia itu sendiri, maka upaya rekonstruksi tarekat ini melalui naskah-naskahnya niscaya akan memberikan kontribusi berharga bagi upaya rekonstruksi sejarah Islam Indonesia secara lebih komprehensif.