Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

4.10.05

Menyelamatkan Kekayaan Intelektual Serambi Mekkah

Kompas, Selasa 04 Oktober 2005

Puluhan kitab tua bertumpuk di atas meja di pendopo Yayasan Pendidikan Ali Hasymi, Banda Aceh. Oman Fathurrahman, seorang peneliti, asyik memeriksa sebuah kitab tulisan tangan beraksara Arab. Ketika halaman kitab yang telah lusuh dan berwarna kekuningan itu dibalik, debu langsung beterbangan ke udara.

Oman kemudian memberikan catatan tentang kitab Ta'bir Gempa kepada Kazuhiro Arai, peneliti dari Jepang. Dengan bersemangat, peneliti yang mahir berbahasa Arab itu memasukkan data tersebut dalam laptop. ”Tiga abad sebelum tsunami menghancurkan Aceh, 26 Desember 2004 lalu, ternyata sudah ada ilmuwan lokal yang menulis tentang gempa. Ini menarik,” kata Kazuhiro.

Kedua peneliti itu tengah sibuk mendokumentasikan ratusan naskah tulisan tangan kuno atau manuskrip yang dikoleksi Yayasan Ali Hasymi. Oman adalah koordinator peneliti dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, sedangkan Kazuhiro peneliti dari Center for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Program yang didukung TUFS itu juga melibatkan beberapa peneliti dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), peneliti IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan pustakawan Yayasan Ali Hasymi.

Dokumentasi naskah mencakup pencatatan judul, nama pengarang, isi, jenis kertas, dan pemotretan beberapa halaman penting. Hasil dokumentasi disimpan dalam format digital dan dicetak dalam bentuk katalog, lengkap dengan ringkasan isi masing-masing naskah. Produk digital dan katalog itu akan dibagikan ke museum dan perpustakaan penting di Indonesia dan dunia, serta dipublikasikan melalui situs di internet. Tujuannya agar peneliti di seluruh dunia dapat mengakses data tersebut.

Dari Perpustakaan Ali Hasymi telah didokumentasikan sebanyak 232 bundel naskah yang berisi 320 judul dengan berbagai tema. Semua naskah itu berupa tulisan tangan beraksara Arab di atas kertas setebal 100 - 500 halaman, ditulis sekitar abad ke-17 sampai abad ke-19 Masehi. Sebagian menggunakan bahasa Arab, sebagian berbahasa Melayu. Program serupa juga akan dilakukan untuk mendokumentasikan sekitar 4.000 naskah kuno di Dayah Tanoh Abee di Seu Lemun, Aceh Besar.

Penanggung jawab C-DATS dari Tokyo University of Foreign Studies, Yumi Sugahara, menjelaskan bahwa program dokumentasi merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan manuskrip Aceh yang selamat dari bencana tsunami. Saat Aceh terkena tsunami dan gempa bumi, banyak manuskrip yang hilang atau rusak.

Kalau dibiarkan dan kurang perawatan, banyak manuskrip yang akan rusak sia-sia. Apalagi kami tidak ingin musibah kembali terjadi dan merusak naskah yang selamat. Sebab, Aceh merupakan kantong perkembangan Islam di Indonesia yang paling awal dan memiliki khazanah keilmuan yang unik, kata Yumi.

Proses dokumentasi digital dan katalog pernah dilakukan atas 200 naskah kuno di Padang tahun 2002, dan 150 naskah kuno di Palembang tahun 2004. Program itu dimaksudkan untuk mengantisipasi naskah kuno yang lama-kelamaan rusak dimakan zaman.

Manuskrip Hilang
Tsunami yang menggempur wilayah Aceh, 26 Desember 2004, memang dahsyat. Selain mengakibatkan 128.803 orang tewas dan 37.066 orang hilang serta menghancurkan infrastruktur, musibah itu juga telah melenyapkan ratusan manuskrip lokal. Kekayaan intelektual Aceh itu hancur bersama perpustakaan, museum, atau di rumah penduduk yang digunakan menyimpan naskah.

Menurut Oman, jumlah naskah kuno yang dipastikan hilang setidaknya 130 naskah, terdiri atas 70 naskah yang disimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dan 60 naskah di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT). Ratusan naskah lain yang disimpan warga di 20 daerah kantong penyimpanan naskah tradisional juga ikut musnah saat tsunami.

Salah satu naskah penting yang hilang adalah kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an. Naskah lain, Tibyan fi Ma'rifatil Adyan karya Nuruddin ar-Raniri tahun 1670-an yang berisi perbandingan pemahaman tasawuf, juga hilang. Kedua naskah itu sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh merupakan wilayah pertama pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara.

Hilangnya ratusan naskah kuno Aceh itu merupakan kerugian besar karena naskah itu adalah sebagian dari kekayaan intelektual dan budaya yang dibuat selama ratusan tahun. Kehilangan itu menyebabkan mata rantai sejarah perkembangan intelektual dan budaya putus.

Generasi muda kesulitan menemukan akses tertulis untuk melacak identitas budaya lokal Aceh yang asli, kata Oman yang meneliti manuskrip Aceh sejak tahun 1998.

Sebagian naskah yang selamat pun sebenarnya juga telah rusak. Ada yang kertasnya sudah bolong-bolong, tinta memudar, atau sobek di sana-sini. Masalahnya, sebagian besar naskah hanya dipelihara secara tradisional, yaitu sekadar disimpan di lemari atau kotak kayu yang dibumbuhi kapur barus agar tidak digerogoti rayap dan ngengat.

Membuka Akses
Tiga puluh tahun sudah, ratusan manuskrip yang menjadi kekayaan intelektual Aceh tenggelam di tempat-tempat penyimpanan. Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah yang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seolah menutup wilayah Aceh dari jangkauan dunia luar. Masyarakat luar enggan masuk ke tanah rencong itu, sedangkan perhatian warga di Aceh sendiri tersedot dalam pertikaian.

Bencana gempa dan tsunami akhir tahun 2004 silam telah membuka Aceh dari isolasi. Nota kesepahaman atau MOU antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan GAM yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus lalu, meniupkan angin segar perdamaian. Pemerhati budaya, filologi, dan sejarah memperoleh keleluasaan untuk menggali dan mempelajari manuskrip Aceh yang selama ini nyaris tak tersentuh.

Selama ini kami sulit masuk ke Aceh karena masalah keamanan. Setelah tsunami dan MOU perdamaian antara RI-GAM, Aceh menjadi lebih terbuka sehingga kami bisa masuk ke sini tanpa dihantui macam-macam kekhawatiran, kata Yumi Sugahara.

Menurut peneliti Jepang itu, Aceh memiliki banyak manuskrip yang menggambarkan kekayaan tradisi intelektual Islam paling awal di Nusantara yang berbeda dengan tradisi di Timur Tengah. Namun, kekayaan itu nyaris tidak banyak diketahui dunia luar. Program dokumentasi dan digitalisasi berusaha membuka kekayaan intelektual itu agar bisa diakses pemerhati dan ilmuwan dari luar negeri.

Bagi masyarakat Aceh, program yang dibantu Tokyo University of Foreign Studies itu juga memberikan keuntungan tersendiri. Generasi muda dapat mempelajari khazanah intelektual lokal dan akan menemukan alternatif pengembangan budaya, sejarah, ilmu pengetahuan, dan tafsir agama yang khas Aceh. Alternatif itu penting untuk memperkuat jati diri bangsa di tengah gempuran budaya global yang bertendensi menyeragamkan semua hal.


0 Kommentare: