Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

1.1.07

Ithaf al-Dhaki; Re-interpretasi Mistis Islam

Ithaf al-Dhaki adalah salah satu karya terpenting Ibrahim al-Kurani (w. 1690) yang ditulis pada pertengahan abad ke 17 sebagai respon atas permintaan sejumlah ulama Melayu (ashab al-jawiyyin), yang meminta fatwa atas terjadinya perdebatan intelektual di Aceh mengenai doktrin wahdat al-wujud atau wujudiyyah.

Ithaf al-Dhaki merupakan komentar dan penjelasan atas kitab Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi yang ditulis oleh Fadl Allah al-Burhanpuri (w. 1619 M), seorang ulama terkemuka asal India. Dalam konteks keilmuan Islam di Nusantara, Ithaf al-Dhaki ini setidaknya dapat dianggap sebagai cikal bakal berkembangnya ajaran neo-sufisme di Indonesia.

Hingga saat ini, manuskrip
Ithaf al-Dhaki dijumpai di sejumlah perpustakaan; dua di Darul Kutub, Kairo, satu di Perpustakaan Leiden, dan satu salinan lainnya di Perpustakaan India Office. Keempat salinan teks Ithaf al-Dhaki tersebut kini sedang dalam tahap penelitian, untuk melihat sejauhmana otentisitasnya, dan untuk mengetahui lebih jelas berbagai pemikiran al-Kurani yang terdapat di dalamnya.

Dalam pendahuluan karyanya ini, al-Kurani menegaskan bahwa Ithaf al-Dhaki ditulis dengan dilatarbelakangi oleh situasi chaos yang terjadi di tanah Melayu-Indonesia, atau yang oleh al-Kurani sendiri disebut sebagai bilad Jawah, akibat salah paham terhadap ajaran-ajaran tasawuf "tingkat tinggi", terutama terhadap doktrin martabat tujuh dan wahdat al-wujud dari al-Burhanpuri dalam Tuhfah al-Mursalah.

Lebih dari itu, al-Kurani menegaskan bahwa dirinya berkali-kali diminta oleh beberapa muridnya dari tanah Melayu (Jama’ah al-Jawiyyin) untuk menulis suatu penjelasan mengenai persoalan tasawuf dalam Tuhfah al-Mursalah yang dianggap sebagai "biang" terjadinya penyimpangan tersebut, agar persoalannya menjadi jernih dan sesuai dengan dasar prinsip-prinsip agama yang dibenarkan oleh Kitab Suci dan Sunnah Nabi Saw.

Kenyataannya, al-Kurani benar-benar mengabulkan permintaan para murid Jawinya tersebut, setelah ia beberapa kali melakukan shalat istikharah di pusara Nabi untuk meminta petunjuk kepada Allah Swt., dan untuk mendapat keyakinan bahwa dirinya mampu melakukan pekerjaan yang maha berat tersebut.

Dalam
Ithaf al-Dhaki sejak awal sekali al-Kurani menengarai, inti persoalan yang terjadi di tanah Melayu adalah adanya ketidakseimbangan antara pengamalan tasawuf sebagai ilmu batin (esoteris) dengan praktek syariat sebagai ilmu lahir (eksoteris) . Dalam hal ini, para pelaku tasawuf dianggap oleh al-Kurani sebagai min ghairi itqanin li ‘ilmi shari’at al-mustafa al-mukhtar salla Allahu ‘alaihi wa sallama. Ya, mengenyampingkan aspek syariat yang diajarkan Nabi Saw (h. 2v). Ini penting digarisbawahi, karena dengan demikian al-Kurani sangat menekankan makna penting dari syariat tanpa harus mengenyampingkan aspek tasawuf dalam mengamalkan ajaran agama.

Al-Kurani menyarankan agar para sufi hendaknya tidak membiarkan cara-cara mistis mereka bertentangan dengan syariat dan kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya. Meskipun seringkali para sufi mempunyai pemahaman sendiri terhadap makna al-Quran dan hadis Nabi, tetapi menurut al-Kurani, setiap ayat al-Quran, di samping mengandung makna esoteris, yang seringkali lebih ditekankan oleh para sufi, juga mengandung makna eksoteris, sebagaimana dipahami oleh masyarakat Muslim kebanyakan.

Bagi sebagian besar umat Islam, terutama mereka yang dikelompokkan sebagai orang awam, bidang penafsiran mistik Islam, khususnya yang rumit dan bersifat filosofis, seringkali membingungkan dan terkadang menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan.

Apa yang terjadi menjelang abad 16 di wilayah Melayu-Indonesia, seperti telah dilukiskan di atas, adalah salah satu buktinya. Kita menyaksikan bagaimana sekelompok umat Islam yang “nekad” menapak dunia mistis Islam, sementara basis syariatnya belum memungkinkan.

Untuk merespon hal tersebut, tidak sedikit ulama sufi mumpuni yang mencurahkan perhatian besar —baik melalui fatwa-fatwa atau penulisan karya-karya— terhadap upaya “penyelamatan” agar mereka tidak sampai menjadi sesat (heretic) akibat kesalahpahaman atas doktrin-doktrin dan praktik-praktik mistis Islam tersebut.

Ithaf al-Dhaki , yang merupakan salah satu jenis karya yang ditulis dalam konteks “penyelamatan” di atas, dapat dianggap sebagai sebuah presentasi panjang mengenai penafsiran ulang (re-interpretasi) terhadap mistis Islam (baca: tasawuf).

Dalam karya ini kita dapat menyaksikan sebuah kesungguhan yang telah ditunjukkan oleh seorang al-Kurani untuk menjernihkan persoalan yang sedang dihadapi oleh, khususnya, masyarakat Muslim Melayu. Al-Kurani berusaha menjelaskan doktrin-doktrin tasawuf (‘ilm al-haqiqat), yang ia definisikan sebagai:

العلم الباحث عن أحوال الوجود من حيث هو ومن حيث ظهوره فى المظاهر

Ilmu yang mempelajari tentang Wujud Tuhan, dan perwujudan-Nya di alam raya. Dalam Ithaf al-Dhaki ini —dan dalam karangannya yang lain semisal al-Jawabat al-Gharawiyyah ‘an al-Masa'il al-Jawiyyah al-Jahriyyah, yang, sayangnya, tidak pernah dijumpai naskahnya— al-Kurani berusaha keras menjelaskan doktrin-doktrin yang maha rumit tersebut dengan didasarkan atas tuntunan al-Quran dan hadis Nabi.