Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

7.1.07

Bab 5: Deskripsi Naskah-naskah Syattariyyah di Sumatra Barat

5.1. Penjelasan Umum

Penting dijelaskan bahwa naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang akan dikemukakan pada bab ini adalah naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang dijumpai di Sumatra Barat pada akhir abad ke-20. Semua naskah yang dijumpai tersebut ditulis dalam kertas modern, semacam kertas kuarto atau folio. Untuk kepentingan penelitian ini, penulis mendapatkan semua naskah-naskah tersebut dalam bentuk fotokopi. Oleh karenanya, pemerian bersifat kodikologis, yang biasanya diterapkan atas alas naskah tulisan tangan kuno (manuscript), akan dilakukan dengan beberapa penyesuaian.

Secara umum, naskah-naskah ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu naskah Arab dan naskah Melayu atau Minangkabau.

5.2. Naskah Arab: Tanb¥h al-MŒsy¥

Teks Tanb¥h al-MŒsy¥ yang dijumpai di Sumatra Barat ini dapat dipastikan sebagai karangan Abdurrauf al-Sinkili, sama persis dengan teks yang telah dikemukakan sebelumnya. Akan tetapi, dari segi kodikologis, fisik naskahnya jauh berbeda. Penyalin naskah ini adalah seorang guru tarekat Sya‹‹Œriyyah di Koto Tangah, Padang, Sumatra Barat, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (lahir 18 Agustus 1922 M).[1]

Sebutan “al-Khatib” tampaknya diambil dari gelar “khatib Mangkuto” yang disandangnya ketika pada tahun 1943, ia dinobatkan oleh masyarakat Batang Kabung sebagai khatib Jumat di mesjid setempat (Amin 2002: 5). Demikian halnya dengan sebutan “Imam Maulana”, yang merupakan gelar yang disandangnya ketika pada tahun 1964, setelah meletakkan “jabatan” sebagai khatib Jumat, ia dinobatkan pula sebagai imam salat Jumat di mesjid yang sama.[2] Jadi, nama aslinya sendiri adalah Abdul Manaf Amin. Kata “Amin” pun sesungguhnya diambil dari nama ayahnya, yang merupakan seorang tokoh Muhammadiyah di Muara Penjalinan, Koto Tangah Padang, sedangkan ibunya bernama Fatihah.

Imam Maulana Abdul Manaf Amin berasal dari suku Bali Mansiang. Dalam sejumlah tulisannya, nama Imam Maulana Abdul Manaf Amin ditulis lengkap, tetapi dalam sebagian tulisan yang lain nama tersebut ditulis tanpa kata al-Khatib. Untuk kepentingan konsistensi, dalam penelitian ini sendiri, penulis akan menyebut nama penyalin tersebut tanpa kata al-Khatib.

Selain menyalin teks Tanb¥h al-MŒsy¥, Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga menyalin sejumlah kitab penting lainnya, seperti Fatú al-RaúmŒn karangan Syaikh ZakariyyŒ al-An§Œr¥[3], Tuúfah al-Mursalah IlŒ R´ú al-Nab¥ karya Faèl AllŒh al-Hind¥ al-BurhŒnp´r¥, dll. Selain itu, hingga tahun 2002, ia juga mengarang tidak kurang dari 20 naskah Melayu dalam aksara Jawi, yang kebanyakan berbicara tentang ajaran dan sejarah tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat. Sebagian dari naskah-naskah karangannya itu menjadi sumber utama dalam penelitian ini.

Teks Tanb¥h al-MŒsy¥ versi Sumatra Barat ini merupakan salah satu dari tiga teks yang dibundel menjadi satu naskah. Dua teks lainnya adalah Fatú al-RaúmŒn karangan Syaikh ZakariyyŒ al-An§Œr¥, dan Tuúfah al-Mursalah IlŒ R´ú al-Nab¥ karya Faèl AllŒh al-Hind¥ al-BurhŒnp´r¥. Selain di bagian kolofon, judul teks selengkapnya terdapat juga di bagian depan naskah, yakni Tanb¥h al-MŒsy¥ al-Mans´b ilŒ $ar¥q al-QusyŒsy¥ al-Sya‹‹Œr¥, penyebutan judul ini sedikit berbeda dengan empat salinan kelompok naskah periode sebelum abad ke-20, yang tidak menambahkan kata al-Sya‹‹Œr¥ di belakangnya. Nama penyalin juga tertulis di bagian depan: …ditulis kembali oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin.

Tidak ada penjelasan tertulis kapan dan dari naskah mana naskah ini disalin, tetapi berdasarkan pengakuan dari Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri, ia menyalin naskah tersebut dari naskah milik gurunya, Syaikh Ibrahim di Ampalu Tinggi.[4] Adapun keterangan dalam kolofon naskah sendiri menyebutkan bahwa penyalinan kitab ini selesai pada 18 syawal 1089 H/03 Desember 1678. Dapat dipastikan bahwa tanggal ini tidak merujuk pada waktu disalinnya naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ versi Sumatra Barat ini oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin, melainkan pada naskah milik Syaikh Ibrahim yang menjadi rujukan dalam proses penyalinan. Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga menambahkan bahwa naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ yang ia jadikan rujukan tersebut bukan hasil salinan Syaikh Ibrahim Ampalu sendiri, melainkan hanya koleksinya saja.

Menarik dikemukakan bahwa berdasarkan informasi dalam naskah Muballigul Islam karangan H. K. Deram (w. 2000), seorang guru tarekat Sya‹‹Œriyyah di PS Tandikat, Pariaman, Sumatra Barat, kitab Tanb¥h al-MŒsy¥ pertama kali ditulis oleh al-Sinkili pada 18 Syawal 1080 H/11 Maret 1669 M (Deram 1997: 83). Ini artinya, jarak antara teks Tanb¥h al-MŒsy¥ yang terdapat dalam naskah versi Sumatra Barat dengan teks aslinya (otograf) yang ditulis oleh Abdurrauf al-Sinkili sebetulnya tidak terlalu jauh, yakni sekitar 9 tahun.

Teks Tanb¥h al-MŒsy¥ versi Sumatra Barat ditulis dalam bingkai berukuran 17,5 x 8,5 cm, sementara naskahnya sendiri berukuran 21,5 x 16,5 cm. Teks ini terdapat dalam 5 kuras pertama dari 13 kuras yang ada, sedangkan kuras berikutnya berisi teks Fatú al-RaúmŒn (h. 72-105) dan Tuúfah al-Mursalah IlŒ R´ú al-Nab¥ (h. 106-166). Setiap kuras terdiri dari 8 lembar, yang berarti 16 halaman verso dan rekto. Jumlah baris dalam setiap halaman umumnya adalah 19 baris, kecuali pada halaman pertama 11 baris, dan di beberapa halaman tertentu 24 baris karena terdapat catatan kaki di dalamnya yang menggunakan font lebih kecil.

Penulisan teks dimulai dari verso, sedangkan penomoran halaman terletak di tengah atas setiap halamannya. Tidak terdapat alihan di setiap halaman. Juga tidak terdapat ilustrasi maupun iluminasi dalam keseluruhan halaman naskah.

Teks ditulis dengan tinta cair hitam, dan menggunakan bahasa Arab tanpa harakat dengan menggunakan gaya khat naskh¥. Bentuk tulisan tergolong kecil, tipis, tetapi rapi dan mudah dibaca.

Dibanding dengan semua salinan teks Tanb¥h al-MŒsy¥ periode awal, kandungan teks ini pada dasarnya tidak memiliki perbedaan mendasar, sehingga penulis merasa tidak perlu lagi mendeskripsikannya. Satu hal yang penting dikemukakan bahwa pada beberapa kata tertentu penyalin memberikan terjemahan dalam bahasa Melayu. Selain itu, penyalin juga menambahkan catatan kaki yang berisi penjelasan atas beberapa istilah dan pembahasan yang agak rumit. Tampaknya, terjemahan dan catatan kaki tersebut dimaksudkan untuk lebih memudahkan mur¥d dalam memahami ajaran-ajaran Sya‹‹Œriyyah, karena al-Sinkili sendiri pada beberapa bagian tertentu —misalnya dalam hal teknik zikir dan simbol-simbol asygŒl al-sya‹‹Œr¥— memang tidak menjelaskannya secara detil. Bahkan secara eksplisit al-Sinkili mengatakan bahwa untuk lebih terperincinya mengenai teknik zikir dan penjelasan atas simbol-simbol tasawuf tersebut, harus berdasarkan petunjuk Syaikh atau mursyid (Tanb¥h al-MŒsy¥ h. 25, 26, 28).

Sebetulnya, mengingat popularitasnya, penulis yakin bahwa selain salinan naskah yang telah diperoleh ini, masih ada sejumlah salinan naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ lainnya yang beredar di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan para pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah. Menurut pengakuan Drs. Syamsul Bahri, seorang imam tarekat Sya‹‹Œriyyah yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin, IAIN Imam Bonjol Padang misalnya, ia juga menyimpan salinan Tanb¥h al-MŒsy¥ yang dimilikinya sejak kecil, ketika ia belajar tarekat Sya‹‹Œriyyah dari ayah kandungnya. Sayang, hingga kini yang bersangkutan belum bisa memperlihatkan naskah miliknya itu karena konon katanya sedang dipinjam oleh saudaranya, Syaikh Abdul Razak, yang juga ulama tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat.[5]

Di antara bukti lain bahwa teks Tanb¥h al-MŒsy¥ begitu populer adalah sering dikutipnya kandungan isi teks ini dalam sumber-sumber lokal yang ditulis oleh para ulama Sya‹‹Œriyyah.[6] Selain itu, penulis juga menjumpai sebuah lembaran berisi silsilah tarekat Sya‹‹Œriyyah yang menghubungkan Syaikh Burhanuddin Ulakan dengan gurunya, Abdurrauf al-Sinkili, dan kemudian sampai kepada guru-guru al-Sinkili berikutnya. Dalam lembaran yang tidak diketahui penulisnya tersebut disebutkan bahwa silsilah ini diambil dari kitab Tanb¥h al-MŒsy¥.

Menarik dikemukakan bahwa dalam Muballigul Islam, ketika menyinggung Tanb¥h al-MŒsy¥, H. K. Deram menjelaskan bahwa kitab ini ditulis: “…untuk pedoman oleh kaum muslimin bahwa faham waúdat al-wuj´d dari Hamzah Fansuri itu sesat lagi menyesatkan…” (ibid: 83). Memang, dalam kitab tersebut, al-Sinkili berusaha melakukan waúdat al-wuj´d reinterpretasi atas doktrin waúdat al-wuj´d yang oleh sebagian masyarakat Muslim saat itu dianggap terlalu bersifat filosofis, meskipun —masih menurut al-Sinkili— sikap sebagian Muslim lain yang menghakimi para pengikut ajaran waúdat al-wuj´d tersebut sebagai kafir, juga tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.[7]

5.3. Naskah-naskah Melayu/Minangkabau

Seperti telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, naskah-naskah yang masuk dalam kategori ini adalah naskah-naskah dalam bahasa Melayu atau bahasa Minangkabau yang ditulis oleh empat orang ulama Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin, H. K. Deram (w. 2000), Mukhtar Abdullah Tuanku Sidi (w. 2001), dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Sejauh ini, naskah-naskah karangan ulama Sya‹‹Œriyyah lainnya baru sampai pada tahap identifikasi. Naskah-naskah yang ditulis oleh empat ulama di atas pun sesungguhnya masih banyak yang belum dapat diakses. Mukhtar Abdullah Tuanku Sidi misalnya, diketahui menulis sejumlah naskah yang kini disimpan oleh anak cucunya.[8] Sayang, penulis belum dapat mengakses naskah-naskah tersebut.

Untuk mempermudah pembacaan, naskah-naskah yang telah terkumpul dibagi menjadi dua kelompok: pertama, kelompok naskah yang bersifat ajaran, dan kedua, kelompok naskah yang bersifat kesejarahan. Namun demikian, dalam pemeriannya, yang akan dikemukakan secara detil hanya naskah-naskah yang bersifat ajaran saja, karena hal tersebut sangat diperlukan untuk melihat dinamika ajaran Sya‹‹Œriyyah, dan membandingkan corak dan sifat ajarannya dalam satu naskah dengan naskah yang lain; sedangkan pembahasan atas naskah-naskah yang bersifat kesejarahan, terutama menyangkut kandungan isinya akan dikemukakan di bagian tersendiri. Dalam bagian ini, naskah-naskah yang bersifat kesejarahan tersebut hanya akan diperikan secara singkat saja, terutama dari aspek kodikologinya.

Penting juga penulis kemukakan bahwa semua naskah Sya‹‹Œriyyah Melayu versi Sumatra Barat yang menjadi sumber utama penelitian ini ditulis di atas kertas modern, dan penulis dapatkan dalam bentuk fotokopinya.

5.3.1. Naskah-naskah yang Bersifat Ajaran

a. Pengajian Tarekat

Berdasarkan informasi di bagian kolofon, naskah ini diduga kuat merupakan hasil tulisan seorang mur¥d yang sedang belajar tarekat Sya‹‹Œriyyah kepada gurunya; dalam hal ini sang mur¥d bertindak sebagai penyalin, sementara gurunya adalah pengarang. Proses penurunan teksnya sendiri tampaknya terjadi melalui tradisi lisan, yakni pengarang mengemukakan ide-idenya, kemudian penyalin mewujudkannya menjadi teks tertulis.

Dugaan bahwa proses transmisi teks ini terjadi melalui tradisi lisan diperkuat dengan adanya beberapa istilah tasawuf berbahasa Arab yang sebetulnya sudah baku, tetapi ditulis dengan keliru, antara lain kata tanazzul (turun), ditulis tan©azul, dan kata taraqq¥ (naik), ditulis taruka, kata musyŒhadah, ditulis musyahadŒh, dll. (h. 23). Kesalahan seperti ini sangat dimungkinkan akibat proses penurunan teks secara lisan (imlŒ’). Selain itu, bahasa yang digunakan juga menunjukkan bahasa lisan yang dipakai sehari-hari di Minangkabau.

Oleh karenanya, sangat mungkin proses transmisi teks ini terjadi melalui proses belajar mengajar dalam sebuah pengajian tarekat. Sayangnya, tidak ada keterangan mengenai kapan pengajian tarekat itu berlangsung. Kolofon selengkapnya berbunyi:

“…disalin tarekat ini daripada tarekat Ulakan…Ungku Qadi Ulakan…wassalam, dari si penulis, H.K. Deram, PS Tandikat VII Koto Pariaman, 1-9-1992…”

Dari kolofon di atas, tampak bahwa yang bertindak sebagai pemilik ide atau pengarang adalah Ungku Qadi Ulakan, dan H. K. Deram, yang menyebut dirinya sebagai penulis, bertindak sebagai penyalin. Tentang Ungku Qadi Ulakan sendiri, sejauh ini tidak banyak sumber tertulis lain yang menginformasikan lebih jauh identitasnya. Satu-satunya sumber yang menyebut nama tersebut adalah naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh, karangan Imam Maulana Abdul Manaf Amin, yang akan dideskripsikan di bawah. Dalam naskah ini, pengarang menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang yang ia sebut sebagai Ungku Qadi Yusuf, yang bertindak sebagai kadi di Ulakan:

“…kemudian kami selidiki pula ke Ulakan yang bersangkut sejarah Syaikh Burhanuddin, adakah buku sejarah beliau? Diterangkan oleh Ungku Qadi Yusuf, kadi Ulakan, bahwa sejarah Syaikh Burhanuddin hilang di masa agresi Belanda dahulu…” (h. 4-5).

Dalam naskah tersebut juga diisyaratkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin bertemu dengan Ungku Qadi Yusuf Ulakan menjelang tahun 1993, sedangkan naskah Pengajian Tarekat ini disalin tahun 1992. Artinya, diduga kuat bahwa Ungku Qadi Ulakan yang disebut sebagai pengarang naskah Pengajian Tarekat ini adalah Ungku Qadi Yusuf, yang bertindak sebagai kadi, semacam muft¥, di Ulakan hingga sekitar tahun 1990-an.

Dibanding naskah-naskah lainnya, Pengajian Tarekat tergolong tipis, yakni hanya 33 halaman, dengan 12-14 baris setiap halamannya. Ukuran naskahnya sendiri adalah 21,5 x 16 cm, sedangkan ukuran teksnya 18,5 x 14 cm.

Teks Pengajian Tarekat ditulis dalam bahasa Melayu Minangkabau dengan menggunakan tulisan Jawi berharakat dan bergaya khat naskh¥. Penulisannya sendiri tergolong tidak terlalu rapi, kendati masih bisa dibaca. Penulis mendapatkan fotokopi naskah ini dari Adriyetti Amir, salah seorang dosen di Fakultas Sastra Unand, Padang.

Naskah Pengajian Tarekat ini mengemukakan pembahasan mendalam tentang berbagai ajaran tasawuf, antara lain mengenai hakikat makhluk (baca: manusia), hubungannya dengan Sang Pencipta. Di kalangan penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah sendiri, materi pengajian tarekat ini sering disebut sebagai “pengajian tubuh”.

Disebutkan bahwa tubuh manusia terdiri dari dua sisi: bagian yang kasar (lahir) dan bagian yang halus (batin). Pada hakikatnya, bagian tubuh lahir tidak mempunyai kemampuan dan kehendak apa-apa, karena bagian tubuh batinlah yang menggerakannya. Pengarang menganalogikan hubungan tubuh kasar dengan tubuh halus ini dengan hubungan antara sangkar dan burung di dalamnya, jika burung bergerak, sangkar pun bergerak, demikain halnya jika burung diam, sangkar pun diam (Deram 1992: 1-3):

Hidup tubuh nan kasar dihidup tubuh nan batin
Tahu tubuh nan kasar ditahu tubuh nan batin
Kuasa tubuh nan kasar dikuasa tubuh nan batin
Barkahandak tubuh nan kasar dibarkahandak tubuh nan batin
Mandangar tubuh nan kasar dimandangar tubuh nan batin
Malihat tubuh nan kasar dimalihat tubuh nan batin
Barkata tubuh nan kasar dibarkata tubuh nan batin

Menurut pengarang, pengetahuan atas tubuh lahir dan tubuh batin ini penting untuk sampai pada penghayatan tentang hakikat Allah, karena pada hakikatnya, tubuh batin adalah ruh Allah yang ditiupkan kepada tubuh lahir, dan Dia-lah yang memiliki ‘hidup’, ‘tahu’, ‘kuasa’, ‘kehendak’, ‘mendengar’, ‘melihat’, dan ‘berkata’ tersebut, bukan dirinya sebagai tubuh lahir. Jika seorang sŒlik telah mampu keluar dari sifat-sifat lahiriyahnya, ia akan mengetahui bahwa dalam dirinya hanya ada kehendak Tuhannya, ia sendiri bagaikan mayat yang tidak memiliki kehendak dan keinginan apapun. Keadaan inilah yang disebut oleh pengarang sebagai “mati hakiki”, yaitu mati fana, atau “mati sabanar mati”, sebagai kebalikan dari “mati suri”, yang berarti keadaan mati seperti umumnya. Dalam teks (h. 4-5), pengarang mengatakan:

Tidak nan hidup
Tidak nan tahu
Tidak nan kuasa
Tidak nan barkahandak
Tidak nan mandangar
Tidak nan malihat
Tidak nan barkata
Melainkan Allah

Pengarang juga menganalogikan konsep tubuh lahir dan tubuh batin ini dengan konsep a’yŒn khŒrijiyyah dan a’yŒn £Œbitah. Menurutnya, tubuh lahir adalah a’yŒn khŒrijiyyah yang merasakan berbagai gejala fisik, sedangkan tubuh batin adalah a’yŒn £Œbitah yang wujud dengan sebenar-benar wujud:

“...a’yŒn khŒrijiyyah tubuh nan kasar samangat yang tahu di sakit, padih, haus, dan lapar; a’yŒn £Œbitah tubuh yang halus, si ujud Œm nan sabanar-banar diri; ujud maúad Tuhan yang barnama Allah... (h. 6).

A’yŒn khŒrijiyyah sendiri terdiri dari empat unsur, yaitu: api, angin, air, dan tanah. Dalam tubuh lahir, unsur api berbentuk darah tempat bersemayamnya sifat Tuhan yang bernama al-‘A½¥m, yang Mahaagung; unsur angin berbentuk urat tempat bersemayamnya sifat Tuhan yang bernama al-Qaw¥, yang Mahakuat; unsur air berbentuk tulang tempat bersemayamnya sifat Tuhan yang bernama al-‘Muúy¥, yang Mahahidup dan Menghidupkan; dan unsur tanah berbentuk daging tempat bersemayamnya sifat Tuhan yang bernama al-îak¥m, yang Mahabijaksana. Tanah sendiri berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api berasal dari a’yŒn £Œbitah. Jadi, pada hakikatnya, a’yŒn khŒrijiyyah yang merupakan tubuh lahir, akan kembali kepada a’yŒn £Œbitah, tubuh batin, dan a’yŒn £Œbitah inilah sesungguhnya yang merupakan perwujudan tujuh sifat Tuhan, yaitu: ¥ayŒt, ‘Ilmu, Qudrat, IrŒdat, Sama’, Ba§ar, dan KalŒm (h. 9). Tetapi, kendati sifat Tuhan itu berbilang, pengarang tetap menegaskan bahwa pada hakikatnya sifat dan zat Allah adalah satu (Mahaesa), selain Tuhan adalah hanya bayang-bayang belaka (h. 11).

Hal penting lain yang dikemukakan dalam Pengajian Tarekat adalah tentang pentingnya seorang sŒlik mengikuti segala perilaku Nabi; apapun yang dilakukan Nabi harus diikuti, demikian halnya apapun yang tidak dilakukan Nabi, hendaknya juga dihindari (h. 11-13). Hal yang unik berkaitan dengan kepatuhan ini adalah, pengarang selalu menempatkan posisi Syaikh (mursyid) setelah Nabi, bahkan dalam hal keimanan sekalipun. Artinya, yang harus dipatuhi setelah Allah dan Nabi adalah Syaikh (h. 14):

Bahasa iman percaya akan Allah akan Nabi akan guru
Bahasa Islam manjunjung titah Allah dan titah Nabi dan titah guru
Manjauhi tagah Allah tagah Nabi tagah guru

Dalam naskah ini, pengarang juga mengajarkan tentang kesatuan hamba dengan Tuhannya, meskipun tidak secara mutlak. Menurutnya, seorang hamba yang sudah makrifat sebagai Œbid adalah bayang-bayang Tuhannya sebagai Ma’b´d. Sifat yang ada pada Œbid pada hakikatnya juga adalah sifat Ma’b´d (h. 15-16).

Konsep kesatuan Œbid dan Ma’b´d ini sesungguhnya merupakan bagian dari pembahasan pengarang tentang konsep tauhid (mengesakan Tuhan), yang terdiri dari tiga macam: tauú¥d af’Œl, tauú¥d §ifŒt, dan tauú¥d ©Œt. Artinya, meskipun ada dua entitas, yakni Œbid dan Ma’b´d, namun pada hakikatnya tidak ada aktivitas selain Aktivitas Tuhan (tauú¥d af’Œl), tidak ada sifat selain Sifat-sifat Tuhan (tauú¥d §ifŒt), dan tidak ada zat selain Zat Tuhan (tauú¥d ©Œt). Aktivitas, Sifat, dan Zat Tuhan inilah yang bersifat kekal, sedangkan aktivitas, sifat, dan zat selain Tuhan akan binasa (h. 20).

Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab Pengajian Tarekat ini tampaknya memang merupakan ajaran tasawuf filosofis “tingkat tinggi”. Dalam kitab ini pula misalnya dikemukakan tentang proses penciptaan manusia (h. 20-21). Disebutkan bahwa pada awalnya manusia ini hanya berada dalam pengetahuan Allah, yakni dalam N´r qad¥m, alamnya disebut “alam qudus”; kemudian, manusia turun ke dalam pengetahuan Muhammad, yakni dalam N´r îayŒt, alamnya disebut “alam malakut”; kemudian manusia turun lagi ke alam Adam, yakni N´r Muúammad, alamnya disebut “alam arwah”; kemudian turun lagi ke dalam tulang rusuk sang ayah, yakni N´r Nufah, alamnya disebut “alam ajsam”; dan terakhir manusia berada di rahim ibu, yakni InsŒn KŒmil, dan alamnya disebut “alam insan” (h. 20-21).

Oleh karenanya, pada hakikatnya:

“…daging bukannya daging malainkan tulang dahulunya, karana tulang bukannya tulang malainkan urat dahulunya, karana urat bukannya urat malainkan darah dahulunya, karana darah bukannya darah malainkan a’yŒn £Œbitah dahulunya, a’yŒn £Œbitah bukannya a’yŒn £Œbitah malainkan N´r Muúammad dahulunya, N´r Muúammad bukannya N´r Muúammad melainkan N´r ªŒt AllŒh dahulunya, N´r ªŒt AllŒh bukan turabit (terbit?) sendirinya malainkan bakas si ujud Œm, si ujud Œm itu bukan bardiri sendirinya malainkan berdiri si ujud Œm pada si ujud muúad, makna ujud muúad Zat Allah Taala…” (h. 26-27).

Menarik dikemukakan bahwa dalam uraian di atas, pengarang menghubungkan tahapan proses penciptaan manusia itu dengan tahapan zikir tauhid lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh; kata lŒ dihubungkan dengan alam insan, kata ilŒha dengan alam ajsam, kata illŒ dengan alam arwah, dan kata AllŒh dengan alam malakut. Sedangkan alam qudus, yang merupakan tingkatan tertinggi, dihubungkan dengan zikir H´, yang dalam dunia tarekat memang dianggap sebagai ungkapan zikir paling mendalam.

Tentang zikir sendiri, pengarang menyebutkan adanya empat tingkatan: pertama, zikir jal¥, yang merupakan tingkat zikir terendah, dengan tujuan untuk mensucikan tubuh lahir, kalimat zikirnya adalah lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh; tingkatan kedua adalah zikir khaf¥, dengan tujuan untuk mensucikan hati, kalimat zikirnya adalah AllŒh AllŒh AllŒh; ketiga, zikir sirr¥, dengan tujuan untuk mensucikan nyawa, kalimat zikirnya adalah H´ AllŒh; dan tingkatan zikir tertinggi, atau yang keempat adalah zikir maisyur¥ (?), dengan tujuan untuk mensucikan ruhani, kalimat zikirnya adalah AllŒh H´ (h. 22).

b. KitŒb al-Taqw¥m wa al-êiyŒm

Naskah ini tersimpan sebagai koleksi dari Imam Maulana Abdul Manaf Amin, yang juga sebagai pengarangnya. Informasi tentang waktu penulisan naskah ini terdapat dalam kolofon pada halaman terakhir:

“Maka, selesai ditulis buku Taqw¥m wa al-êiyŒm ini dengan taufik dan hidayat daripada Allah Swt pada hari Isnain, Jumadil Akhir, tahun 1406 H/1986 M, pada kampung Batang Kabung. Ditulis oleh Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin…” (h. 103).

Naskah yang terdiri dari 103 halaman ini berukuran 21 x 15 cm, sedangkan teksnya berukuran 18 x 11 cm, dengan jumlah baris antara 19 hingga 21 baris per halaman, kecuali halaman pertama yang hanya terdiri dari 13 baris, karena di bagian atasnya diisi dengan ilustrasi bertuliskan kata-kata al-taqw¥m ar¥q¥ (taqwim adalah caraku), dan diikuti oleh kalimat basmalah, serta kata-kata AllŒh, Muúammad, Ab´ Bakr, ‘Umar, U£mŒn, dan ‘Al¥.

Teks ini ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Jawi dan khat naskh¥ yang cukup rapih dan mudah dibaca. Pada halaman 25 terdapat ilustrasi tentang jadwal bilangan taqwim.

Pada dasarnya, naskah ini berisi tentang prinsip-prinsip dan cara menghitung bulan (úisŒb taqw¥m) untuk mengetahui awal bulan Qamariyah. Secara khusus, naskah ini juga mengemukakan tuntunan untuk menentukan awal puasa Ramadhan dan awal bulan Syawal melalui metode ru’yat al-hilŒl (melihat bulan). Pengarang mengemukakan berbagai persoalan tersebut dengan mengemukakan dalil-dalil, terutama yang bersumber dari hadis Nabi. Pada halaman kedua, Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“Adapun kemudian daripada itu, maka inilah suatu kitab yang menerangkan masalah úisŒb taqw¥m dan masalah puasa ramadhan, dan hal-hal yang bersangkut dengan keduanya…” (h. 2).

Menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, berdasarkan beberapa petunjuk dalam hadis Nabi, metode úisŒb taqw¥m berlaku untuk menentukan semua bulan Islam, kecuali bulan Ramadhan dan bulan Syawwal. Kedua bulan ini tidak bisa ditentukan melalui metode úisŒb taqw¥m, melainkan melalui ru’yat al-hilŒl (melihat bulan), karena adanya hadis lain yang secara khusus mengatur penentuan awal dua bulan tersebut (h. 36-38).

Lebih dari itu, dan ini yang penting dalam konteks penelitian ini, pengarang menjelaskan bahwa prinsip-prinsip menghitung bulan dan menentukan awal puasa Ramadhan serta awal bulan syawal yang dikemukakannya adalah merupakan salah satu ciri dari praktek beragama para penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah. Oleh karenanya, dalam naskah ini, secara berulang-ulang pengarang mendefinisikan corak beragama kaum Sya‹‹Œriyyah sebagai:

“…yang bermazhab SyŒfi’¥, beri’tikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah, bertasawuf atas tarekat Sya‹‹ar¥, membilang bulan memakai úisŒb taqw¥m, dan memasuki puasa dengan ru’yat al-hilŒl, artinya melihat bulan di malam ketiga puluh Sya’ban…” (h. 72).

Di bagian lain, pengarang juga menjelaskan bahwa ajaran úisŒb taqw¥m serta ru’yat al-hilŒl ini merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran Syaikh Burhanuddin Ulakan, yang mendapatkan pengetahuan dari gurunya, Syaikh Abdurrauf al-Sinkili di Aceh. Dalam hal ini, pengarang menulis:

“Beliau Syaikh Burhanuddin menuntut ilmu pada Syaikh Abdurrauf adalah bermacam-macam ilmu, di antaranya yaitu ilmu tafsir, fikih, naúw §arf (gramatika Arab, pen.), tauhid dan tasawuf. Tasawufnya atas tarekat sya‹‹ar¥, dan ilmu untuk mencari tanggal satu hari bulan arab yang bernama úisŒb taqw¥m…” (h. 69).

Dalam konteks Minangkabau, ajaran úisŒb taqw¥m Syaikh Burhanuddin ini kemudian disebarluaskan oleh murid-murid utamanya, yaitu, antara lain:

1. Syaikh Datuk Maruhun Panjang dari Padang Ganting Batusangkar, yang menyebarkan ajaran úisŒb taqw¥m ini hingga ke Tanah Datar;

2. Syaikh Tarapang (Syaikh Pandan Baico) dari Kubung Tiga Belas Solok, yang menyebarluaskan ke daerah Solok dan Sijunjung;

3. Syaikh Abdul Muhsin (Syaikh Supayang) dari Supayang, yang menyebarluaskan ke daerah Alahan Panjang Muara Labuh dan Lubuk Gadang;

4. Syaikh Muhammad Nasir (Syaikh Surau Baru) dari Koto Tangah Padang, yang menyebarluaskan di Koto Tangah Pauh Lubuk Bagalung Padang, dan sekitarnya;

5. Syaikh Buyung Muda (Syaikh Bayang) dari Bayang Bandar, yang menyebarluaskan ke seluruh Bandar Sibupuluh hingga ke Kuraji; dan

6. Syaikh Jalaluddin Kapeh Kapeh dari Paninjauan Padang Panjang, yang menyebarluaskan ke Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota Payakumbuh.

Imam Maulana Abdul Manaf Amin menegaskan bahwa dengan tersebarnya ajaran Syaikh Burhanuddin ke berbagai pelosok di Minangkabau ini, maka:

“…waktu itu seluruh Minangkabau satu mazhab, yaitu mazhab Imam SyŒfi’¥, satu iktikad yaitu iktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah, satu tasawuf yaitu atas tarekat Sya‹‹ar¥, dan satu bilangan bulan yaitu úisŒb taqw¥m, dan satu cara memasuki puasa, yaitu dengan ru’yat al-hilŒl, artinya melihat bulan di malam ketiga puluh, tidak ada pertikaian…(h. 73).

Perbedaan pendapat, dan kemudian pertikaian, khususnya menyangkut penentuan awal bulan puasa Ramadhan dan awal bulan Syawwal, menurut pengarang naskah ini, baru muncul pada tahun 1207 H/1792 M ketika tarekat Naqsyabandiyah mulai menancapkan akarnya di wilayah Sumatra Barat. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…kemudian pada tahun 1207 H, duduklah mengajar di Kampung Cangking Koto Candung Ampat Angkat Bukit Tinggi, seorang ulama yang dimasyhurkan orang dengan Tuan Syaikh Koto Tuo (Tuan Syaikh Cangking) yang mengajarkan agama Islam yang bermazhab Imam SyŒfi’¥, dan beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah, tetapi dalam tasawuf atas tarekat naqsyabandi, dan untuk memasuki puasa memakai bilangan lima tidak memakai rukyat…Semenjak itulah baru ada pertikaian tarekat dan pertikaian puasa di Minangkabau yang sebelumnya hanya satu saja pengamalan penduduk di Minangkabau ini, tidak ada pertikaiannya…(h. 73-74).

Akhirnya, di bagian akhir, pengarang sedikit mengemukakan tentang penegasan bahwa tarekat Sya‹‹Œriyyah yang dibawa oleh Syaikh Burhanuddin Ulakan tidak mengajarkan dan tidak mengembangkan ajaran waúdat al-wuj´d. Dikemukakannya bahwa:

“…ulama yang menuduh tarekat Syaikh Burhanuddin berfaham waúdat al-wuj´d adalah kurang tahu pada sejarah Syaikh Burhanuddin…di sini kita jelaskan supaya jangan sama pula kita dengan ulama yang buta sejarah itu…(h. 74).

c. RisŒlah M¥zŒn al-Qalb

Naskah ini merupakan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin lainnya, yang juga bertindak sebagai pengarang. Penegasan tentang nama pengarang dan tempat penulisan, terdapat di bagian sampul depan naskah: “…disusun oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin pada qoryah Batang Kabung Koto Tangah Tabing Padang…”. Selain itu, masih di bagian sampul depan, tertulis juga tujuan ditulisnya naskah ini, yakni: “…untuk bahan pertimbangan bagi kaum Muslimin buat beramal ibadat kepada Allah…”; Keterangan tentang nama pengarang, tempat, dan tujuan penulisan naskah ini juga terdapat pada halaman 2, dengan tambahan bahwa penulisannya: “…dibantu oleh yang mulia Abu Syaikh Haji Salif Tuanku Sutan Guru Besar pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah, Batang Kabung, Tabing Padang…”.

Naskah ini berukuran 21 x 15 cm, sedangkan teksnya berukuran 18 x 11 cm, dengan jumlah baris antara 19 hingga 21 baris per halaman, hanya halaman 2 yang terdiri dari 11 baris, karena di bagian atasnya diisi dengan ilustrasi bertuliskan kata-kata AllŒh, Muúammad, Ab´ Bakr, ‘Umar, U£mŒn, dan ‘Al¥, yang diulang sebanyak dua kali. Tebal naskahnya sendiri adalah 208 halaman; yang dihitung mulai dari halaman berisi judul dan identitas penulis, serta berakhir pada dua halaman berisi daftar isi.

Teks RisalŒh M¥zŒn al-Qalb ditulis dengan aksara Jawi, menggunakan jenis khat naskh¥ yang tergolong rapi, sehingga sangat mudah dibaca. Waktu penulisannya, seperti terdapat di bagian mukaddimah, adalah pada tanggal 27 Jumadil Awwal 1410 H atau 26 Desember 1989 M.

Adapun latar belakang penulisan naskah ini dikemukakan oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin:

“Adapun sebabnya maka disusun buku ini adalah berkehendak setengah saudara kita untuk memberi penjelasan tentang adanya dua faham untuk beramal ibadat kepada Allah, yaitu disebut orang Kaum tua (kaum kuno) dan Kaum muda (kaum baru) sehingga kami orang awam merasa ragu-ragu manakah yang akan diikuti…Oleh karena kita banyak membaca buku-buku sejarah dan buku hadis, maka dapatlah saya mengabulkan kehendak saudara-saudara kita itu barang alakadarnya” (h. 3).

Dari ungkapan di atas, naskah ini, menurut pengarangnya, ditulis atas permintaan orang ketiga, dalam hal ini sebagian kalangan Muslim awam, yang meminta fatwa kepada pengarang berkaitan dengan adanya perdebatan antara kelompok Muslim modernis, yang di Sumatra Barat disebut sebagai Kaum Muda dan kaum Muslim tradisionalis, yang dikenal sebagai Kaum Tua, tentang berbagai persoalan ritual keagamaan. Oleh karenanya, naskah ini bisa dianggap sebagai salah satu bentuk fatwa tertulis dari kalangan ulama tarekat Sya‹‹Œriyyah terhadap persoalan keagamaan yang terjadi di kalangan masyarakat Sumatra Barat. Tidak heran kemudian, pengarang mewanti-wanti:

“…oleh karena itu, wahai kaum muslimin, untuk menentukan yang manakah akan kita ikut dan kita amalkan dari salah satu dari faham yang dua ini, maka bacalah berulang-ulang dengan tenang buku ini mudah-mudahan dapatlah kita menentukan pegangan kita…” (h. 6).

Selanjutnya, sesuai dengan tujuan penulisannya, sebagian besar isi naskah ini mengemukakan berbagai persoalan khilafiyah yang menjadi ajang perdebatan antara Kaum tua dan Kaum muda tersebut. Posisi pengarang sendiri— yang tentu saja mewakili pendapat para ulama tarekat Sya‹‹Œriyyah— berada dalam kelompok Kaum Tua, yang berusaha keras bertahan dari “serangan” Kaum Muda, dengan mengemukakan berbagai dalil, baik dari al-Quran maupun hadis Nabi.

Satu hal yang menarik dalam konteks perdebatan ini adalah —seperti juga dikemukakan secara sepintas dalam naskah KitŒb al-Taqw¥m wa al-êiyŒm— adanya sanggahan pengarang atas tuduhan dari kalangan ulama modernis bahwa tarekat Sya‹‹Œriyyah mengajarkan faham waúdat al-wuj´d yang menegaskan kesatuan Tuhan dan alam. Menarik karena dalam naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang ditulis di luar Minangkabau pada sebelum abad ke-20, tarekat ini memang selalu mengemukakan ajaran waúdat al-wuj´d, kendati dengan interpretasi baru, tetapi dalam naskah ini, pengarang —seperti akan dikemukakan lebih detil pada bagian berikut— secara tegas menolaknya.

Menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, akar ketegangan antara Kaum tua dan Kaum muda di Sumatra Barat sesungguhnya telah terjadi pada awal abad ke-19, tepatnya ketika pada tahun 1804 tiga orang ulama modernis asal Minangkabau, yakni Haji Miskin dari Pandai Sikat Padang Panjang, Haji Abdurrahman dari Piyobang, Payakumbuh, dan Haji Sumanik dari Batusangkar, kembali dari menuntut ilmu di Makkah, dan bermaksud mengembangkan faham Wahabi di Sumatra Barat. Ketiga ulama tersebut: “…bermaksud menukar mazhab Syafii dengan mazhab Wahabi di Minangkabau…” (h. 78).

Di antara fatwa-fatwanya, antara lain disebutkan bahwa membacakan tahlil dan mengadakan jamuan makan di rumah orang yang meninggal adalah bertentangan dengan ajaran agama; berziarah ke makam Nabi, makam ulama, dan makam orang-orang saleh adalah perbuatan terlarang; demikian halnya dengan mendirikan bangunan di atas kuburan, sehingga karenanya setiap bangunan yang sudah ada pun harus dihancurkan. Ketiga ulama tersebut juga mengecam keras berbagai ritual keagamaan di Sumatra Barat lainnya yang dianggap sebagai bidah dan penuh khurafat, seperti praktek-praktek tarekat dan tasawuf.

Dalam kenyataannya, dakwah tiga Haji tersebut mendapat tantangan keras, khususnya dari para ulama Minangkabau saat itu yang, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, kebanyakan menganut tarekat, bermazhab SyŒfi’¥ dan beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah, sehingga untuk beberapa lama faham Wahabi tidak mendapat tempat di Minangkabau. Bahkan, sejak paruh terakhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, muncul ulama-ulama lokal di Minangkabau yang merupakan para pembela faham lama. Di antara mereka adalah: Syaikh Abdullah Khatib Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Arsyad Batuhampar, Syaikh Amrullah Maninjau, Syaikh Abdul Manaf Padang Ganting Batusangkar, Syaikh Abdullah Halaban Payakumbuh, Syaikh Said Mangko Payakumbuh, Syaikh Angku Koto tua Koto Tangah Padang, Syaikh Muhammad Salih Padang Kandis Payakumbuh, Syaikh Biyaro Ampat Angkat Bukittinggi, Angku Syaikh Batipuh al-Sya‹‹ar¥ Koto Baru Padang Panjang, Syaikh Angku Lima Puluh Malalo Tanah Datar, Angku Syaikh Surau Gadang Pakandangan Pariaman, dll.

Semua ulama di atas, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, menganut tarekat, khususnya tarekat Sya‹‹Œriyyah, bermazhab SyŒfi’¥, dan beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah. Dan pada gilirannya kemudian, karakteristik keberagamaan seperti inilah yang menjadi watak dan sifat ritual keagamaan para pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat. Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri mendefinisikan ritual yang bermazhab SyŒfi’¥ dan beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah tersebut dengan beberapa faham dan praktek keagamaan sebagai berikut (h. 134-136):

1. melafazkan u§all¥ dalam niat salat;

2. wajib membaca basmallah dalam surat al-fŒtiúah;

3. membaca qunut seraya mengangkat tangan pada salat subuh;

4. menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri melalui ru’yat (melihat bulan);

5. melaksanakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat dan witir 3 rakaat di bulan Ramadhan;

6. mentalkinkan mayat;

7. sunat menghadiahkan pahala bacaan bagi orang yang telah mati;

8. ziarah kubur ke makam Nabi dan orang-orang saleh adalah sunat;

9. merayakan maulid Nabi Muhammad Saw. pada bulan Rabiul Awwal dengan, antara lain, membaca Barjanzi;

10. sunat berdiri saat membaca Barjanzi (asyraqal);

11. sunat menambah kata “wa biúamdih¥” setelah bacaan subúŒna rab¥ al-‘az¥m ketika ruku’ dan subúŒna rab¥ al-a’lŒ ketika sujud;

12. sunat menambahkan kata “sayyidinŒ” sebelum menyebut nama Muhammad;

13. memperingati kematian mayat (tahlil) hingga hari ketiga, ketujuh, dan keseratus;

14. mempelajari sifat Allah yang 20 hukumnya wajib;

15. wajib mengganti (qaèŒ) salat yang tertinggal, baik sengaja atau tidak sengaja;

16. dianjurkan mempelajari tasawuf dan tarekat;

17. sunat membaca zikir lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh berjamaah setelah salat wajib;

18. bertawasul ketika berdoa tidak termasuk perbuatan syirik;

19. menyentuh al-Quran tanpa berwudlu hukumnya haram;

20. wajib mencuci setiap barang yang disentuh anjing dengan tujuh kali siraman air dan salah satunya dengan tanah;

21. bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram membatalkan wudlu;

22. orang yang sedang berhadas besar (jun´b) tidak sah mengerjakan salat malam sebelum mandi;

23. azan pertama dalam sembahyang jumat hukumnya sunat;

24. salat sunat sebelum salat jumat hukumnya sunat;

25. menjatuhkan talak ketika istri sedang haid hukumnya sah;

26. menulis ayat al-Quran dengan huruf latin hukumnya haram;

27. surga dan neraka itu kekal keduanya;

28. al-Quran itu bersifat qad¥m;

29. alam bersifat baru (muúda£);

30. talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus berarti jatuh talak tiga.

Dari beberapa faham dan praktek keagamaan di atas, jelas bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin lebih banyak mengemukakan identitas keberagamaan para pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah dengan persoalan yang bersifat fiqhiyyah fur´’iyyah, di samping persoalan-persoalan teologis (kalŒm). Imam Maulana Abdul Manaf Amin menyatakan bahwa hingga awal abad ke-20, faham dan praktek keagamaan seperti inilah yang dianut oleh umat Islam di Dunia Melayu-Indonesia, bukan hanya di alam Minangkabau (h. 80-81).

Baru kemudian mulai sekitar tahun 1905, muncul beberapa ulama modernis yang kembali setelah belajar di Makkah dengan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang putra Minangkabau yang memperoleh kedudukan tertinggi dalam mengajarkan agama, yaitu sebagai imam dari mazhab SyŒfi’¥ di Masjid al-Haram. Mereka adalah: Haji Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi, Haji Muhammad Taib Umar Sungayang Batusangkar, Haji Abdullah Ahmad Padang Panjang, dan Haji Abdul Karim Amrullah Maninjau. Murid-murid Ahmad Khatib ini mengusung gagasan-gagasan pembaharuan, dan memandang bahwa banyak faham dan praktek keagamaan di Sumatra Barat yang menyimpang, dan oleh karenanya perlu “diluruskan”. Pemikiran keagamaan kempat ulama pembaharu tersebut, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jauz¥, Rasy¥d RièŒ, dan fatwa-fatwa mazhab Wahabi, yang sebelumnya pernah dibawa ke Sumatra Barat oleh Haji Miskin, Haji Piyobang, dan Haji Sumanik (h. 82).

Di antara persoalan yang mendapat perhatian para ulama pembaharu itu adalah ajaran dan praktek tarekat di Sumatra Barat, yang mereka anggap menyimpang dari ajaran Islam, dan karenanya perlu diluruskan, atau bahkan dihapuskan. Tetapi, persoalannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, banyak terjadi penolakan dari Kaum tua yang umumnya bergabung dengan salah satu tarekat, apalagi ayah dari Haji Abdul Karim Amrullah sendiri, yakni Syaikh Amrullah, adalah termasuk salah seorang ulama berpengaruh yang juga seorang Syaikh tarekat. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menggambarkan pertentangan antara Kaum tua dan Kaum muda itu sebagai berikut:

“…mereka kaum muda kebanyakan telah menganggap dirinya lebih alim dari ulama-ulama golongan tua; lama kelamaan terjadilah pertentangan yang ramai di Minangkabau; kaum muda menuduh kaum tua itu kolot amalnya, banyak bercampur bidah dan syirik, sedangkan kaum tua mengatakan pula kaum muda itu pengajiannya sesat lagi menyesatkan…” (h. 90).

Begitu mengakarnya pertentangan antara Kaum Tua dan Kaum muda tersebut, sampai-sampai “upaya damai” yang dilakukan oleh pihak ketiga pun seringkali berakhir dengan jalan buntu. Imam Maulana Abdul Manaf Amin misalnya mengilustrasikan bahwa pada tahun 1918, seorang camat di Koto Tangah Padang, yang dikenal dengan sebutan Menteri Abbas, pernah mempertemukan kelompok ulama Kaum tua yang diwakili oleh seorang Syaikh tarekat Sya‹‹Œriyyah, yakni Syaikh Paseban al-Sya‹‹ar¥ dan para pengikutnya, dengan Haji Abdul Karim Amrullah. Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Camat Muara Panjalanan, dan sebetulnya dimaksudkan untuk menyamakan persepsi tentang penetapan awal bulan Ramadhan itu, terjadi perdebatan antara Syaikh Paseban al-Sya‹‹ar¥ dengan Haji Abdul Karim Amrullah. Masing-masing memberikan argumen atas pandangannya, dan berakhir tanpa ada kesepakatan (h. 90-91).

Seperti telah diisyaratkan di atas, hal yang juga mendapatkan penekanan dalam naskah ini adalah mengenai pembelaan ulama Sya‹‹Œriyyah bahwa tarekat ini tidak mengajarkan ajaran dan faham waúdat al-wuj´d, tetapi justru sebaliknya, menolak faham tersebut. Pembelaan ini dikemukakan berkaitan dengan ungkapan dari beberapa ulama kemudian, antara lain Hamka, putra dari Haji Abdul Karim Amrullah, yang mengatakan bahwa tarekat Sya‹‹Œriyyah memang mengajarkan faham tersebut. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…menurut keterangan dalam buku yang bernama Islam dan Adat Minangkabau karangan Doktor Hamka…tarekat Sya‹‹Œriyyah Ulakan adalah membela faham waúdat al-wuj´d. Faham waúdat al-wuj´d itu adalah faham Syaikh Ibnu ‘Arab¥ dan Syaikh al-îallŒj yang disiarkan oleh Syaikh Hamzah Fansuri di Aceh di Abad ke 17, kemudian menjalar ke Minangkabau…” (h. 59).

Atas keterangan tersebut, Imam Maulana Abdul Manaf Amin mengatakan:

“…berhubung dengan keterangan Doktor Hamka yang bersangkut dengan tarekat Sya‹‹ar¥ Ulakan ini, maka uraian Doktor Hamka ini adalah tidak tepat…” (h. 60).

Sanggahan seperti ini juga dikemukakan Imam Maulana Abdul Manaf Amin menanggapi tulisan Halimuddin, S.H., yang disebutnya sebagai “…seorang guru atau muballig yang memberikan pengajian dan penerangan yang bertablig dari surau ke surau dan masjid ke masjid di Jakarta dan Lampung…” (h. 94). Setelah mengemukakan tulisan Halimuddin, S.H. yang mengatakan bahwa Syaikh Abdurrauf al-Sinkili di Aceh mengajarkan faham waúdat al-wuj´d, Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…dengan keterangan ini jelas benar oleh kita kebohongan keterangan ustaz Halimuddin, S.H. terhadap Syaikh Abdurrauf yang dituduhnya memakai faham waúdat al-wuj´d…” (h. 99).

d. Kitab Menerangkan Agama Islam di Minangkabau Semenjak Dahulu Dari Syaikh Burhanuddin Sampai Ke Zaman Kita Sekarang

Seperti halnya RisŒlah M¥zŒn al-Qalb, naskah ini juga merupakan salah satu karangan Imam Maulana Abdul Manaf Amin yang tersimpan dalam koleksi perpustakaan pribadinya di surau Batang Kabung, Koto Tangah Padang, Sumatra Barat. Seperti tertulis pada kolofon di halaman terakhir, Imam Maulana Abdul Manaf Amin selesai menulis naskah ini pada hari Jumat 24 Safar 1422 H/17 Mei 2001.

Ukuran naskah ini juga tidak jauh berbeda dengan RisŒlah M¥zŒn al-Qalb, yakni 21 x 14 cm, dengan ukuran teksnya 18 x 11 cm. Jumlah barisnya juga berkisar antara 19 hingga 21 baris per halaman, hanya halaman 2 yang terdiri dari 16 baris, dan diawali dengan halaman pembuka berupa kutipan ayat al-Quran dan bacaan basmalah. Teks Kitab ini ditulis dengan aksara Jawi, menggunakan jenis khat naskh¥ yang tergolong rapi, sehingga sangat mudah dibaca.

Kendati jika memperhatikan judulnya, naskah ini seperti bersifat kesejarahan, namun dalam pembahasannya pengarang lebih banyak mengemukakan corak dan sifat ajaran yang dipahami dan dilaksanakan oleh para pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah, atau yang disebut oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin sebagai iktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah. Ini bisa dimaklumi karena tujuan ditulisnya naskah ini adalah:

“…untuk menerangkan perkembangan agama Islam semenjak datang Tuan Syaikh Burhanuddin sampai kepada masa kita ini, bagaimanakah peramalannya, mula-mula datang agama Islam, dan bagaimana iktikadnya, sebab amal ibadat yang kita sekarang ini bermacam-macam coraknya…” (h. 2-3).

Tampaknya, yang dimaksud dengan bermacam-macam corak Islam oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin ini adalah lebih merujuk pada beragamnya tatacara melakukan ritual ibadat yang bersifat fiqhiyyah fur´’iyyah seperti yang telah dikemukakan dalam RisŒlah M¥zŒn al-Qalb. Ia lebih jauh misalnya menjelaskan:

“…ada memakai u§all¥ ada yang tidak, ada pula yang memasuki puasa menilik hilal lebih dahulu dan adapula cukup dengan melihat almanak saja, ada yang sembahyang tarawih dua puluh ditambah witir tiga, dan adapula yang delapan rakaat ditambah dengan witir tiga rakaat…” (h. 3).

Secara lebih spesifik dan lebih detil lagi, Imam Maulana Abdul Manaf Amin menyebutkan bahwa corak Islam yang dianggap telah menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat Minangkabau adalah bersumber dari faham Wahabi yang dibawa oleh tiga Haji, yakni Haji Miskin, Haji Piyobang, dan Haji Sumanik. Dalam naskah ini, Imam Maulana Abdul Manaf Amin mendaftar beberapa ajaran dan faham, yang ia sebut sebagai “pengajian mazhab Wahabi”, yakni:

1. perayaan maulid Nabi adalah bidah, dan karenanya harus dilarang;

2. berzikir kalimat lŒ ilaŒha illŒ AllŒh bersama-sama setelah salat wajib adalah bidah;

3. dilarang merokok, karena tembakau itu berasal dari kencing syaitan;

4. ziarah kubur adalah perbuatan syirik;

5. dilarang mendirikan bangunan (gubah) di atas kuburan;

6. bertawasul dalam berdoa adalah perbuatan musyrik;

7. membaca u§all¥ dalam niat salat adalah bidah;

8. membaca qunut dalam salat subuh adalah bidah;

9. dilarang keras mengajarkan dan mempelajari tarekat;

10. talak tiga sekaligus hukumnya hanya jatuh satu;

11. orang yang sedang berjunub boleh mengerjakan salat malam dengan tidak mandi terlebih dahulu;

12. al-Quran itu bersifat baru, bukan qad¥m;

13. alam itu bersifat qad¥m, bukan baru;

14. menghadiahkan pahala bacaan kepada orang yang sudah meninggal tidak akan sampai;

15. salat tarawih yang diajarkan Nabi adalah delapan rakaat dengan witir tiga rakaat;

16. menyentuh al-Quran boleh tanpa berwudlu;

17. benda yang dijilat anjing bukan najis, jadi cukup dibasuh biasa saja;

18. tidak perlu mengganti (qaèŒ) salat wajib yang tertinggal;

19. bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak membatalkan wudlu;

20. azan pertama dalam salat Jumat hukumnya bidah;

21. salat sunat sebelum Jumat hukumnya bidah;

22. membaca sayyidinΠketika menyebut Nabi Muhammad adalah bidah;

23. membaca talqin untuk mayat adalah perbuatan sia-sia;

24. membaca kalimat “wa biúamdih¥” dalam ruku’ dan sujud adalah bidah;

25. ziarah ke makam Nabi hukumnya haram;

26. dll.

Penting ditegaskan bahwa sebagian besar kandungan isi naskah ini memang banyak memiliki persamaan dengan pembahasan dalam kitab kitab karangan Imam Maulana Abdul Manaf Amin sebelumnya, RisŒlah M¥zŒn al-Qalb, terutama mengenai penegasan bahwa pada masa-masa awal, Islam yang berkembang dan dipraktekkan di seluruh alam Minangkabau adalah yang bermazhab SyŒfi’¥, beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah, dengan “definisi” seperti yang telah dikemukakan, dan menganut tarekat Sya‹‹Œriyyah.

Uniknya, iktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah yang dipahami tersebut kemudian dihadapkan secara dikotomis dengan apa yang disebut oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin sebagai “iktikad” waúdat al-wuj´d, sehingga dengan sendirinya, para pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah diajarkan untuk tidak mendukung faham waúdat al-wuj´d tersebut. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…beginilah coraknya agama Islam yang dibawa dan diajarkan Syaikh Burhanuddin yang berkembang di seluruh Minangkabau; satu saja corak amal tidak bertikai, satu mazhab yaitu mazhab SyŒfi’¥, satu tasawuf yaitu tarekat SyattŒr¥, satu bilangan yaitu bilangan taqwim, satu puasa yaitu sama-sama melihat bulan, satu tarawih yaitu tarawih dua puluh selama seratus dua puluh tahun…” (h. 59).

Pada bagian lain ditegaskan lagi:

“…Islam yang beliau kembangkan ialah agama Islam yang bermazhab SyŒfi’¥ dan beriktikad ahl al-sunnah wa al-jamŒ’ah yang berfaham zahirnya kita yang memperbuat batinnya Tuhan yang menjadikan…tidak ada beliau mengajarkan faham yang beriktikad waúdat al-wuj´d…” (h. 117).

Tampaknya, penolakan Imam Maulana Abdul Manaf Amin terhadap doktrin waúdat al-wuj´d adalah karena menurutnya, mereka yang menganut faham tersebut berpendirian bahwa:

“…Allah semuanya, tidak ada alam hanya Allah semata-mata, artinya tidak ada diri kita hanya Allah semata-mata, dari itulah mereka tidak merasa wajib sembahyang yang memakai ruku’ sujud, hanya merasakan Allah semata-mata meliputi seluruh alam, itulah salat dŒ’im namanya, selalu sembahyang…” (h. 70).

Padahal, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, seseorang yang menempuh jalan tasawuf, tetap harus terikat dengan kewajiban-kewajiban syariatnya.

Selanjutnya, satu pembahasan yang tidak terdapat dalam RisŒlah M¥zŒn al-Qalb, dan dikemukakan secara terperinci dalam naskah ini adalah mengenai “peraturan zikir tarekat SyattŒr¥ yang diajarkan oleh Syaikh Burhanuddin kepada murid-muridnya yang telah mengambil baiat tarekat SyattŒr¥”, yakni:

“…memakai talkin zikir, yaitu melazimkan zikir dengan kalimat lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh yang lidah menyebut lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh dan hati mengikutkan maknanya, yaitu tidak jenis nan disembah dengan yang sebenarnya melainkan Allah. Adapun zikir kalimat lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh ini dinamakan zikir nafyi-i£bŒt; artinya di dalam berzikir itu menafikan wujud dirinya dan menisbatkan wujud Allah taala …” (h. 55).

Sebelum membaca zikir nafyi-i£bŒt itu, mur¥d diharuskan bertawasul terlebih dahulu —atau yang disebut oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin sebagai “mengadakan hubungan”— yakni membaca surat al-fŒtihah, yang pahalanya diniatkan untuk Nabi Muhammad Saw, para nabi dan rasul, para sahabat, dan secara khusus untuk Syaikh tarekat, yakni mulai dari Syaikh yang menginisiasi secara langsung, sampai kepada guru-gurunya, dan bahkan sampai kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diyakini sebagai sumber pertama ajaran zikir tarekat Sya‹‹Œriyyah ini (h. 56). Setelah itu, membaca istigfar dan salawat kepada Nabi Saw., membayangkan Syaikh, seraya mengikhlaskan hati untuk melakukan zikir.

Adapun bacaan zikirnya sendiri adalah kalimat lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh atau AllŒh AllŒh, atau H´ H´ yang dibaca sebanyak seratus atau lima ratus kali, dan diakhiri dengan membaca doa sebagai berikut:

أللهم نور قلبي بذكر لا اله الا الله واشرح أرواحي بذكر الله الله واكشف أسراري بذكر هو هو هو واجعلني دواما في الدنيا والأخرة برحمتك يا أرحم الراحمين.

[AllŒhumma nawwir qalb¥ bi ©ikri lŒ ilŒha illŒ AllŒh wa isyraú arwŒh¥ bi ©ikri AllŒh AllŒh wa iksyif asrŒr¥ bi ©ikri H´ H´ H´, wa ij’aln¥ dawŒman f¥ al-dunyŒ wa al-Œkhirati bi raúmatika yŒ arúama al-rŒúim¥na]

“Ya Allah, terangilah hatiku dengan bacan zikir lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh, lapangkan ruhku dengan bacaan zikir AllŒh AllŒh, bukakan rahasiaku dengan bacaan zikir H´ H´, dan kehendakilah aku untuk senantiasa membacanya di dunia dan di akhirat, berkat rahmat-Mu wahai Zat yang Maha Penyayang.”

Tentang waktu zikir, Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjelaskan bahwa Syaikh Burhanuddin Ulakan mengajarkan agar zikir tarekat Sya‹‹Œriyyah tersebut dibaca lima kali sehari, yakni setiap selesai salat lima waktu, atau minimal sekali sehari. Jika zikir tersebut dibaca setelah salat magrib, maka hendaknya didahului dengan salat sunat dua rakaat, kemudian duduk bersila menghadap kiblat, telapak kaki kanan ditumpangkan di atas lutut kiri, kedua tangan diletakkan di di atas dua lutut, seraya memejamkan mata.

Selain itu, Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga mengutip 20 etika zikir tarekat Sya‹‹Œriyyah yang dikemukakan oleh Abdurrauf al-Sinkili dalam Tanb¥h al-MŒsy¥, yakni 5 perkara sebelum zikir, 12 perkara tatkala zikir, dan 3 perkara setelah zikir.[9]

Di bagian terakhir, Imam Maulana Abdul Manaf Amin mengemukakan tentang syarat yang harus dilalui oleh seseorang yang hendak masuk dalam dunia tarekat, yakni harus melakukan bai’at terlebih dahulu kepada Syaikh tarekat (h. 128-129). Mur¥d yang hendak melakukan bai’at diharuskan melakukan beberapa hal berikut:

1. berwudlu;

2. bersalaman dengan semua jamaah tarekat yang hadir;

3. meletakkan tangan kanan di bawah tangan kanan Syaikh; kemudian Syaikh membacakan lafaz bai’at, yaitu kutipan dari al-Quran surat al-Fatú ayat 10;

4. duduk bersila, dengan menumpangkan telapak kaki kanan di atas lutut kiri, dan meletakkan dua telapak tangan di atas lutut;

5. mengikuti zikir yang diajarkan Syaikh, yakni kalimat lŒ ilŒhŒ illŒ AllŒh dimulai kalimat lŒ ilŒha dari kiri ke kanan, kemudian kalimat illŒ AllŒh dihunjamkan ke susu kiri sebanyak tiga kali;

6. membaca zikir tersebut kira-kira seratus kali;

7. berdoa yang dipimpin oleh Syaikh;

8. mendengarkan “pengajian tarekat”, yakni tentang beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh seorang mur¥d tarekat.

Selain itu, Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan pemberian ijazah dan khirqah oleh khalifah tarekat Sya‹‹Œriyyah kepada mur¥d yang dianggap telah berhasil mencapai maqam hakikat, dan berhak pula menyandang predikat sebagai khalifah tarekat. Dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan khirqah adalah: “…kain putih alas baiat menerima ijazah yang diberikan kembali oleh maSyaikh kepada murid yang menerima ijazah…kain putih yang diberikan maSyaikh itu dipakainya tanda telah menerima ijazah tarekat, dan dianggapnya barang suci dan menjadi kenang-kenangan olehnya…” (h.. 127).

Jadi, pemberian khirqah dan ijazah adalah simbol telah lulusnya seorang mur¥d dalam jenjang tarekat, dan perubahan status dirinya dari mur¥d menjadi seorang khalifah tarekat yang juga berhak memberikan ijazah kepada mur¥d berikutnya. Menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, sesaat setelah seorang masyŒikh memberikan ijazah kepada seorang mur¥d, hendaknya masyŒikh menyampaikan nasihat kepada mur¥d tersebut agar mengamalkan ilmunya, berakhlak mulia, tidak bersikap takabur (tinggi hati), tidak berdusta, meninggalkan sikap riya, dengki (hasad), tama’ (mengharap pemberian orang), dan berbagai watak tidak terpuji lainnya.

5.3.2. Naskah-naskah yang Bersifat Kesejarahan

a. Muballigul Islam

Dibanding dengan beberapa naskah lainnya, asal-usul naskah ini lebih detil karena kolofon yang terletak di bagian akhir memberikan informasi yang cukup lengkap, baik tentang penulis maupun waktu dan tempat penulisannya. Tentang asal-usul tulisannya, disebutkan bahwa “…sejarah ini adalah berdasarkan dari Angku Paseban, Padang Luar Kota…” (h. 236). Dalam kalimat di atas, penulis menyebut naskah ini sebagai “sejarah” karena isinya memang tentang riwayat tiga ulama Sya‹‹Œriyyah, yaitu Syaikh Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Burhanuddin Ulakan, dan Syaikh Muhammad Nasir.

Sebetulnya, jika hanya memperhatikan pernyataan penulis naskah ini, tidak dapat dipastikan apa yang dimaksud dengan kalimat “berdasarkan dari” di atas, apakah naskah ini disalin dari sebuah naskah yang ditulis oleh Angku Paseban, atau hanya substansi isinya saja yang bersumber dari Angku Paseban tersebut, sedangkan redaksinya dari penulis sendiri. Akan tetapi, dalam sebuah salinan naskah lain tulisan Imam Maulana Abdul Manaf Amin, berjudul Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh, yang ternyata memiliki persamaan, baik redaksi maupun sistematikanya dengan riwayat Syaikh Abdurrauf al-Sinkili dalam naskah Muballigul Islam ini, disebutkan bahwa:

“…adapun buku sejarah Syaikh Abdurrauf ini saya salin dahulu di Surau Paseban pada tahun 1936 M dari buku kepunyaan Syaikh Paseban…”

Oleh karenanya, dapat dipastikan bahwa naskah Muballigul Islam ini merupakan salah satu turunan dari sebuah varian Muballigul Islam lain milik Syaikh Paseban. Surau Paseban sendiri tampaknya memang pernah menjadi semacam “scriptorium”, atau salah satu tempat penulisan, bagi naskah-naskah keagamaan di Sumatra Barat. Hingga kini, di surau tersebut dijumpai sejumlah naskah, baik berbahasa Arab maupun Melayu, yang —sayangnya— kurang terawat baik.

Syaikh Paseban sendiri (w. 1937) diduga kuat merupakan orang pertama yang menyusun naskah Muballigul Islam. Dugaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa tokoh yang ditulis dalam naskah Muballigul Islam, yakni Syaikh Muhammad Nasir (Syaikh Surau Baru) adalah guru tarekat Sya‹‹Œriyyah yang memiliki hubungan dekat dan sangat istimewa dengannya.[10] Tentang identitas penulis atau penyalin sendiri, disebutkan di bagian akhir: “…sekianlah dari saya yang menulis atau menyalinnya…wassalam dari saya, si penulis H.K.T. Deram…”. Tambahan informasi tentang identitas penyalin ini terdapat dalam kolofon sebuah naskah lain yang berisi bermacam-macam doa. Dalam naskah terebut H.K.T. Deram menulis:

“…saya yang menulis nama Deram gelar Khatib Bandaharo, suku Jambak, Desa Pulau Air, Tandikat, Tujuh Koto Pariaman…” (lihat Doa 1).

Adapun waktu penyalinan naskah ini adalah mulai hari Sabtu, 16 Nopember 1996, dan selesai pada hari Kamis, 2 Januari 1997 di PS Tandikat VII Koto Pariaman. Naskahnya sendiri berukuran 21,5 x 16,5 cm, sedangkan teksnya berukuran 19 x 14 cm, dengan jumlah keseluruhan 236 halaman, dan rata-rata 15 baris pada setiap halamannya. Penulisan teks menggunakan huruf naskh¥ yang tergolong rapi dan mudah dibaca.

Menarik juga dikemukakan bahwa di bagian sampul depan naskah ini terdapat tulisan “…disalin oleh Mukhtar Abdullah Tuanku Sidi di Pasir Lawas Kecamatan Lubuk Alung, 2-1-1997…”. Melihat karakteristik huruf, tulisan, serta tanggal yang sama persis dengan huruf, tulisan, dan tanggal penulisan dalam teks utama, catatan ini tampaknya juga ditulis oleh H.K. Deram pada saat menyelesaikan penulisan naskahnya, dan mungkin dimaksudkan untuk memberikan informasi bahwa teks ini juga telah disalin oleh Mukhtar Abdullah Tuanku Sidi, seorang guru tarekat Sya‹‹Œriyyah di Desa Pasir Lawas, Lubuk Alung.

Masih di bagian sampul depan, terdapat catatan yang agak janggal, yakni menyebutkan bahwa naskah ini “…menerangkan riwayat tiga orang muballig agama Islam di Sumatra Minangkabau…”, padahal seperti telah dikemukakan, naskah ini mengemukakan tentang riwayat hidup dan riwayat pendidikan tiga ulama yang sangat berjasa mengembangkan tarekat Sya‹‹Œriyyah, di Aceh dan di Sumatra Barat, yaitu Syaikh Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Burhanuddin Ulakan, dan Syaikh Muhammad Nasir, atau yang lebih masyhur di Sumatra Barat dengan sebutan Syaikh Surau Baru. Selain itu, juga dikemukakan mengenai corak dan sifat ajaran Islam, khususnya menyangkut tarekat Sya‹‹Œriyyah yang dikembangkan oleh tiga ulama tersebut.

Naskah Muballigul Islam tampaknya sangat populer di kalangan penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, sehingga banyak di antara mereka yang berusaha menyalinnya. Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri dipastikan pernah menyalin naskah tersebut pada tahun 1936 di surau Paseban, setahun sebelum Syaikh Paseban berangkat ke, dan meninggal di, tanah Suci Makkah. Bahkan, untuk memenuhi “permintaan pasar”, Imam Maulana Abdul Manaf Amin pernah mendanai penerbitan naskah ini melalui Penerbit Saadiyah, Padang Panjang pada tahun 1976. Dan, edisi cetak tersebut juga segera habis di pasaran (lihat naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau, h. 4-5).

Salinan naskah yang penulis gunakan sendiri merupakan hasil fotokopi dari naskah milik Ustaz Agus Salim, seorang pengikut tarekat Sya‹‹Œriyyah di Tandikat, Pariaman.[11]

b. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh

Naskah ini berukuran 20,5 x 14,5 cm, sedangkan teksnya berukuran 18 x 10,5 cm, dengan rata-rata 19 baris pada setiap halamannya. Tebal naskahnya adalah 128 halaman. Penulisan teks ini menggunakan huruf naskh¥ dengan tinta hitam.

Seperti telah dikemukakan, teks dalam naskah ini merupakan varian lain dari teks yang terdapat, dan menjadi bagian dari, naskah Muballigul Islam di atas. Penulisnya, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin, mengakui bahwa ia memang menyalin naskah tentang sejarah tiga orang ulama Sya‹‹Œriyyah tersebut, dan memecahnya menjadi tiga buah naskah yang terpisah. Selengkapnya, Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…adapun buku sejarah Syaikh Abdurrauf ini saya salin dahulu di Surau Paseban pada tahun 1936 M dari buku kepunyaan Syaikh Paseban, seorang ulama besar di Minangkabau yang waktu itu beliau telah berumur 120 tahun…juga dalam buku itu terdapat sejarah Syaikh Burhanuddin dan Syaikh Surau Baru…kemudian saya bermaksud hendak memerincikan buku itu…” (h. 3).

Kendati Imam Maulana Abdul Manaf Amin mengakui bahwa ia pernah menyalin naskah tentang sejarah Syaikh Abdurrauf al-Sinkili pada tahun 1936, namun dapat dipastikan bahwa salinan naskah yang penulis dapatkan ini bukanlah yang ditulis pada tahun 1936 itu, melainkan versi kemudian.

Hal tersebut didasarkan pada catatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri di bagian pendahuluan naskah ini yang mengatakan bahwa ia telah menulis kembali naskah ini setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan berziarah ke Aceh pada hari Jumat, 17 Jumadil Akhir 1395 H/27 Juni 1975 M, bersama gurunya, Buya Angku Haji Salif (Tuanku Sutan Guru Besar Madrasah Islamiyah Batang Kabung), dan dua orang lainnya, yakni Ustaz Yasin dan Ustaz Agus Salim yang telah disebut di atas.

Di Aceh, Imam Maulana Abdul Manaf Amin melakukan semacam cross-check kepada seorang ulama yang menjadi kuncen di makam Syaikh Abdurrauf al-Sinkili, yakni Syaikh Ibrahim, untuk memastikan bahwa naskah tentang riwayat hidup Abdurrauf al-Sinkili yang pernah disalinnya tidak mengandung kesalahan, dan oleh karenanya dapat disebarluaskan.

Selain itu, motivasi lain Imam Maulana Abdul Manaf Amin dan gurunya pergi ke Aceh, selain untuk berziarah, adalah karena di Sumatra Barat juga terdapat beberapa versi lain tentang riwayat Syaikh Abdurrauf al-Sinkili ini yang mengandung beberapa perbedaan, seperti naskah karangan Angku Sidi Jumadi Padang Sari, naskah karangan Ambas Mangkuto, dan naskah karangan Tuanku Tahiruddin, yang menjadi pengurus makam Ulakan.[12]

Cross-check semacam ini juga dilakukan oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin untuk memastikan kesahihan riwayat hidup Syaikh Burhanuddin Ulakan, dengan bertanya kepada Ungku Qadi Yusuf, yang menjadi Qadi di makam Ulakan. Setelah merasa yakin bahwa naskah yang dipegangnya tidak mengandung kesalahan, dan tidak ada riwayat lain yang lebih lengkap, Imam Maulana Abdul Manaf Amin melanjutkan menyalin kembali naskah “sejarah” yang ia salin di Paseban itu dengan memecahnya menjadi tiga naskah seperti telah dikemukakan.

Waktu persisnya penulisan kembali naskah ini tampaknya juga agak berselang lama setelah ziarah ke Aceh dan Ulakan tersebut. Dalam naskah yang akan dikemukakan berikut berjudul Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau, yang ditulis pada 15 Dhul Qa’dah 1413 H/7 Mei 1993 M, juga oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin, disebutkan bahwa:

“…yang saya tulis sekarang adalah riwayat Syaikh Burhanuddin saja, nanti kalau Allah mengizinkan akan saya tulis pula riwayat Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala)…” (h. 5).

Dengan catatan tersebut, jelas bahwa naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Abdurrauf (Syaikh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh ditulis oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin setelah tahun 1993 itu.

Adapun riwayat hidup Syaikh Abdurrauf al-Sinkili yang dikemukakan dalam naskah ini dimulai dari asal-usul keluarga al-Sinkili, kemudian dilanjutkan dengan masa pendidikan al-Sinkili di Makkah dan Madinah selama 19 tahun, serta masa kembalinya al-Sinkili ke Aceh dan menjadi pengembang tarekat Sya‹‹Œriyyah di wilayah ini.

c. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau

Seperti telah diisyaratkan di atas, teks dalam naskah ini merupakan varian lain dari teks tentang sejarah Syaikh Burhanuddin yang terdapat dalam naskah Muballigul Islam. Identitas penyalin, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin, terdapat baik di sampul bagian depan maupun bagian pembukaan teks. Naskah ini ditulis pada 15 Dhul Qa’dah 1413 H/7 Mei 1993 M di Batang Kabung, Koto Tangah Padang. Naskahnya sendiri berukuran 20,5 x 14,5 cm, sedangkan teksnya berukuran 18 x 10,5 cm, dengan tebal 136 halaman termasuk daftar isi, dengan rata-rata 18 baris tiap halamannya.

Penting saya kemukakan bahwa teks ini pernah ditransliterasi oleh Adriyetti Amir, dan diterbitkan sebagai edisi khusus Jurnal Puitika di Padang pada Agustus 2001. Akan tetapi, berbagai kutipan dalam penelitian ini sendiri tidak didasarkan pada halaman dalam edisi transliterasi tersebut, melainkan pada halaman dalam naskah aslinya.

Di bagian mukaddimah, Imam Maulana Abdul Manaf Amin secara terperinci menjelaskan bahwa latar belakang ditulisnya kembali naskah ini adalah karena banyaknya permintaan dari “pencinta Syaikh Burhanuddin” untuk memiliki naskah tentang sejarah Syaikh Burhanuddin yang pernah beredar di Ulakan. Dapat dipastikan bahwa “naskah Ulakan” yang dimaksud adalah berjudul Muballigul Islam yang berisi tentang riwayat tiga tokoh ulama Sya‹‹Œriyyah seperti telah dikemukakan di atas.

Sayangnya, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin, setelah agresi Belanda II pada 1948, naskah Ulakan tersebut hilang, sedangkan salinan naskah yang ia miliki pun kondisinya telah rusak. Saat itu, Imam Maulana Abdul Manaf Amin mengusahakan untuk memperbanyak salinan naskahnya melalui pencetakan, tidak tulisan tangan, dan hal itu berhasil dilakukan pada tahun 1976 dengan dicetaknya naskah Muballigul Islam oleh Percetakan Sa’adiyah, Padang Panjang.

Akan tetapi, tidak berapa lama, menurut Imam Maulana Abdul Manaf Amin:

“…buku sejarah yang dicetak itu sudah habis pula, permintaan hendak mempunyai buku sejarah itu masih banyak juga. Maka saya usahakanlah menulis buku itu kembali tetapi tidak seperti yang dalam buku Muballigul Islam itu yang dalamnya meriwayatkan tiga orang Syaikh itu, akan tetapi yang saya tulis sekarang adalah riwayat Syaikh Burhanuddin saja…” (h. 5).

Riwayat Syaikh Burhanuddin yang diuraikan dalam naskah ini mencakup asal-usul keluarga, guru pertamanya, pengalaman dan kelebihan Syaikh Burhanuddin selama belajar dengan Syaikh Abdurrauf al-Sinkili di Aceh, perjuangannya mengembangkan Islam di Sumatra Barat, serta masa wafatnya.

Kendati menurut pengakuan Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri naskah tentang riwayat hidup Syaikh Burhanuddin yang ditulisnya itu didasarkan pada teks dalam naskah Muballigul Islam, akan tetapi ternyata di bagian akhir terdapat beberapa tambahan yang tidak terdapat dalam teks Muballigul Islam itu, yakni mengenai silsilah tarekat Sya‹‹Œriyyah, tatacara bai’at dan talq¥n, serta tentang pemberian ijazah oleh Syaikh tarekat kepada mur¥d yang dianggap telah mencapai maqam hakikat dan berhak menjadi khalifah. Penjelasan Imam Maulana Abdul Manaf Amin tentang tatacara bai’at, talq¥n, dan pemberian ijazah ini sedikit lebih lengkap dibanding tulisan Imam Maulana Abdul Manaf Amin tentang topik yang sama dalam naskah Kitab Menerangkan Agama Islam …seperti yang dikemukakan di atas.

Penting dikemukakan bahwa selain salinan naskah yang ditulis oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin, penulis juga mendapatkan versi lain dari naskah tentang riwayat Syaikh Burhanuddin Ulakan ini yang ditulis oleh Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Naskah ini ditulis dengan khat naskh¥ yang tidak terlalu rapi, tetapi mudah dibaca. Tebal naskahnya adalah 108 halaman, dengan rata-rata 18 baris tiap halamannya. Naskahnya sendiri berukuran 20,5 x 14,5 cm, dengan ukuran teks 18 x 10,5 cm. Dalam kolofon di bagian akhir, terdapat catatan bahwa naskah ini selesai ditulis di Ulakan pada tanggal 5 Safar 1421 H/9 Mei 2000 M.

Dapat dipastikan bahwa naskah versi Tuanku Bagindo Abbas, yang berjudul lengkap Inilah Buku Sejarah Auliyaullah yang Salih Syaikh Burhanuddin Ulakan Pengembang Agama Islam di Alam Minangkabau Sumatra Barat ini tidak disalin dari naskah yang sama dengan versi Imam Maulana Abdul Manaf Amin, karena kendati sistematika utamanya sama, tetapi ada beberapa perbedaan yang signifikan di dalamnya, baik berkaitan dengan alur cerita, dan terutama redaksinya.

d. Sejarah Ringkas Syaikh Muhammad Nasir
(Syaikh Surau Baru)

Pada mulanya, seperti telah disebutkan di atas, naskah yang menerangkan tentang sejarah Syaikh Muhammad Nasir, atau Syaikh Surau Baru, ini merupakan bagian tak terpisahkan dari naskah Muballigul Islam, yang berisi riwayat tiga tokoh ulama Sya‹‹Œriyyah, yakni Syaikh Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Burhanuddin Ulakan, dan Syaikh Surau Baru. Kemudian, Imam Maulana Abdul Manaf Amin berinisiatif menyalin riwayat masing-masing tokoh tersebut secara terpisah. Oleh karenanya, dapat dipastikan bahwa pengarang pertama naskah ini adalah Syaikh Paseban, yang menyusun naskah Muballigul Islam tersebut.

Dibandingkan dengan riwayat Syaikh Surau Baru yang terdapat dalam naskah Muballigul Islam versi H.K. Deram, teks dalam naskah ini sedikit lebih panjang; beberapa tambahan di bagian akhir tampaknya dilakukan oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin sebagai penyalin, antara lain mengenai Perang Padri, Tarekat Syaikh Surau Baru, sejarah asal-usul bersafar di Batusangkar, hal berkawin, takwil gempa bumi, dll. Tebal naskahnya sendiri adalah 96 halaman, dengan rata-rata 19 baris tiap halamannya.

Menurut catatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin dalam naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan …, penulisan riwayat Syaikh Surau Baru ini dilakukan terlebih dahulu dibanding dua riwayat lainnya. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menulis:

“…berhubung riwayat Syaikh Surau Baru yang ada dalam buku Muballigul Islam sudah dahulu saya salin terperinci, sudah banyak saya fotokopikan sebab banyak pula permintaan untuk memilikinya…” (h. 5-6).

Dari catatan terdahulu diketahui bahwa naskah Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syaikh Burhanuddin Ulakan sendiri selesai disalin oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin pada 15 Dhul Qa’dah 1413 H/7 Mei 1993 M. Oleh karenanya naskah Sejarah Ringkas Syaikh Muhammad Nasir (Syaikh Surau Baru) yang berukuran 20,5 x 14,5 cm, dengan ukuran teks 18 x 10,5 cm ini pasti disalin sebelum masa tersebut.

e. Sejarah Ringkas Syaikh Paseban al-Syattari

Di antara naskah-naskah koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin yang dijadikan sumber utama penelitian ini, naskah yang berukuran 20,5 x 15,5 cm, dengan ukuran teks 18 x 11,5 cm ini merupakan salah satu naskah karangan Imam Maulana Abdul Manaf Amin sendiri. Artinya, Imam Maulana Abdul Manaf Amin tidak hanya bertindak sebagai penyalin, tetapi juga pengarang. Tebal naskahnya hanya 64 halaman, dengan rata-rata 18 baris tiap halamannya.

Di antara latar belakang ditulisnya naskah ini oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin adalah karena:

“…berkehendak sebahagian penduduk Koto Tangah supaya saya dapat menyusun sejarah beliau Syaikh Paseban karena kami hendak mengetahui sejarahnya, sebab beliau seorang ulama besar yang menganut mazhab SyŒfi’¥…” (h. 3).

Selain itu, Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga berharap:

“…mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau Syaikh Paseban saya termasuk golongan orang yang dianjurkan Nabi tadi, orang yang memuliakan ulama…” (h. 4).

Tentang waktu dan tempat penulisannya, Imam Maulana Abdul Manaf Amin mencatat di bagian kolofon:

“…silsilah ditulis sejarah ringkas Syaikh Paseban al-Sya‹‹ar¥ pada hari Sabtu, 29 Jumadil Awwal 1422 H bertepatan dengan 18 Agustus 2001 M pada Mushalla Nurul Huda seberang Batang Kabung…” (h. 63).

Dalam naskah ini, yang mendapat penekanan dari pengarang tampaknya adalah mengenai “petualangan” pendidikan Syaikh Paseban, yang menuntut ilmu agama, dan juga ilmu kanuragan, dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di Sumatra Barat, mulai dari surau Tanjung Medan, tempat Syaikh Burhanuddin pertama kali mengajar, kemudian ke Malalo Padang panjang, Pakandangan, Padang Ganting, dan beberapa tempat lainnya. Dari riwayat yang dikemukakan dalam naskah ini, jelas bahwa Syaikh Paseban adalah murni ulama lokal yang berhasil mendapatkan pengaruh di kalangan penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah khususnya, dan di kalangan masyarakat Muslim Minangkabau umumnya.

Selain riwayat Syaikh Paseban, dalam naskah ini Imam Maulana Abdul Manaf Amin juga memaparkan tentang tarekat yang dianut oleh Syaikh Paseban, yakni tarekat Sya‹‹Œriyyah, kemudian juga tata cara bai’at, pengangkatan khalifah tarekat atau pemberian ijazah, dan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang khalifah tarekat.



[1] Tentang riwayat hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin, lihat naskah otobiografinya berjudul Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin, yang selesai ditulis pada 28 Syawwal 1423 H/9 Nopember 2002 di suraunya sendiri, yang terletak di seberang Air Batang Kabung, Koto Tangah Tabing, Padang. Adapun mengenai silsilah guru-gurunya, akan dikemukakan dalam bab 7.

[2] Dalam tradisi masyarakat di Minangkabau, pengangkatan seseorang sebagai khatib dan imam salat Jumat ini seringkali dirayakan dengan mengadakan jamuan di Mesjid setempat (lihat Amin 2002: 58).

[3] Syaikh ZakariyyŒ al-An§Œr¥ (w. 1520) adalah seorang ulama ahli hadis dan ahli fikih terkemuka yang juga seorang sufi. Ia menulis sejumlah karangan mengenai tasawuf, dan dikenal karena kegigihannya menyelaraskan antara tasawuf dengan syariat. Berbagai karangan al-An§Œr¥, termasuk di dalamnya kitab Fatú al-RaúmŒn, sangat populer di Dunia Melayu-Indonesia. Sejumlah ulama Melayu-Indonesia periode awal, seperti Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf al-Sinkili, Syihabuddin dan Kemas Fakhruddin Palembang, Muhammad Arsyad al-Banjari, dan lain-lain, seringkali menjadikan kitab karangan al-An§Œr¥ tersebut sebagai rujukan utama dalam mengajarkan fikih dan tasawuf (lihat Drewes 1977: 26-38; Azra 1994: 114).

[4] Tentang silsilah guru-guru Syaikh Ibrahim Ampalu Tinggi ini akan dikemukakan secara terperinci dalam bab 7.

[5] Wawancara dengan Drs. Syamsul Bahri, 17 September 2002 di IAIN Imam Bonjol Padang.

[6] Lihat, antara lain, M¥zŒn al-Qalb h. 60; Muballigul Islam h. 83.

[7] Lebih jauh tentang hal ini, lihat Fathurahman 1999.

[8] Wawancara dengan Rohani, cucu dari Mukhtar Abdullah Tuanku Sidi, 14 September 2002 di Pasir Lawas, Lubuk Alung, Pariaman.

[9] Lihat uraian selengkapnya dalam pemerian naskah Tanb¥h al-MŒsy¥.

[10] Lihat Sejarah Ringkas Syaikh Muhammad Nasir, h. 3.

[11] Penulis menyatakan terima kasih kepada Bapak Agus Salim yang telah bersedia meminjamkan naskah-naskah koleksi pribadinya untuk difotokopi.

[12] Salah satu perbedaannya adalah menyangkut lokasi tempat al-Sinkili mengajar, tinggal, dan wafat. Dalam naskah yang dipegang oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin, lokasi tempat al-Sinkili mengajar hingga wafatnya tersebut adalah di Kuala, sedangkan dalam naskah-naskah versi lain —seperti naskah salinan Angku Sidi Jumadi dan naskah salinan Ambas Mangkoto— disebutkan bahwa lokasi al-Sinkili mengajar hingga wafatnya tersebut adalah Sigli (Amin 2002: 65; Amin, Ziarah Kubur, h. 3-4).