Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

7.1.07

Bab 1: Pendahuluan


1. 1. Latar Belakang

Naskah tulisan tangan (manuscript) merupakan salah satu bentuk khazanah budaya, yang mengandung teks tertulis mengenai berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, serta perilaku masyarakat masa lalu. Dibandingkan dengan bentuk-bentuk peninggalan budaya material non-tulisan di Indonesia, seperti candi, istana, masjid, dan lain-lain, jumlah peninggalan budaya dalam bentuk naskah jelas jauh lebih besar (Ikram 1997: 24). Naskah —yang sejauh ini masih sering diabaikan keberadaannya, dan hanya mendapatkan perhatian dari kelompok orang tertentu saja, khususnya para filolog dan pustakawan— sesungguhnya menyimpan makna dan dimensi yang sangat luas karena merupakan produk dari sebuah tradisi panjang yang melibatkan berbagai sikap budaya masyarakat dalam periode tertentu (Baried 1994: 2).

Tradisi penulisan naskah pada masa lalu, di wilayah Indonesia khususnya, dan di Nusantara pada umumnya, tampaknya pernah terjadi dalam rentang waktu yang relatif panjang. Hal ini terutama jika mempertimbangkan jumlah naskah Nusantara tersebut yang luar biasa banyak, tidak terbatas pada bidang kesusastraan saja, tetapi juga mencakup bidang lain seperti filsafat, adat istiadat, sejarah, hukum, obat-obatan, teknik, agama, dan lain-lain. Naskah-naskah tersebut sebagian telah tersimpan di perpustakaan, baik di dalam maupun di luar negeri, dan sebagian lagi masih “tercecer” di tangan masyarakat.[1]

Sejauh penelitian yang pernah dilakukan, beberapa negara dipastikan memiliki koleksi naskah-naskah Nusantara, seperti Belanda, Inggris, Malaysia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Jerman, Prancis, Rusia, dan di beberapa negara lain. Selain itu, tampaknya masih ada beberapa negara yang bisa diduga kuat —kendati masih harus dilakukan penelitian tersendiri untuk memastikannya— memiliki koleksi naskah Nusantara karena pernah mempunyai hubungan sejarah, seperti Cina, Portugal, India, dan Jepang. Sayangnya, upaya untuk menelusuri kemungkinan adanya naskah-naskah Nusantara di negara-negara tersebut belum dilakukan. Bahkan terhadap kemungkinan adanya naskah-naskah Nusantara di beberapa negara Arab, yang jelas memiliki hubungan sejarah dengan wilayah Nusantara pun, hingga kini belum dijajaki. [2]

Di antara berbagai kategori naskah Nusantara, naskah keagamaan (baca: Islam) merupakan salah satu jenis kategori naskah yang jumlahnya relatif banyak. Hal ini tidak terlalu mengherankan, mengingat kenyataan bahwa ketika Islam —dengan segala kekayaan budayanya— masuk di wilayah Nusantara pada umumnya, dan di wilayah Melayu-Indonesia pada khususnya ini, budaya tulis-menulis sudah relatif mapan (Ikram 1997: 139), sehingga ketika terjadi persentuhan antara Islam dan budaya tulis-menulis tersebut, maka muncullah berbagai aktivitas penulisan naskah-naskah keagamaan yang memang menjadi media paling efektif untuk melakukan transmisi keilmuan Islam, baik transmisi yang terjadi antara ulama Melayu-Indonesia dan para ulama Timur Tengah, maupun antarulama Melayu-Indonesia itu dan murid-muridnya.

Selain itu, banyaknya naskah keagamaan —terutama dengan unsur tasawuf— juga terkait dengan kenyataan bahwa kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia hingga dewasa ini secara keseluruhan merupakan hasil dari proses akulturasi manusia Indonesia dengan peradaban Islam yang oleh Edi Sedyawati disebut sebagai salah satu dari tiga pengalaman besar dalam akulturasi di Indonesia.[3] Apalagi, diketahui bahwa sejak abad ke-13, bangsa Indonesia telah didatangi oleh para ulama sufi yang dalam proses penyebaran Islam banyak pula menghasilkan berbagai tulisan, yang kini tersimpan dalam bentuk naskah, menyangkut ajaran-ajaran tasawuf yang mereka sampaikan kepada masyarakat setempat (lihat Azra 1994: 32).

Dalam konteks naskah keagamaan ini, dua pola transmisi keilmuan seperti telah disebut di atas pada gilirannya membentuk pula dua kelompok bahasa naskah: pertama, naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab; dan kedua, naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. Secara keilmuan, naskah-naskah keagamaan tersebut mengandung bidang yang sangat beragam, seperti fikih, tasawwuf, tafsir, hadis, dan lain-lain.

Di antara bahasa daerah di dunia Melayu-Indonesia yang menjadi sarana transmisi berbagai ajaran Islam melalui naskah-naskahnya, bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa yang paling luas pemakaiannya. Hal ini dimungkinkan karena pada abad ke-14 dan 15, ketika proses islamisasi berlangsung, bahasa Melayu sedang menjadi bahasa lingua franca di wilayah ini. Selain bahasa Melayu, bahasa Jawa juga tidak kurang pentingnya sebagai bahasa yang belakangan banyak memperkaya khazanah keilmuan Islam ketika bahasa ini digunakan untuk menuliskan ajaran Islam yang semula disampaikan secara lisan (Ikram 1997: 138).

Seiring berjalannya waktu, dan dengan semakin luasnya cakupan wilayah islamisasi, distribusi naskah-naskah keagamaan tersebut pun semakin luas. Pada gilirannya, ketika naskah-naskah tersebut dibaca, dipahami, dan diresepsi kandungan isinya oleh masyarakat di berbagai daerah, maka muncul pula berbagai bentuk apresiasi dan resepsi dari masyarakat pembacanya, yang kemudian dituangkan juga dalam bentuk penulisan naskah, yang dalam hal ini penulis sebut sebagai “naskah-naskah lokal” —sekadar untuk membedakannya dengan naskah-naskah berbahasa Arab, yang beberapa di antaranya ditulis oleh ulama non Melayu-Indonesia, dan juga menjadi bagian dari khazanah naskah Nusantara. Naskah-naskah lokal tersebut ditulis dalam berbagai bahasa daerah, seperti Melayu, Jawa, Sunda, Aceh, Sasak, dan Wolio.

Dalam perkembangan berikutnya, jumlah naskah-naskah keagamaan tersebut semakin melimpah dengan adanya tradisi penyalinan naskah dari waktu ke waktu. Di beberapa daerah, seperti Sumatra Barat, misalnya, tradisi penulisan naskah-naskah lokal tersebut bahkan masih terus berlangsung hingga saat ini, seiring dengan masih terus berlanjutnya proses transmisi berbagai pengetahuan keislaman di wilayah ini, khususnya melalui jalur tarekat. Tak heran kemudian, jika di Sumatra Barat banyak dijumpai naskah-naskah keagamaan yang ditulis pada awal hingga akhir abad ke-20 ini, oleh para ulamanya.

Dalam konteks ini, keberadaan naskah-naskah lokal menjadi sangat penting karena menggambarkan berbagai bentuk ungkapan masyarakat —dengan bahasanya masing-masing— atas teks-teks yang mereka baca. Umumnya, artikulasi satu masyarakat bahasa, dan masa tertentu akan berbeda dengan artikulasi masyarakat bahasa, dan masa lainnya, kendati pada mulanya mereka membaca teks yang sama, sehingga dengan demikian muncul dinamika yang sedemikian kaya atas teks tersebut. Lebih jauh, kaitannya dengan Islam, naskah-naskah lokal tersebut akan memberikan data yang sangat kaya mengenai dinamika Islam di masing-masing daerah.

Di Sumatra Barat sendiri, di antara naskah-naskah keagamaan yang masih banyak “diproduksi” adalah berkaitan dengan salah satu jenis tarekat yang memang berkembang pesat di wilayah ini, yakni tarekat Sya‹‹Œriyyah. Naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat —baik yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu atau Minangkabau— ini menyimpan banyak informasi dan pengetahuan berharga yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui corak ajaran, dinamika, dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah itu sendiri.

Dalam konteks inilah sesungguhnya penelitian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah menjadi penting. Apalagi, dalam konteks Sumatra Barat, tarekat Sya‹‹Œriyyah merupakan jenis tarekat yang paling awal masuk dan berkembang dibanding tarekat lainnya, seperti Naqsybandiyyah atau SammŒniyyah, sehingga dengan sendirinya, tarekat Sya‹‹Œriyyah telah mengalami persentuhan, dan juga pergolakan, yang cukup lama dan intens dengan berbagai tradisi dan budaya lokal. Sayangnya, dinamika dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat ini belum terekam dengan baik, karena belum banyak penelitian yang dilakukan tentangnya.

Oleh karenanya, penelitian ini, antara lain, dimaksudkan untuk mengisi kekosongan literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah tersebut melalui kajian atas naskah-naskahnya. Penelitian ini pada dasarnya akan memfokuskan pada telaah atas kelompok naskah Sya‹‹Œriyyah yang muncul di Sumatra Barat tersebut.

Yang ingin dilihat melalui penelitian ini adalah sejauh mana naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut menggambarkan dinamika dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah di wilayah ini. Akan tetapi, karena untuk mengetahui adanya dinamika tersebut diperlukan kelompok naskah Sya‹‹Œriyyah lain yang lahir sebelumnya dan diyakini menjadi acuan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat tersebut, maka pembahasan atas kelompok naskah Sumatra Barat tersebut akan dilakukan melalui kajian interteks dengan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang lahir sebelumnya, khususnya naskah yang berbahasa Arab dan Melayu. Bahkan, untuk melacak akar-akar pemikiran dan ajaran yang terdapat dalam naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut ke sumber yang lebih awal lagi, dalam penelitian ini juga disertakan pembahasan atas sumber Arab yang dianggap paling otoritatif berkaitan dengan tarekat Sya‹‹Œriyyah.

Tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat sendiri, dipilih sebagai topik kajian karena, setidaknya, empat alasan:

Pertama, tarekat Sya‹‹Œriyyah, selain merupakan jenis tarekat paling awal yang datang di wilayah ini[4], juga —dan ini yang paling penting— berkembang secara sistematis melalui surau-surau. Perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah, dan juga tarekat lainnya, melalui surau ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang khas di Sumatra Barat, karena, meskipun di wilayah lain, seperti Jawa, misalnya, tarekat juga sebagian berkembang melalui pesantren, tapi dapat dipastikan bahwa lebih banyak pesantren yang tidak mengembangkan tarekat dibanding yang mengembangkannya. Hal yang sebaliknya terjadi di Sumatra Barat, yakni bahwa hampir semua surau keagamaan menjadi basis pengembangan tarekat, dalam konteks penelitian ini, tarekat Sya‹‹Œriyyah, kendati penting dicatat bahwa, di pesantren-pesantren di Jawa yang tidak mengembangkan tradisi tarekat ini, ajaran-ajaran tasawuf, khususnya tasawuf amalinya Imam al-GhazŒl¥, tetap menjadi salah satu pelajaran penting;

Kedua, hingga kini, tradisi penulisan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah dalam bahasa Melayu Kitab di Sumatra Barat masih terus berlangsung, seiring dengan masih banyaknya pengikut tarekat ini yang menamakan dirinya kaum Syattari. Dalam hal ini, sekali lagi penting disebut peran sentral surau yang, dalam konteks Sumatra Barat, telah menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan budaya masyarakatnya (Azra 2003). Hal ini terjadi, karena melalui keberadaan dan peran surau lah, tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan yang telah berumur ratusan tahun tersebut tetap berlangsung, dan menjadi bagian dari identitas kaum Syattari tersebut. Hal ini tentu saja berbeda dengan fenomena tarekat Sya‹‹Œriyyah di wilayah lain, dimana tradisi penulisan naskah di kalangan penganutnya tidak lagi berkembang, melainkan hanya memanfaatkan naskah-naskah klasik yang telah ada sebelumnya;

Ketiga, munculnya berbagai bentuk ekspresi ritual tarekat di kalangan kaum Syattari yang bernuansa lokal, dan mencerminkan sebuah kekhasan tersendiri, sehingga menarik untuk dicermati;

Keempat, belum dilakukannya penelitian secara lebih menyeluruh atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat tersebut, apalagi jika dihubungkan dengan dinamika dan perkembangannya dari waktu ke waktu.

1. 2. Batasan dan Lokasi Penelitian

Sejauh ini, naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang muncul dan tersebar di Sumatra Barat dapat dipastikan terdapat dalam jumlah yang relatif banyak, baik dalam bahasa Arab maupun Melayu, baik yang ditulis sebelum abad ke-20 maupun sesudahnya. Dalam konteks penelitian ini, naskah Sya‹‹Œriyyah Melayu yang dijadikan sebagai sumber utama penelitian dibatasi pada naskah-naskah tulisan tiga orang ulama Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin (lahir 18 Agustus 1922)[5], H. K. Deram (w. 2000), dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan.[6] Alasan dipilihnya tiga penulis tersebut, selain karena naskah-naskahnya bisa dianggap mewakili zamannya, juga karena hingga penelitian ini ditulis, hanya tiga penulis inilah yang bisa diperoleh karya-karyanya, sementara para penulis dan penyalin lainnya —meskipun telah diketahui pasti keberadaan karya-karyanya— hingga kini belum dapat diperoleh karena berbagai alasan.

Adapun kelompok naskah lain yang lahir sebelumnya, dan bisa dianggap sebagai sumber acuan dari naskah-naskah Sumatra Barat tersebut dibatasi pada naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ untuk kelompok naskah Arab, dan naskah Sya‹‹Œriyyah untuk kelompok naskah Melayu, dengan beberapa salinannya. Kedua naskah ini ditulis untuk pertama kalinya di Aceh pada sekitar abad ke-17. Khusus untuk Tanb¥h al-MŒsy¥, karena ternyata juga ditemukan salinan naskahnya di Sumatra Barat, maka salinan tersebut juga akan dikelompokkan sebagai naskah Sumatra Barat versi bahasa Arab.

Untuk memperkaya pembahasan atas dinamika tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat seperti yang tampak dalam naskah-naskahnya ini, penulis juga akan melengkapi pembahasan dengan mengemukakan dua bentuk ekspresi ritual tarekat kaum Syattari yang bernuansa lokal, yakni ritual basapa di Ulakan dan kesenian salawat dulang. Dalam konteks Sumatra Barat, ritual basapa dan salawat dulang ini dapat dianggap sebagai cara lain para penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah dalam mendekatkan diri kepada Tuhannya.

1. 3. Latar BelakangRumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, ada beberapa masalah yang ingin dikemukakan dan akhirnya dicarikan jawabannya melalui penelitian ini, yaitu:

1. Tarekat Sya‹‹Œriyyah yang berkembang di Dunia Melayu-Indonesia pada umumnya, dan di Sumatra Barat pada khususnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi tarekat ini sebelumnya, khususnya yang berkembang di Dunia Arab, dalam hal ini Makkah dan Madinah (Haramayn). Oleh karenanya, menarik dikemukakan bagaimana corak ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah sebelum masuk ke Dunia Melayu-Indonesia seperti tertuang dalam kitab dan naskah-naskahnya?

2. Sejalan dengan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah ini dan persebarannya ke berbagai wilayah di Dunia Melayu-Indonesia, kebutuhan terhadap bahan-bahan tertulis tentang berbagai ajarannya pun segera muncul, khususnya di kalangan para pengikutnya sendiri. Hal ini telah mendorong munculnya penulisan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut dalam berbagai bahasa daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, menarik dikemukakan, bagaimana gambaran tentang khazanah naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut di Dunia Melayu-Indonesia?

3. Salah satu wilayah tempat berkembangnya tarekat Sya‹‹Œriyyah adalah Sumatra Barat. Di Sumatra Barat ini, tarekat Sya‹‹Œriyyah telah menjadi salah satu pilar penting yang turut membentuk tradisi keagamaan masyarakatnya. Sejak awal perkembangannya di wilayah ini, tradisi penulisan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah, baik dalam bahasa Arab maupun Melayu atau Minangkabau, juga telah berkembang dan menghasilkan sejumlah naskah yang menggambarkan corak dan kecenderungan ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah ini. Oleh karenanya, penting diketahui, bagaimana keadaan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat tersebut hingga saat ini? Bagaimana sifat dan kaitan antarnaskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat tersebut? Dan bagaimana pula hubungan kelompok naskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat ini dengan kelompok naskah Sya‹‹Œriyyah yang lahir sebelumnya, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu?

4. Karena tradisi tarekat Sya‹‹Œriyyah yang muncul di Sumatra Barat adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi tarekat Sya‹‹Œriyyah yang berkembang, khususnya, di Haramayn (Makkah dan Madinah), maka menarik dikemukakan, sejauh mana persamaan dan perbedaan ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat seperti tercermin dalam naskah-naskahnya tersebut dengan ajaran dalam sumber-sumber Arab?

5. Diyakini bahwa ketika sampai di Sumatra Barat, ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah seperti yang tampak dalam naskah-naskahnya memiliki corak dan kecenderungan khas, yang relatif berbeda dengan corak dan kecenderungan tarekat ini di daerah lain. Oleh karenanya, menarik dicermati, bagaimana corak ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah dalam naskah-naskahnya tersebut ketika bersentuhan dengan berbagai wacana keagamaan lokal?

6. Tarekat, termasuk di dalamnya tarekat Sya‹‹Œriyyah, adalah sebuah organisasi struktural dalam tasawuf yang melibatkan hubungan keilmuan antara guru dan muridnya melalui jalur silsilah. Oleh karenanya, penting diketahui, bagaimana silsilah keilmuan guru-murid tarekat Sya‹‹Œriyyah tersebut di Sumatra Barat ini?

7. Setelah bersentuhan dengan berbagai tradisi lokal, ekspresi ritual tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat tidak hanya muncul dalam bentuknya yang konvensional, seperti zikir, melainkan dalam berbagai bentuk lain yang sarat dengan nuansa lokal. Oleh karenanya, menarik dikemukakan bagaimana bentuk ekspresi ritual tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat yang bersifat lokal tersebut?

C1. 4. Rumusan Tujuan MasalahPenelitian

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Melacak asal-usul tarekat Sya‹‹Œriyyah, baik menyangkut sejarah dan perkembangannya maupun berkaitan dengan corak dan kecenderungan ajarannya. Meskipun awalnya berkembang di India, akan tetapi, sejauh menyangkut rumusan ajarannya, tarekat Sya‹‹Œriyyah ini lebih banyak dipengaruhi oleh para ulama di Haramayn. Oleh karenanya, upaya untuk mengetahui corak dan kecenderungan ajarannya ini juga akan difokuskan pada kitab dan naskah berkaitan dengan tarekat Sya‹‹Œriyyah yang muncul dan berkembang di Haramayn tersebut.

2. Memberikan gambaran tentang khazanah naskah Sya‹‹Œriyyah berbagai bahasa yang berkembang di Dunia Melayu-Indonesia. Dalam hal ini, kelompok naskah yang akan dikemukakan adalah dalam bahasa Arab, Melayu dan Jawa. Kaitannya dengan penelitian ini, naskah-naskah tersebut, khususnya yang berbahasa Arab dan Melayu, akan dijadikan sebagai bahan untuk menganalisis naskah-naskah Melayu yang muncul di Sumatra Barat.

3. Mengidentifikasi naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang muncul di Sumatra Barat pada abad ke-20, kemudian menjelaskan sifat dan kaitan antarnaskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat tersebut, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu, dan mengemukakan hubungan naskah-naskah tersebut dengan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang lahir sebelumnya.

4. Melacak akar dan sifat ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat yang terdapat pada naskah-naskahnya dalam sumber-sumber Arab, serta menghubungkan dan membandingkannya, untuk kemudian melihat dinamika yang terjadi dalam proses transmisinya.

5. Mengemukakan corak dan kecenderungan ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat seperti tampak dalam naskah-naskahnya, dengan menempatkannya dalam konteks wacana dan pemikiran keagamaan yang berkembang di wilayah ini.

6. Menjelaskan silsilah dan jaringan guru-murid tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat melalui naskah-naskahnya, guna mengetahui kompleksitas hubungan keilmuan yang terjalin di antara para penganut tarekat ini.

7. Menampilkan dua contoh bentuk ekspresi ritual tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat yang bersifat lokal, dan tidak dijumpai di wilayah lain, yakni basapa dan salawat dulang.

D. Tujuan Penelitian

. Manfaat Penelitian

1. 5. Metode Penelitian

Pertama, penting dikemukakan bahwa secara keseluruhan, penelitian ini merupakan kajian kepustakaan, yang dalam pembahasannya akan menggunakan dua pendekatan: pertama, pendekatan filologis, terutama untuk mendeskripsikan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang dikaji; dan kedua, pendekatan sejarah sosial intelektual untuk menelaah kandungan isi teksnya.

Pada dasarnya, sebuah pendekatan filologis bertujuan untuk menjembatani komunikasi antara teks yang tertuang dalam naskah dengan pembacanya. Oleh karenanya, seorang filolog harus melakukan, setidaknya, dua hal: menghadirkan teks yang siap baca, dan melakukan interpretasi atas teks tersebut agar dapat dimengerti oleh khalayak pembaca (Robson 1994: 12). Untuk sampai pada tujuan di atas itulah, dalam penelitian ini, penulis akan mendeskripsikan keseluruhan naskah yang menjadi sumber utama penelitian, dan melakukan analisis kodikologis atasnya.

Akan tetapi, dalam penelitian ini, penulis tidak akan memilih satu teks tertentu untuk dilakukan suntingan atasnya, kendati untuk memenuhi keniscayaan sebuah penelitian filologi, yakni menghadirkan teks yang siap baca, penulis akan menampilkan transkripsi atas salah satu teks naskah Sya‹‹Œriyyah yang penulis anggap paling mewakili kategori naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat.

Adapun tidak dilakukannya suntingan teks dalam penelitian ini adalah karena, setidaknya, tiga alasan:

Pertama, suntingan atas beberapa teks Sya‹‹Œriyyah yang menjadi sumber utama penelitian ini telah dilakukan dalam bentuk penelitian lain, baik yang dilakukan oleh penulis sendiri maupun oleh peneliti lain;[7]

Kedua, tujuan pokok dari penelitian ini adalah untuk melihat dinamika dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah melalui naskah-naskahnya. Dan, untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini meniscayakan dilibatkannya sebanyak mungkin naskah yang berhubungan dengan tarekat Sya‹‹Œriyyah, baik yang bersifat ajaran maupun kesejarahannya. Hal ini jelas tidak memungkinkan dilakukannya suntingan teks yang mengandaikan adanya satu teks saja dengan beberapa varian naskahnya. Selain itu, kebanyakan naskah Sya‹‹Œriyyah yang dijumpai dapat dipastikan bukan merupakan salinan satu dari yang lain;

Ketiga, penulis berpendapat bahwa substansi dari sebuah penelitian filologis sendiri sesungguhnya tidak hanya sekadar kritik teks, yang mencakup perbandingan berbagai bacaan dari naskah-naskah yang berbeda-beda, dan membuat silsilah naskah (stemma). Lebih dari itu, sebuah penelitian filologis idealnya juga sampai pada upaya mengetahui makna dari teks-teks yang dikajinya. Oleh karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seorang filolog belum bisa dianggap telah menyelesaikan tugasnya jika ia belum berhasil mengeluarkan makna dari teks-teks yang dikajinya tersebut (Robson 1994: 13). Karena alasan inilah maka penulis, dalam penelitian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah ini, lebih fokus pada upaya untuk menempatkan pembahasan atas naskah-naskah tersebut dalam konteksnya, dan mengasumsikan keseluruhan naskah tersebut sebagai satu kesatuan yang tidak berdiri sendiri, dan tidak terpisah satu sama lain, baik dalam hal waktu, tempat maupun lainnya.

Untuk melakukan kontekstualisasi atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah itulah, pendekatan kedua, yakni sejarah sosial-intelektual, menjadi penting. Sejarah sosial intelektual dalam pengertian ini dimaksudkan sebagai kajian atau analisis terhadap faktor-faktor sosial intelektual yang mempengaruhi terjadinya peristiwa sejarah itu sendiri (Azra 2002: 4). Dalam hal ini, tarekat Sya‹‹Œriyyah dengan berbagai doktrin dan ajaran dalam naskah-naskahnya akan ditempatkan sebagai faktor sosial intelektual yang turut menentukan sebuah perjalanan sejarah.

Pendekatan sejarah sosial-intelektual ini, pada gilirannya diharapkan dapat menjadi semacam alat bantu untuk mengetahui makna terdalam dari teks-teks Sya‹‹Œriyyah yang dikaji, sehingga teks-teks tersebut dapat dipahami dalam konteksnya yang tepat. Apalagi, beberapa teks Sya‹‹Œriyyah di antaranya bersifat kesejarahan yang —seperti diisyaratkan oleh Hoesein Djajadinigrat— akan sangat penting peranannya karena memberikan gambaran tentang konsep kehidupan dan dunia perasaan sekelompok masyarakat pada kurun waktu tertentu (Djajadinigrat 1983: 318). Dalam penelitian ini sendiri, yang dimaksud dengan sejarah sosial intelektual adalah rekonstruksi ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah yang terdapat dalam naskah-naskahnya, serta telaah atas dinamika dan perkembangannya di tengah-tengah gerakan keagamaan Islam di Sumatra Barat pada umumnya.

Penulis sadar, pendekatan seperti ini dalam kajian naskah —yakni tanpa melakukan suntingan teks dan lebih melihat pada dinamika dan perkembangan apa yang terkandung di dalamnya— belum banyak presedennya dalam sebuah penelitian filologis. Sejauh ini sebuah penelitian filologis memang senantiasa menghadirkan suntingan teks, dan kemudian disertai dengan analisis isi yang seringkali melibatkan berbagai teori sastra modern sebagai piranti untuk mengungkapkan makna dan fungsi teks (Ikram 1997: 2).

Kendati demikian, penulis berpendapat bahwa pendekatan seperti ini dalam penelitian naskah juga akan dapat memberikan sumbangsih berharga, karena dengan demikian dunia filologi tidak berhenti pada rekonstruksi teks dan penyediaan teks-teks yang siap baca bagi para sarjana dalam disiplin keilmuan lain, seperti sejarah misalnya, tetapi lebih dari itu juga melakukan sendiri rekonstruksi sejarah sosial intelektual yang berkaitan dengan teks-teks tersebut.

Penting juga penulis kemukakan bahwa sejauh pengamatan awal, naskah-naskah yang menjadi sumber utama penelitian ini tidak jarang mengandung cerita yang mengandung unsur mitos dan legenda. Dalam hal ini, penulis berpandangan bahwa sampai batas-batas tertentu, cerita mitos dan legenda tersebut memiliki fungsi tersendiri sebagai sumber informasi, karena hal tersebut dikemukakan sebagai tradisi resmi masyarakat, dan disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.[8]

E1. 6. Manfaat Penelitian

Sebagai sebuah penelitian yang menjadikan naskah sebagai sumber utama kajiannya, penelitian ini, antara lain, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan dunia pernaskahan di Dunia Melayu-Indonesia. Sejauh ini, dunia pernaskahan telah menunjukkan perkembangannya yang menarik, terutama setelah filologi sebagai sebuah disiplin ilmu banyak berkembang di beberapa perguruan tinggi.

Pada awalnya, minat untuk melakukan telaah atas naskah-naskah Nusantara masih didominasi oleh para sarjana orientalis Barat saja, khususnya para sarjana dari Belanda (Baried 1994: 45-48, Siti Hawa 1994: 1). Kegairahan para sarjana pribumi sendiri untuk mengkaji naskah-naskah Nusantara tersebut kiranya baru muncul sesudah tahun 1965, ketika mulai terjalin berbagai kerja sama penelitian antara perguruan tinggi di Indonesia dengan sejumlah institusi di luar negeri. Sebelum itu, kepakaran sarjana-sarjana pribumi di bidang pernaskahan ini belum terbina. Achadiati Ikram bahkan menyebut zaman pendudukan Jepang dan periode tahun 1959-1965 sebagai suatu periode kemandekan dalam ilmu pengetahuan budaya (Ikram 1997: 2). Memang, sebelum tahun 1965 tersebut juga telah tercatat, setidaknya nama Hoesein Djajadiningrat R. Ng. Poerbatjaraka, atau M. Prijohoetomo yang menaruh minat besar terhadap kajian naskah-naskah Nusantara, akan tetapi setelah itu, hingga pertengahan tahun 1960-an tersebut, tidak banyak lagi sarjana pribumi yang mengikuti jejak mereka.

Penting dicatat bahwa mulai awal tahun 1960-an pula, berbagai teori sastra, seperti strukturalisme, intertekstualitas, resepsi, beserta tokoh-tokohnya, mulai dikenal oleh kalangan perguruan tinggi, tak terkecuali oleh para peminat kajian naskah. Hal ini tentu saja sedikit banyak mengubah jenis pendekatan dalam penelitian filologi. Jika sebelumnya, kajian naskah lebih diarahkan pada suntingan teks, sejarah teks, dan pengungkapan bahasa atau ajaran yang terkandung di dalamnya, maka setelah dikenalnya berbagai teori sastra tersebut, para filolog —selain tetap melakukan suntingan teks— mendapatkan piranti baru untuk mencari makna teks melalui suatu telaah struktur karya (Siti Hawa 1994: 2).

Dalam era ini, penting disebut sejumlah sarjana yang menerapkan pendekatan baru dalam studi naskah tersebut, seperti Achadiati Ikram dengan penelitiannya atas Hikayat Sri Rama (1979), Partini Pradotokusumo dengan Kakawin Gajah Mada (1984), Edwar Djamaris dengan Tambo Minangkabau (1991), Nafron Hasyim dengan Kisasul Anbiya (1991), dan beberapa sarjana lainnya.

Pendekatan tersebut tentu saja telah memberikan kontribusi besar terhadap dunia pernaskahan khususnya, dan dunia keilmuan umumnya. Para filolog menjadi lebih sistematis dalam upayanya menelusuri makna dan fungsi naskah sebagai sebuah jenis sastra lama (Ikram 1997: 3). Hingga kini, pendekatan kajian naskah dengan memanfaatkan berbagai teori sastra tersebut, khususnya strukturalisme, masih menjadi kecenderungan umum (trend) yang banyak diikuti oleh para pengkaji naskah generasi berikutnya, yang sesungguhnya memang merupakan murid-murid dari generasinya Achadiati Ikram dkk. tadi.

Lebih dari itu, kajian naskah dengan menggunakan pendekatan berbagai teori sastra tersebut juga tidak hanya dimanfaatkan oleh mereka yang mengkaji naskah-naskah sastra, melainkan juga mereka yang memilih naskah-naskah keagamaan sebagai objek penelitiannya. Di antara mereka adalah Amir Fatah (1997), yang meneliti naskah tasawuf al-îikam dengan pendekatan teori strukturalisme dan Fauzan Muslim (1996), yang memilih naskah tasawuf Ibnu ‘Arabi, Kunhu MŒ LŒ Budda Minhu, dengan pendekatan hermeneutik. Penulis sendiri, ketika melakukan penelitian atas naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ (1998), menerapkan kajian intertekstual untuk mengetahui makna dan fungsi teks dalam konteks sosial historisnya.

Dalam konteks studi pernaskahan di atas itulah penulis bermaksud menempatkan manfaat penelitian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat ini. Penulis berharap, melalui kajian atas sejumlah naskah Sya‹‹Œriyyah —dengan tidak terlalu menekankan pada suntingan atas sebuah teks saja, melainkan lebih melihat pada makna sosial intelektual di balik teks-teks terkait— penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap dunia pernaskahan, dengan mencoba menghadirkan pendekatan yang relatif baru.

Selain itu, dari perspektif kajian keislaman di Indonesia sendiri, penelitian ini diharapkan dapat turut memperkaya kajian tentang wacana Islam lokal, terutama untuk mengisi minimnya literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah yang berkembang di berbagai pelosok di Dunia Melayu-Indonesia. Apalagi, penelitian ini mencoba melibatkan naskah dalam dua periode, sebelum dan pada abad ke-20, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu, sehingga hal tersebut dengan sendirinya akan menjelaskan sifat dan tradisi masing-masingnya.

1. 7. Telaah Kepustakaan

Secara umum, kajian tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah, baik menyangkut doktrin dan ajarannya maupun tokoh-tokohnya, pernah dilakukan oleh sejumlah sarjana. Snouck Hurgronje (1906), untuk pertama kalinya mencatat tentang Syaikh Abdurrauf al-Sinkili sebagai tokoh kunci tarekat Sya‹‹Œriyyah di Aceh khususnya, dan di dunia Melayu-Indonesia pada umumnya (Snouck Hurgronje, 1997, II: 13). Akan tetapi, kajian mendalam tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah dikemukakan pertama kalinya oleh D.A. Rinkes (1878-1954), seorang pegawai pemerintah Belanda yang menulis disertasi berjudul Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra en Java. Dalam disertasinya ini, Rinkes, antara lain, mengemukakan tentang riwayat hidup al-Sinkili, tentang zikir tarekat Sya‹‹Œriyyah, dan tentang ajaran martabat tujuh al-Sinkili, khususnya yang berkembang di Jawa (Rinkes 1909).[9]

Selain disertasinya, Rinkes —sebagai “oleh-oleh” dari kunjungannya ke Pamijahan— juga menulis artikel pendek tentang figur Syaikh Abdul Muhyi, salah seorang murid al-Sinkili yang mengembangkan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Pamijahan dan Cirebon, Jawa Barat (Rinkes 1910). Belakangan, artikel yang ditulis dalam bahasa Belanda tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan diterbitkan dalam Gordon (ed.) 1996.

Setelah Rinkes, untuk beberapa lama, kajian yang memfokuskan pada doktrin dan ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah boleh dibilang mengalami kekosongan. Tulisan-tulisan yang muncul —beberapa hanya tulisan singkat saja— kebanyakan tidak mengkhususkan pada pembahasan tentang doktrin dan ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah tersebut, melainkan membahas tentang riwayat hidup Syaikh Abdurrauf al-Sinkili,[10] figur al-Sinkili secara umum,[11] identifikasi kitab-kitab karangannya,[12] atau membahas kitab-kitab non-Sya‹‹Œriyyah karangannya, seperti tafsir, hadis, fikih, dll.[13]

A.H. Johns barangkali merupakan kekecualian ketika ia menulis artikel yang mengemukakan pembahasan atas kitab tasawufnya al-Sinkili, DaqŒ’iq al-îur´f (Johns 1955b). Kitab ini, seperti kitab-kitab tasawuf karangan al-Sinkili lainnya, mengandung berbagai doktrin dan argumen mistis yang belakangan menjadi ajaran pokok dalam tarekat Sya‹‹Œriyyah. Selain artikelnya ini, Johns —kendati tidak secara langsung— sesungguhnya juga sering mengemukakan pembahasan tentang ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah dan figur al-Sinkili dalam sejumlah artikel yang ia tulis tentang Islam di dunia Melayu.[14]

Kekosongan literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah sedikit terisi dengan artikel pendek Wahib Mu’thi (1987) yang mencoba melacak akar-akar tarekat Sya‹‹Œriyyah yang berkembang di Jawa Barat, dari sumbernya di India. Kemudian, berkaitan dengan corak ajaran tarekat Sya‹‹Œriyyah di Jawa Barat ini, penting juga disebut tulisan Aliefya M. Santrie dalam Hasan (ed.) 1987, yang mengemukakan berbagai ajaran tasawuf Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dalam naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang dijumpainya.

Adapun kajian paling mutakhir tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah di Jawa Barat, khususnya yang dikembangkan melalui Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, adalah disertasi Tommy Christomy (2003), yang dalam pembahasannya mencoba menggabungkan dua pendekatan, filologis dan antropologis. Bagian dari disertasi Christomy tersebut juga pernah diterbitkan sebagai artikel dalam jurnal Studia Islamika (Christomy 2001).

Sesungguhnya, mulai akhir paruh kedua abad ke-20, ketika bidang kajian naskah semakin diminati di berbagai perguruan tinggi, kajian atas naskah-naskah keagamaan pun mulai bermunculan, termasuk di dalamnya kajian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah, baik yang berbahasa Arab, Melayu, atau Jawa. Memang, tingkat kedalaman pembahasan dan analisis karya-karya ilmiah di perguruan tinggi tersebut bermacam-macam, sesuai dengan tingkatan studinya, mulai dari skripsi, tesis, sampai disertasi.

Dalam bentuk skripsi, Badri (1975), misalnya, mencoba menampilkan “seadanya” salah satu salinan naskah berbahasa Arab, Tanb¥h al-MŒsy¥ karangan Abdurrauf al-Sinkili. Selain memberikan pengantar, Badri juga menyertakan terjemahan teks —yang mengandung ajaran pokok, baik ajaran filosofis maupun tatacara zikir, tarekat Sya‹‹Œriyyah— tersebut. Pembahasan lebih mendalam atas naskah Tanb¥h al-MŒsy¥ ini, yakni dengan melibatkan empat salinan naskahnya dan menyertakan analisis historis atasnya, dilakukan kemudian dalam bentuk tesis oleh Fathurahman (1998), yang kemudian terbit sebagai Fathurahman 1999. Selain Muhammad Badri di atas, skripsi lain yang mengemukakan pembahasan berkaitan dengan tarekat Sya‹‹Œriyyah adalah Fariza (1989), yaitu tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah di Kraton Kanoman Cirebon, dan Kurniawaty (1995), tentang “Tasawuf Abdurrauf Singkel”. Adapun dalam bentuk tesis, selain Fathurahman, sebelumnya ada juga Istadiyantha (1989) dan Abdullah (1995), yang keduanya melakukan suntingan teks serta analisis isi atas dua salinan naskah Sya‹‹Œriyyah berbahasa Melayu.

Literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah yang ditulis dalam bentuk skripsi sesungguhnya lebih banyak lagi dijumpai di Sumatra Barat, khususnya di IAIN Imam Bonjol Padang.[15] Kendati, sekali lagi, tingkat pembahasannya seringkali tidak terlalu mendalam, tetapi sejumlah skripsi tampak memberikan kontribusi atas gambaran khas ritual tarekat Sya‹‹Œriyyah di beberapa wilayah yang menjadi fokus penulisan. Selain dalam bentuk skripsi, sejumlah laporan penelitian juga mengemukakan pembahasan tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah di beberapa daerah tertentu.[16]

Dalam bentuk disertasi, penelitian tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat juga dilakukan oleh Duski Samad di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (2003). Dalam disertasinya yang berjudul Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme tersebut, Dasuki mencoba melihat fenomena tarekat Sya‹‹Œriyyah dan Naqsybandiyyah sebagai salah satu bentuk tradisionalisme Islam dalam menghadapi arus modernisasi. Yang menjadi fokus perhatian Duski Samad adalah bagaimana Islam tarekat di Sumatra Barat, dalam hal ini tarekat Sya‹‹Œriyyah dan Naqsybandiyyah tersebut dapat bertahan di tengah-tengah arus modernisasi.

Akan tetapi, penting diperhatikan bahwa dari keseluruhan literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat tersebut, tidak ada satu pun di antaranya yang ditulis dengan berbasiskan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah, yang sesungguhnya banyak tersebar di Sumatra Barat sendiri, padahal naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut umumnya ditulis oleh para penganut tarekat Sya‹‹Œriyyah sendiri, sehingga dengan sendirinya akan banyak memberikan gambaran mengenai pemahaman dan ajaran mereka.

Minimnya, atau bahkan ketidaktersediaan, hasil penelitian tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah yang berbasiskan naskah sebagai sumber utama saat ini tampaknya memang merupakan gejala umum, bukan hanya berkaitan dengan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat saja, melainkan juga di Jawa, sehingga gambaran lebih detil tentang dinamika dan perkembangan tarekat ini di dunia Melayu-Indonesia pun masih jauh dari cukup, padahal, sejauh catatan yang terdapat dalam berbagai katalog naskah, dan juga berdasarkan pengetahuan penulis atas naskah-naskah yang berkembang di masyarakat, naskah-naskah tarekat Sya‹‹Œriyyah ini banyak dijumpai dalam berbagai bahasa, baik Arab, Melayu, Jawa, Sunda, dan lain-lain dengan karakteristik dan kecenderungannya yang berbeda-beda.

Untuk melengkapi literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah —khususnya yang berbasiskan naskah-naskahnya— di dunia Melayu-Indonesia inilah, penelitian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat dilakukan. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang dinamika dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, baik menyangkut ajaran maupun tokoh-tokoh yang mengembangkannya.

1. 8. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan, secara umum hasil penelitian ini akan ditulis dengan sistematika sebagai berikut:

Bab 1. Pendahuluan; pada dasarnya, bab ini berusaha menjelaskan tentang latar belakang pentingnya kajian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, yang kemudian dihubungkan dengan upaya mengisi kekosongan literatur tentang dinamika dan perkembangan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat khususnya, dan di dunia Melayu-Indonesia pada umumnya. Dalam bab ini juga dikemukakan berbagai rumusan yang bersifat teoritis dan metodologis, seperti batasan penelitian, rumusan masalah dan tujuan penelitian, pendekatan yang digunakan, manfaat penelitian, telaah kepustakaan, dan, terakhir, sistematika penulisan;

Bab 2. Gambaran Umum Tarekat Sya‹‹Œriyyah; bab ini dapat dianggap sebagai pengantar terhadap pembahasan pada bab-bab berikutnya tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah, terutama dari segi asal-usul dan kesejarahannya. Pembahasan dimulai dari tarekat ‘Isyqiyyah di Iran, atau tarekat Bis‹Œmiyyah di Turki Usmani, yang dapat dianggap sebagai cikal bakal tarekat Sya‹‹Œriyyah, yang baru muncul namanya pada periode kemudian di India. Kemudian, pada bagian berikutnya dari bab ini, pembahasan diarahkan untuk menjelaskan dinamika tarekat Sya‹‹Œriyyah di Haramayn (Makkah dan Madinah), dan selanjutnya menyebar ke Dunia Melayu-Indonesia;

Bab 3. Khazanah Naskah Sya‹‹Œriyyah di Dunia Melayu-Indonesia: Deskripsi Beberapa Naskah Sumber; bab ini mengemukakan deskripsi atas beberapa naskah Sya‹‹Œriyyah periode awal yang menjadi rujukan bagi naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah periode berikutnya. Naskah-naskah yang dimasukkan dalam kelompok ini terdiri dari naskah Arab, Melayu dan Jawa. Selain itu, dalam bab ini juga disertakan dua sumber Arab yang dianggap sebagai sumber rujukan bagi keseluruhan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Dunia Melayu-Indonesia;

Bab 4. Tarekat dan Tradisi Keagamaan di Sumatra Barat; Setelah mengemukakan pembahasan yang bersifat umum, bab ini mulai masuk pada pembahasan yang berkaitan dengan alam Minangkabau yang akan menjadi topik utama penelitian ini. Pembahasan difokuskan pada sejarah dan perkembangan tarekat, termasuk di dalamnya tarekat Sya‹‹Œriyyah, di Sumatra Barat, dikaitkan dengan tradisi keagamaan Islam di wilayah ini. Pembahasan dalam bab ini, —kendati tidak terlalu mendalam— diharapkan dapat menjadi semacam “latar” sosial historis bagi pembahasan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah pada bagian berikutnya. Selain itu, sebelum masuk pada bab tentang deskripsi naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, dalam bab ini terlebih dahulu dikemukakan gambaran umum tentang tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan di Sumatra Barat;

Bab 5. Deskripsi Naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat; bab ini mengemukakan secara kodikologis gambaran keseluruhan naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu, yang menjadi sumber utama penelitian ini. Secara umum, deskripsi naskah yang dikemukakan mencakup tiga hal pokok berkaitan dengan masing-masing kelompok naskah, yakni penjelasan umum, kondisi fisik naskah, dan ringkasan isi teksnya;

Bab 6. Sifat dan Hubungan Antarnaskah Sya‹‹Œriyyah; setelah semua naskah Sya‹‹Œriyyah dideskripsikan, bab ini mengemukakan sifat masing-masing naskah tersebut serta memetakan saling silang hubungan antarnaskahnya —baik hubungan antarnaskah Arab dengan naskah Melayu maupun antarnaskah Melayu dengan naskah Melayu lainnya— dengan tujuan untuk melihat keseluruhan naskah Sya‹‹Œriyyah tersebut sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah satu sama lain. Selain itu, pembahasan tentang hubungan antarnaskah ini juga akan ditempatkan dalam konteks saling-silang hubungan keilmuan di antara pengarang atau penulisnya;

Bab 7. Tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat: Teks dan Konteks; bab ini dapat dianggap sebagai inti dari pemikiran yang ingin disampaikan dalam penelitian ini, sebagai hasil dari analisis atas keseluruhan naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah yang menjadi sumber utama penelitian. Melalui analisis atas naskah-naskahnya, yang kemudian juga dilakukan telaah interteks dengan sejumlah naskah Sya‹‹Œriyyah yang muncul sebelumnya, bab ini menjelaskan bagaimana sifat dan kecenderungan tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat tersebut, serta seperti apa dinamika dan perkembangannya. Bab ini juga mengemukakan silsilah para ulama tarekat Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat sebagaimana terdapat dalam naskah-naskahnya, ditambah dengan informasi dari berbagai sumber lain;

Bab 8. Kesimpulan; sebagai akhir dari pembahasan secara keseluruhan, bab ini mencoba merumuskan butir-butir penting yang berkaitan dengan hasil penelitian atas naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah di Sumatra Barat, baik menyangkut aspek pernaskahannya, maupun aspek keislamannya.



[1] Gambaran lebih lengkap tentang keberadaan naskah-naskah Nusantara dalam berbagai bahasa, khususnya yang telah tersimpan di berbagai tempat penyimpanan naskah di seluruh dunia, lihat Chambert-Loir & Fathurahman 1999.

[2] Di Perpustakaan DŒr al-Kutub Kairo misalnya, sejauh ini penulis baru mengetahui dua judul naskah keagamaan yang berkaitan dengan dunia Islam Melayu. Naskah pertama ditulis menggunakan aksara Jawi berjudul Fur´’ al-MasŒ’il wa U§´l al-WasŒ’il, karangan Syaikh Dawud al-Fattani, yang mengandung pembahasan tentang ilmu fikih, sedangkan naskah kedua ditulis dalam bahasa Arab, berjudul ItúŒf al-ªak¥ bi Syarú al-Tuúfah al-Mursalah ilŒ R´ú al-Nabî, karangan Syaikh IbrŒhîm al-K´rŒnî, salah seorang guru utama Abdurrauf al-Sinkili. Kitab ini ditulis dalam konteks perdebatan tentang konsep martabat tujuh yang terjadi di Dunia Melayu-Indonesia (ItúŒf al-ªak¥ h. 1).

[3] Edi Sedyawati, “Menyikapi Warisan Budaya” dalam Media Indonesia, 25 Maret 2000.

[4] Tarekat Sya‹‹Œriyyah diperkirakan masuk untuk pertama kalinya ke alam Minangkabau seiring dengan kembalinya Syaikh Burhanuddin Ulakan dari Aceh pada sekitar tahun 1680-an, dan mendirikan surau untuk pertama kalinya di Tanjung Medan, Pariaman (Daya 1990: 79).

[5] Lihat catatan kaki no. 1 pada bab 5.

[6] Belum diketahui riwayat hidupnya.

[7] Naskah Sya‹‹Œriyyah yang telah disunting, dan kemudian penulis jadikan sebagai sumber utama penelitian ini, adalah Tanb¥h al-MŒsy¥ (Fathurahman 1999) dan Sya‹‹Œriyyah (Istadiyantha 1989; Abdullah 1995). Dalam penelitian ini, naskah-naskah tersebut dipergunakan kembali sebagai sumber untuk menganalisis naskah-naskah Sya‹‹Œriyyah Sumatra Barat, dan untuk melihat dinamika tarekat Sya‹‹Œriyyah di dalamnya.

[8] Pembahasan tentang nilai cerita mitos atau legenda, dan fungsinya sebagai sumber informasi, lihat Vansina 1965, khususnya h. 154-157.

[9] Penting dicatat, bahwa Rinkes lah sarjana pertama yang memperkirakan tahun kelahiran al-Sinkili, yakni 1615. Angka tersebut ia peroleh setelah menghitung mundur dari saat kembalinya al-Sinkili dari Haramayn ke Aceh (Rinkes 1909: 25-26). Belakangan, angka lahir al-Sinkili versi Rinkes ini seringkali menjadi rujukan sarjana berikutnya dalam menyebut periode hidup al-Sinkili (lihat, antara lain, Johns 1955a, Riddell 1984, Azra 1994).

[10] lihat misalnya Ronkel 1914.

[11] Lihat, misalnya, Hasjmi 1980; T. Iskandar dalam Mohammad (ed.) 1987: 72-73.

[12] Voorhoeve (1952/1980), misalnya, mencoba mengidentifikasi kitab-kitab karangan Syaikh Abdurrauf al-Sinkili. Kajian Voorhoeve ini berlandaskan pada satu keyakinan bahwa “…barangsiapa ingin memasuki alam pikiran Abdurrauf, haruslah terlebih dahulu mendalami kitab-kitab yang ditulisnya sendiri…” (Voorhoeve 1980: 1). Oleh karenanya, dalam karyanya ini, Voorhoeve mencoba mendeskripsikan, sekaligus memilah-milah, kitab-kitab yang sering disebut sebagai karangan al-Sinkili. Kendati tidak secara langsung memperkaya literatur tentang tarekat Sya‹‹Œriyyah, kajian Voorhoeve ini memang telah memberikan kontribusi berharga pada pemilahan sejumlah kitab yang dapat dipastikan sebagai karangan al-Sinkili, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu.

[13] Lihat, antara lain, Daly 1982, Riddell 1984, 1989, 1990, Harun 1988.

[14] lihat misalnya Johns 1961, 1976, 1978, dan lain-lain. Sepengetahuan penulis, tulisan A.H. Johns paling mutakhir yang berkaitan dengan Abdurrauf al-Sinkili, adalah artikelnya tentang tafsir TarjumŒn al-Mustaf¥d (Johns 1998). Tulisan yang juga tidak secara langsung mengenai tarekat Sya‹‹Œriyyah, tetapi mengandung pembahasan yang sangat penting, khususnya berkaitan dengan figur al-Sinkili, adalah disertasi Azra (1992, terbit menjadi 1994). Dalam karyanya itu, Azra mengemukakan pembahasan penting berkaitan dengan saling-silang hubungan al-Sinkili dengan guru-gurunya di Haramayn, serta corak atau kecenderungan tarekat Sya‹‹Œriyyah yang dikembangkan oleh al-Sinkili melalui murid-muridnya di dunia Melayu-Indonesia (lihat Azra 1994: 189-211).

[15] Lihat, misalnya, Amiruddin (1994), Hermarosrita (1994), Nur (1995), dan Syarifuddin (1989).

[16] Lihat, misalnya, Yafas (1990), Firdaus dkk (1999/2000), Bakry (2000), Bahri (1988), dan Arief dkk. (1982/1983).