Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

14.12.06

Suryadi, Kekayaan Minangkabau di Negeri Orang

Kompas, Selasa 03 Agustus 2004


SETIAP kali pulang ke Ranah Minang, Sumatera, isi tas ransel Suryadi selalu saja tambah padat. Ia seakan tak peduli dengan isi tas yang beratnya hampir setara dengan bobot badannya. Ia mau berberat-berat karena isi tasnya sesuatu yang amat berharga dan boleh dikatakan langka, yaitu sejumlah hasil penelitiannya tentang "kekayaan" Minangkabau di negeri orang.

Terakhir, ketika bersua Suryadi di Gedung Genta Budaya, Jalan Diponegoro, Padang, Sabtu (24/7), ia membawa sejumlah hasil penelitiannya yang telah dimuat di jurnal ilmiah terbitan Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, dan Belanda.

Dia juga membawa hasil penelitian berjudul Syair Sunur: Suntingan Teks, Konteks, dan Pengarang. Hasil penelitian yang membawanya meraih gelar master of art di Universiteit Leiden, Belanda, tahun 2002, itu ingin diterbitkan dalam bentuk buku, dibiayai sendiri dari uang tabungannya, hasil "menularkan" ilmu di Faculteit der Letteren (Fakultas Sastra) Universiteit Leiden.

"Sebagai orang Indonesia dan cinta kekayaan kebudayaan Indonesia, hanya hasil penelitianlah yang dapat saya sumbangkan. Kalau penelitian itu tidak saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tidak diterbitkan dalam bentuk buku, kapan lagi kita dapat mengetahui, mendalami, dan memaknai sendiri kekayaan kita tersebut. Kita memang tak punya dokumen aslinya, tetapi setidak-tidaknya hasil penelitian yang dilakukan ke sejumlah negara dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan kita bila diterbitkan dalam bentuk buku," ungkap Suryadi yang mendapat bantuan dana dari Toyota Foundation, Ford Foundation, Universiteit Leiden, dan lembaga ilmu pengetahuan Belanda untuk melakukan penelitian naskah kuno tersebut.

Ia melukiskan, untuk berbagai penelitian itu, dia berburu naskah kuno ke berbagai perpustakaan terkenal di Eropa, seperti ke Belanda dan Inggris. Di Indonesia naskah-naskah kuno tersebut tidak ada lagi.

Dalam Syair Sunur: Suntingan Teks, Konteks, dan Pengarang, Suryadi yang juga ahli transliterasi (penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain dan dalam hal ini dari abjad Arab (Melayu) ke abjad Latin) coba merekonstruksi imbas gerakan Paderi (sekitar tahun 1803-1838) di pantai barat Sumatera, khususnya di rantau Pariaman, jantung pertahanan kaum konservatif (tarekat Syattariyah atau ordo Ulakan, sekitar 1785 dan 1790) di Minangkabau.

"Pengaruh gerakan Paderi ditelusuri melalui biografi Syekh Daud Sunur, ulama dari rantau Pariaman (wilayah pantai). Sejak awal keulamaannya, faham keagamaan Syekh Daud Sunur sudah berseberangan dengan ordo Ulakan. Ulama ini sudah mengarang dua syair terkenal, yaitu Syair Mekah dan Madinah atau Syair Rukun Haji dan Syair Sunur," kata Suryadi menjelaskan.

Menurut dia, syair-syair karya Syekh Daud Sunur bernilai estetis cukup tinggi. Selain itu, Syair Sunur adalah syair yang cukup tua berciri otobiografis yang pernah ditulis orang Minangkabau, yang dalam konstruksi puitisnya masih memperlihatkan ciri sastra lisan (pantun) Minangkabau di satu sisi dan pengaruh sastra Arab (Islam) di sisi lain.

SURYADI yang kelahiran Pariaman, 15 Februari 1965, ini tertarik dengan naskah Nusantara klasik, khususnya syair Melayu, karena naskah pendek selama ini kurang mendapat perhatian.

Menurut dia, kecenderungan para peneliti Barat maupun peneliti Indonesia lebih pada teks panjang atau prosa sejarah. Epos besar dan historiografi tradisional atau hikayat kerajaan sudah banyak diteliti dengan hasil, antara lain, berupa sejumlah disertasi di berbagai universitas di dalam dan luar negeri.

"Kecenderungan itu menyebabkan kurangnya perhatian pada naskah pendek, apalagi yang terkait dengan Islam. Dari berbagai katalog naskah Nusantara yang sudah terbit dapat dilihat bahwa naskah pendek seperti itu juga tidak sedikit jumlahnya. Memang kebanyakan naskah pendek tidak banyak berkaitan dengan kisah di seputar pusat kekuasaan dan genealogi raja-raja lokal. Namun, baik sebagai artefak sejarah maupun sebagai hasil karya sastra klasik, sebenarnya nilai naskah pendek tidak lebih rendah dari naskah panjang," papar Suryadi.

Sikap mengabaikan naskah yang tidak memunculkan informasi seputar pusat kekuasaan menimbulkan efek kurang menguntungkan terhadap tradisi kajian naskah klasik Nusantara. Di Jawa, misalnya, sudah lama terdengar keluhan tentang kurangnya perhatian terhadap naskah pesisiran karena anggapan bahwa naskah pesisiran yang beraksara pegon dinilai lebih rendah nilainya daripada naskah keraton wilayah Yogyakarta dan Solo yang dinilai adiluhung.

Dewasa ini, lanjutnya, di kalangan peneliti naskah Nusantara klasik, khususnya kalangan filolog, naskah "pinggiran" seperti syair Melayu dan genre singir yang berkembang di kalangan masyarakat santri di pantai utara Jawa, belum dikenal luas. "Alasan ini pulalah yang membuat saya tertarik meneliti Syair Sunur, atau naskah Nusantara klasik jenis syair Melayu," tambah dia.

SEBAGAI orang Minang, di sela-sela kesibukan meneliti naskah Nusantara klasik, Suryadi masih menyempatkan diri meneliti hal lain guna menggali kekayaan dan kejayaan Minang dulunya. Banyak data dan dokumen penting tentang Minangkabau disimpan di Belanda.

"Saya beruntung studi di Belanda. Ide-ide penelitian tak habis-habisnya karena didukung perpustakaan yang lengkap dan memiliki koleksi langka. Di samping itu, setelah menjadi dosen tamu sejak akhir tahun 1998, terhitung tahun 2001 saya diminta menjadi dosen tetap/tanpa batas kontrak oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Leiden," ujar suami Nurlismaniar dan ayah dari Raisa Mahesvara Niadilova (3 tahun) yang untuk disertasi doktornya meneliti tentang signifikansi budaya industri regional di Sumbar.

Setamat dari Universitas Andalas (1991), Suryadi pernah menjadi asisten dosen di almamaternya dan di Universitas Bung Hatta, Padang. Karena tak pernah diangkat menjadi dosen tetap, akhir tahun 1994 dia pindah mengajar ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Setelah beberapa tahun menjadi asisten dosen di UI, ia pun tak diangkat menjadi dosen tetap.

Berkat kerja sama Prof Dr MHJ Maier dari Universiteit Leiden dan Dekan Fakultas Sastra UI (waktu itu) Prof Dr Sapardi Djoko Damono, akhir tahun 1998 Suryadi menjadi dosen tamu untuk program studi bahasa dan kebudayaan Indonesia di Universiteit Leiden. Pengetahuan dan dedikasinya pada sastra Nusantara akhirnya mengantarkan dia mengajar tetap di Leiden. (YURNALDI)

0 Kommentare: