Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

25.12.06

Tradisi Lisan dan Cultural Heritage Kita

Oman Fathurahman

Tradisi lisan adalah juga kekayaan budaya (cultural heritage) bangsa kita. Seperti halnya cultural heritage lain, tradisi lisan pun bisa lestari dan bisa juga musnah, tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Kita sudah lama membincangkan betapa banyak tradisi lisan di setiap daerah yang perlahan-lahan lenyap karena generasi berikutnya tidak mampu, atau memang tidak mau, lagi mewarisinya. Nasib yang sama juga sesungguhnya terjadi pada cultural heritage tertulis, seperti naskah-naskah kuno Nusantara yang banyak ditelantarkan di negeri kita, dan perlahan-lahan musnah dimakan usia, padahal naskah-naskah tersebut sangat dihargai dan dirawat dengan baik di negeri orang.

Pertanyaannya, apakah lenyapnya cultural heritage masa lalu itu merupakan sebuah “bencana”?

Sebagian orang mungkin berpandangan bahwa “masa lalu adalah masa lalu”; ditinggalkannya masa lalu dengan beralih pada sesuatu yang baru adalah sebagai tanda kemajuan (renewal and progress), dan bahkan menandakan adanya denyut kehidupan, sedangkan kembali kepada masa lalu merupakan langkah mundur belaka. Oleh karenanya, melestarikan “masa lalu” tidaklah terlalu penting, atau setidaknya tidak masuk prioritas yang harus dilakukan.

Namun, mengutip ceramahnya Jan Pronk dalam pembukaan sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Cultural Emergency Response (CER) Prince Claus Fund bertajuk: “Culture is a Basic Need: Responding to Cultural Emergencies” di Den Haag pada 25 September 2006 lalu: “…culture is more that matter. Culture is the spirit, soul and mind of a community. Destruction of that culture is an attack on life itself…”. Pronk meyakini cultural heritage sebagai bukan benda mati, sehingga menegasikan keberadaannya sama saja dengan ancaman terhadap keberlangsungan sebuah komunitas yang telah menghasilkannya.

Pentingnya melestarikan tradisi lisan, dan juga tradisi tulis sebagai cultural heritage kita kiranya dapat dilihat dalam perspektif ini. Selama berabad-abad, tradisi itu telah banyak merekam adat-istiadat, nilai-nilai, serta spirit dan nafas masyarakat leluhur kita. Tradisi itu juga terbentuk bersama alam dan menghasilkan berbagai “aturan main kehidupan“ yang terbukti telah mampu menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat sampai hari ini.

Hanya saja, kita harus duduk bersama untuk merumuskan apa dan bagaimana upaya pelestarian cultural heritage yang penting diprioritaskan? Menjaga agar “ritual” tradisi lisan tetap hidup di masyarakat mungkin sesuatu yang perlu dilakukan, merawat tumpukan naskah kuno yang sudah lapuk juga bisa jadi tidak boleh diabaikan. Tapi yang tidak kalah penting dari itu adalah bagaimana menjaga dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cultural heritage itu. Mengeluarkan banyak biaya dan energi untuk sekedar “bernostalgia” dengan khazanah masa lalu kita tanpa berusaha keras mewarisi nilai-nilai yang terdapat di dalamnya saya kira tidak akan terlalu berguna.

Harus Dapat Memberikan Kontribusi
Salah satu anggapan yang seringkali dialamatkan kepada para pengkaji tradisi lisan dan tulis masa lalu adalah kegagalannya dalam menghubungkan nilai-nilai luhur atau kearifan lokal dalam tradisi itu dengan kebutuhan masyarakat modern masa kini.

Sebagai bangsa yang sejak awal terdiri dari beragam etnis, suku, dan agama misalnya, kita telah berulangkali mengalami konflik-konflik sosial, tindakan-tindakan kekerasan, baik yang bernuansa etnis maupun agama. Tapi dalam hal ini kita jarang sekali mendengar adanya upaya-upaya untuk mereview kembali akar-akar terjadinya konflik dalam masyarakat masa lalu yang sesungguhnya banyak terekam, baik dalam tradisi lisan maupun tradisi tertulis, dan kemudian bercermin untuk mencari solusi dari berbagai kearifan lokal yang pernah ada tersebut.

Mungkin masyarakat kita juga perlu disadarkan bahwa melestarikan cultural heritage tidak saja berarti akan memberikan “keuntungan” terhadap cultural property itu sendiri, melainkan lebih dari itu akan memberikan akibat terhadap stabilitas dan keberlangsungan kita sebagai masyarakat yang pernah menghasilkannya.

Ini memang perlu waktu dan menjadi tugas bersama. Upaya aktualisasi dan revitalisasi cultural heritage kita tidak cukup berhenti sampai pada tahap penelitian yang dilakukan oleh kalangan akademisi saja. Pemerintah, melalui departemen terkait, juga harus turun tangan melahirkan berbagai kebijakan yang mendukung pelaksanaannya di lapangan, misalnya dengan memasukkan materi “sadar budaya“ dalam kurikulum di sekolah-sekolah, karena jalur pendidikan adalah sarana yang paling efektif untuk mensosialisasikan sebuah gagasan.

Media pers, baik cetak maupun elektronik, pun dapat memegang peranan terdepan dalam mensuplai nilai-nilai luhur dalam tradisi kita, sehingga masyarakat tidak melulu dijejali dan dipaksa untuk mengikuti nilai-nilai baru yang tidak jarang berseberangan dengan tradisi serta nilai-nilai ketimuran kita.

Yang paling penting, semua upaya pelestarian dan pewarisan nilai-nilai tradisi itu harus ditempatkan dalam konteks memberikan kontribusi bagi perbaikan kondisi kehidupan masyarakat saat ini. Melalui tradisi tersebut, siapa tahu kita bisa “memungut“ kembali kearifan lokal serta nilai-nilai lama leluhur kita untuk menghilangkan ketidakpedulian, keangkuhan, sikap tidak empati dan tidak toleran, sikap tidak santun, sikap menyukai kekerasan, yang sepertinya sedang melekat dalam sebagian masyarakat kita.