Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

14.11.06

Book Review: Tradisi Intelektual Islam Melayu-Indonesia: Adaptasi dan Pembaruan

Oman Fathurahman



Peter Riddell, Islam and the Malay-Indonesian World: Transmission and Responses, Singapore: Horizon Books, 2001


This article has been published in Studia Islamika, Vol. 8. no. 3, 2001, pp. 207-222




Melayu-Indonesia sebagai Wilayah Kajian Islam
Islam Melayu-Indonesia sejak awal telah menjadi pusat perhatian para sarjana, meski pada masa-masa awal perhatian tersebut seiring dengan pentingnya wilayah Melayu-Indoesia bagi kolonialisme, baik secara ekonomi maupun politik.


Banyak hal dalam Islam Melayu-Indonesia memang menjadi daya tarik bagi para sarjana, antara lain karena watak atau karakteristik Islam Melayu-Indonesia yang khas, yang berbeda dengan watak Islam di wilayah lain khususnya di Timur Tengah. Selain itu, perkembangan Islam di wilayah ini juga mengalami fase yang begitu mengesankan, serta menunjukkan adanya dinamika dan kreatifitas, baik menyangkut wacana maupun praktek-praktek keagamaannya.

Corak dan karakteristik Islam di Melayu-Indonesia ini tentu saja tidak hanya menimbulkan berbagai apresiasi, tapi juga pandangan-pandangan yang bernada “tidak bersahabat”. Tidak sedikit sarjana yang menilai bahwa Islam Melayu-Indonesia terlalu “jinak” dan kelewat akomodatif terhadap berbagai kepercayaan, praktek keagamaan, dan tradisi lokal, sehingga karenanya bersifat sinkretik, tidak murni, dan telah lepas dari arus utama Islam di Timur Tengah, yang dipandang sebagai pusat Islam (Azra 1999: xvi).

Hal ini juga yang menyebabkan beberapa sarjana lain menganggap bahwa Islam Melayu-Indonesia adalah “bukan Islam yang sebenarnya”. Namun, di sisi lain, kekhasan ini juga tidak jarang dipandang sebagai kekuatan dan daya tarik tersendiri, karena hal tersebut berarti menunjukkan adanya respon, dinamika dan kreasi dari masyarakat Melayu-Indonesia itu dalam meresepsi Islam.

Kekhasan Islam di wilayah Melayu-Indonesia tentu tidak muncul begitu saja. Ia dihasilkan melalui interaksi serta berbagai kontak panjang dan penuh dinamika antara wilayah ini dengan pusat-pusat pengetahuan Islam. Kajian atas wilayah ini pun seringkali ditempatkan dalam konteks hubungannya dengan Timur Tengah sebagai tempat cikal bakal lahirnya Islam. Kontak yang terjadi antara dunia Melayu-Indonesia dengan dunia Islam Timur Tengah telah terjalin erat —dan dalam rentang waktu yang relatif panjang— dengan mengambil beberapa bentuk, seperti perdagangan, politik, dan keagamaan.

Buku Petter Riddell yang dibahas ini sesungguhnya berambisi memotret mozaik Islam di wilayah Melayu-Indonesia, terutama yang menyangkut berbagai corak pemikiran keagamaannya (h. v). Rentang waktu yang menjadi concern Riddell relatif sangat luas, yakni sejak awal kehadiran Islam di wilayah ini pada abad 13, hingga masa kontemporer pada abad 20.

Salah satu tesis utama Riddell dalam buku ini adalah kaitannya dengan bentuk hubungan antara Islam Melayu-Indonesia dengan Islam di Timur Tengah. Dalam hal ini, Riddell tidak secara mutlak membantah bahwa Islam yang hadir di wilayah Melayu-Indonesia bersifat derivatif dan tidak berdiri sendiri (h. 8), mengingat berbagai pemikiran Islam yang muncul di wilayah ini memang merupakan bentuk respon atas berbagai wacana yang muncul di bagian dunia lain, khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan.

Secara historis, hal ini juga terlihat dari banyaknya sarjana Muslim Melayu-Indonesia periode awal, yang kredibilitas keilmuan Islam mereka banyak ditentukan oleh lamanya mereka belajar di Timur Tengah, seperti Abdurrauf Singkel dari Aceh, atau Nawawi al-Bantani dari Banten, dan beberapa ulama periode kemudian lainnya. Tidak heran kemudian jika pada gilirannya Timur Tengah dalam konteks keilmuan Islam sering dipandang sebagai centre, atau heartland, sementara Melayu-Indonesia, hanya sebagai wilayah pinggiran (periphery) (h. 9).

Kajian Riddell dalam buku ini mencoba menunjukkan bahwa kendati kecenderungan centre dan periphery itu tetap ada, hubungan dan perbedaan antara Islam Melayu-Indonesia dengan Islam di Timur Tengah lebih bersifat horizontal daripada vertikal. Artinya, tidak ada yang superior di satu pihak, dan inferior di pihak lain. Tidak sedikit misalnya para ulama Melayu-Indonesia dalam setiap periodenya yang menempati posisi terhormat di kalangan elit Islam pada umumnya, dan bahkan memberikan kontribusi yang sangat penting dalam wacana keilmuan Islam.

Penting dicatat bahwa dalam bibliografi buku ini, Riddell menyertakan sumber-sumber tulisan para sarjana, baik yang sudah masuk kategori pakar, maupun para sarjana yang disebutnya sebagai less well known islamic thinkers, terutama ketika memotret pemikiran Islam Melayu-Indonesia abad 20 (h. 4). Di samping itu, Riddell juga banyak memanfaatkan tulisan-tulisan di surat kabar, dan berbagai komentar di media elektronik (televisi) yang berkaitan dengan wacana keagamaan. Pembaca yang ditujunya pun sebetulnya lebih luas lagi, tidak hanya terbatas pada mereka yang secara spesifik mempelajari Islam di dunia Melayu, tetapi juga pembaca, yang oleh Riddell disebut sebagai “a potential non-specialist audience” (h. v). Tak heran kemudian jika secara keseluruhan, buku ini juga bersifat ensiklopedis.

Full length article in PDF format, click here...



0 Kommentare: