Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

11.3.06

490 Naskah Klasik Minangkabau Tersimpan di Leiden

Kompas, Senin, 25 Juni 2001

Padang, Kompas

Sebanyak 490 naskah klasik Minangkabau, atau Sumatera Barat tempo dulu, kini masih tersimpan di Universiteit Bibliothek Leiden, Belanda. Naskah tersebut tidak bisa dibawa ke Sumatera Barat karena belum ada museum yang representatif, yang bisa menyelamatkan naskah-naskah yang sudah melapuk itu.

Namun demikian, di Ranah Minangkabau sendiri masih terdapat banyak naskah lainnya yang disimpan oleh perorangan atau kaum sebagai pusaka tinggi. Sayangnya, naskah klasik yang umumnya berupa tambo dan kaba itu sulit diminta untuk disimpan di museum.

Kenyataan itu diungkapkan ahli sastra Minang Universitas Andalas, Padang, Adriyetti Amir, menjelang digelarnya simposium internasional "Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)" pada 28-31 Juli mendatang. "Terbatasnya kajian-kajian tentang Minangkabau karena referensi yang ada di Sumbar atau di Indonesia sangat terbatas. Sedang untuk ke Belanda, memerlukan biaya besar," katanya di Padang, Sabtu (23/6).

Dikemukakan, daerah yang memiliki naskah klasik Minangkabau yang patut dikaji antara lain di Pariaman (naskah Nazam, Nabi Bercukur), Sawahlunto (tambo Silsilah Raja-raja), Padang Panjang (dengan Pariangannya), dan Pesisir Selatan. Pusat penulisan naskah klasik Minang pada masa lampau adalah di surau, karena di suraulah berlangsungnya proses belajar.

"Tambo-tambo klasik Minangkabau tersebut merupakan saksi kecendekiaan dan kearifan pemikiran masyarakat kala itu. Untuk itu, perlu dikaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai kultural dan religi masyarakatnya," tambah Adriyetti Amir.

Simposium internasional ke-5 yang digelar di Padang itu, demikian Adriyetti yang juga ketua panitia pelaksana, diarahkan pada pengkajian naskah yang lebih mendalam, serta mencari upaya untuk mengapungkan pemikiran dan kearifan yang dikandung oleh suatu naskah. Karena naskah merupakan saksi kecendekiaan dan kearifan masyarakat pemiliknya.

Hal itu disadari karena kecenderungan selama ini naskah nusantara dijadikan "ajang penerapan" teori-teori yang datang dari Barat, Eropa atau Amerika. Akibatnya, nilai-nilai kultural dan religi yang dikandung sebuah naskah tidak terungkapkan secara semestinya.

Oleh karena itu, simposium yang digelar di Universitas Andalas, Padang, itu akan mengangkat tema penelitian naskah Nusantara dari sudut pandang kebudayaan Nusantara. Simposium diharapkan nantinya dapat menghasilkan suatu teori dan metode penelitian naskah, khususnya naskah Nusantara.

Beberapa ahli yang akan tampil sebagai narasumber, yaitu Dr Roger Tol dan Suryadi (Universitas Leiden), Prof Dr Edy Sedyawati dan Prof Sapardi Djoko Damono (Universitas Indonesia, Jakarta), Dr Noriah Mohamet (Malaysia), Prof Dr Awang bin Ahmad dan Dr Ampuan Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah (Brunei Darussalam), serta Adriyetti Amir dan M Yusuf (Universitas Andalas, Padang). (nal)

0 Kommentare: