Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

4.4.16

Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao: A New Book

Title: Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao
Author: Oman Fathurahman
Publisher: ILCAA-TUFS, Tokyo
Year of Publication: March 2016

==========
This book provides primary sources of the Shaṭṭārīyah silsilah in Southeast Asia as developed in Aceh, Java, and Mindanao. It examines the networks of the Order between the 17th and 19th centuries, arguably the most important formative periods of the Islamic history in these regions.

The majority studies on the history of the Shaṭṭārīyah in Southeast Asia highlighted the Acehnese scholar ‘Abd al-Ra’ūf b. ‘Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī (1615-1693) as the main khalīfah who expanded the order in this region while paying little attention to other silsilahs, as mentioned in certain Indonesian manuscripts. Therefore, this study examines the complexity of the Shaṭṭārīyah silsilah in this region, which was spread not only through ‘Abd al-Ra’ūf’s line but also al-Kūrānī, Ḥasan al-‘Ajamī, and Ṣāliḥ Khaṭīb.

Read More......

6.2.16

Raibnya Sang Naskah

Artikel ini terbit di koran Kompas, 5 Februari 2016. Saya menambahkan beberapa paragraf untuk penajaman.

==========
Berita kecil di harian Kompas, 18 Januari 2016, tentang raibnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, nyaris luput dari perhatian publik.
Maklumlah, hiruk-pikuk di jagat politik enggan beranjak dari media, dan kasus kopi sianida kelihatannya lebih menarik disimak. Untunglah, teman-teman aktivis Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) masih memiliki kepedulian dan mengingatkan saya untuk menulis, agar persoalan pentingnya artefak budaya ini juga turut mengisi ruang-ruang fikiran publik, dan menjadi memori kolektif bangsa kita.
Dwi Woro Retno Mastuti, dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), yang dalam beberapa tahun terakhir mengkaji naskah itu, heran dan masygul dengan raibnya naskah "pusaka" itu. Baginya, naskah Jawa-Tiongkok yang keseluruhannya berjumlah 118 buah dan tersebar di berbagai koleksi dalam dan luar negeri itu sangat penting dalam konteks kebinekaan bangsa ini. Sebab, naskah dan isinya menggambarkan pergumulan komunitas etnisitas Tiongkok di abad ke-19 untuk menjadi Jawa di satu sisi dengan tetap memunculkan identitas etnisitas asalnya di sisi lain.
Nama-nama legenda Sam Kok dan Sik Jin Kwi, yang dikisahkan dalam naskah tersebut, bahkan ditulis oleh pengarangnya menggunakan aksara swara dan aksara rekan sehingga jejak etnisitas Tiongkok-nya masih sangat kuat (Mastuti 2011, Menjadi Jawa: Naskah Cina-Jawa).

Read More......

26.10.15

Museum Islam Betawi


Artikel terbit di Koran Republika, Sabtu 24 Oktober 2015.

==========
Menyisir katalog, dan kemudian menyimak halaman demi halaman beberapa manuskrip yang terkait dengan sejarah Islam di Batavia (kini Jakarta) di Perpustakaan Universitas Leiden, menggiring saya pada imajinasi tentang Islam Betawi masa lalu. Kertas kecil putih bertuliskan Legaat Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje yang nempel pada halaman sampul sejumlah manuskrip yang kami baca menandakan peran penting Penasehat urusan-urusan keislaman bagi Pemerintah Kolonial Belanda pada masanya itu, dalam pengumpulan naskah-naskah di Indonesia.

Dalam tiga hari di akhir September, saya bersama K.H. A Shodri HM, Pimpinan Jakarta Islamic Center (JIC), Ahmad Juhandi, Haerullah, Abdul Razak Said dan teman-teman peneliti lain dari JIC menyambangi Perpustakaan yang menyimpan koleksi manuskrip Indonesia terbesar di dunia tersebut, untuk melakukan riset awal terkait rencana JIC mengembangkan Museum Islam Betawi. Selain Perpustakaan, Museum Volkenkunde, yang menata artefak-artefak budaya asal berbagai Negara termasuk Indonesia, juga menjadi tempat tujuan yang ternyata memberikan banyak inspirasi bagaimana mengelola dan memvisualisasikan potensi sejarah dan kebudayaan sebuah masyarakat.

Read More......

7.8.15

Belajar dari Birmingham

MS1572A of MIngana Collection
Versi pendek tulisan ini terbit di harian nasional Republika, Selasa 28 Juli 2015
-----
Uji radiokarbon atas dua lembar perkamen naskah M. 1572a yang berisi penggalan teks al-Quran koleksi Perpustakaan the University of Birmingham, telah menghentak dunia akademik Islam internasional atas kesimpulannya bahwa naskah berbahan kulit kambing tersebut berasal dari antara tahun 568 hingga 645 M, tidak jauh dari masa hidup Nabi Muhammad Saw (570-632 M).

‘Klaim’ usia naskah al-Quran Birmingham itu memang sulit dibantah karena dihasilkan dari sebuah langkah metodis saintifik yang tingkat akurasinya mencapai 95,4%. Ini berbeda dengan klaim-klaim yang sering berseliweran di kalangan masyarakat umum tentang kepemilikan sebuah naskah yang konon berusia ‘ratusan’ tahun, tanpa dilanjutkan dengan riset akademik untuk menguji kebenarannya.

Riset adalah kata kuncinya!

Read More......