Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

6.3.15

Filologi Indonesia: Teori dan Metode

Judul: Filologi Indonesia: Teori dan Metode
Penulis: Oman Fathurahman
Penerbit: Prenadamedia Group
Terbit: Cetakan Pertama, Maret 2015

==========
Ah, lama sekali saya tidak posting di blog ini, hampir setahun semenjak posting terakhir tanggal 7 Mei 2014! maafkan wahai para pembaca. Saya mencoba memupuk kembali semangat itu dengan berbagi informasi buku terlampir.

Saya memberi judul buku ini Filologi Indonesia: Teori dan Metode.

Penulisan buku ini didorong antara lain oleh kegelisahan kolega-kolega, mahasiswa, dan saya sendiri, atas sulitnya menjumpai buku pengantar kajian filologi yang mutakhir dan dapat dipergunakan khususnya oleh mahasiswa-mahasiswa di Perguruan Tinggi ketika mereka melakukan studi naskah, padahal kajian Filologi di Indonesia sendiri sudah cukup lama berkembang dan menghasilkan karya-karya Filologis yang penting kontribusinya bagi dunia keilmuan, khususnya di bidang Humaniora.

Read More......

7.5.14

Kurikulum Sejarah dan Naskah Kuno


Artikel ini terbit di Rubrik Opini, KOMPAS, 7 Mei 2014.
-----
Dua artikel di koran Kompas terkait Penulisan Sejarah Nasional dan Kurikulum Pendidikan yang ditulis oleh Budi Darma (24/4/2014) dan L Wilardjo (30/4/2014) patut kita respon dengan serius. Budi Darma menekankan pentingnya penulisan sejarah berbasis penelitian, dan L Wilardjo menimpali perlu masuknya sejarah nasional berbasis penelitian itu dalam kurikulum pendidikan kita.

Sejarah adalah salah satu rumpun ilmu Humaniora. Berbeda dengan ilmu eksakta atau sains yang lebih bersifat futuristik, sumber pengetahuan ilmu Humaniora harus merujuk ke belakang dan lebih banyak mengakar sedalam-dalamnya pada budaya dan karsa yang dihasilkan oleh peradaban manusia itu sendiri.

Semakin jauh sumber primer dirujuk, semakin kokoh pula asumsi-asumsi yang dibangun. Persis seorang pemanah, semakin kencang ia menarik busur ke belakang, semakin kuat sang anak panah menancap di sasaran.

Read More......

21.1.14

Susahnya Mengurus Naskah Kuno

photo by PKPM Aceh
Pada akhir tahun lalu, kita disuguhi berita-berita di sejumlah media yang “ngeri-ngeri sedap” terkait pelestarian naskah kuno di Perpustakaan Nasional. “Ngeri” karena bukan berita baik, tapi “sedap” karena memberi inspirasi untuk semakin berbenah.

Di antara berita-berita tersebut antara lain tentang belum maksimalnya Perpustakaan Nasional dalam merawat ribuan naskah kuno, dan tentang pentingnya berbagai pihak mengupayakan beasiswa kuliah tingkat lanjut untuk bidang ilmu Filologi. Meski sebatas berita kecil yang “nyempil” di koran besar dan mungkin tidak terlalu mendapat perhatian dari pembaca, ada pesan penting terkait nasib warisan budaya kita.



Read More......

26.8.13

Aceh, Banten, dan Mindanao 2 (plus Cirebon)

a page of manuscript in SMS collection
Tulisan ini terbit di Koran Nasional Republika, Jumat 23 Agustus 2013.

Saya pernah menulis artikel tentang informasi awal jaringan keilmuan Islam antara Aceh, Banten, dan Mindanao (Republika, 8 Maret 2012). Tulisan itu saya sarikan setelah membaca sepintas beberapa manuskrip koleksi Sheik Muhammad Said bin Imam sa Bayang di Marawi City, Mindanao.

Ketika ngaji lebih rinci halaman per halaman keseluruhan 43 manuskrip yang menjadi inspirasi utama tulisan itu, ternyata lebih gamblang lagi betapa kokohnya jalinan Muslim Maranao dengan kedua wilayah di Indonesia masa lalu itu, dan ditambah Cirebon.

Tulisan ini saya anggap saja refleksi tentang Aceh, Banten, dan Mindanao (plus Cirebon) jilid dua, meski kali ini tidak akan ada ulasan terkait Aceh, tapi ingin bercerita lebih jauh betapa ilmu yang dipelajari dari Banten oleh Muslim Maranao ternyata tidak sebatas tasawuf dan tarekat ajaran Syekh Abdul Qohar atau Syekh Abdul Syakur, melainkan juga ilmu kebal dan debusnya.

Read More......