Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

26.6.15

Manuskrip Digital untuk Riset

Saya agak lama merenung menyiapkan materi presentasi ini untuk memenuhi undangan teman-teman di Balitbang Agama Jakarta mengisi salah satu sesi dalam workshop tentang “Penulisan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Teks-teks Keagamaan”.

Mengapa? Bukan karena saya kehabisan ide tentang topik tersebut, bukan juga karena saya kesulitan mengumpulkan materinya, melainkan karena saya sadar betul bahwa peserta workshop yang hadir adalah mereka-mereka yang niscaya sudah berulang kali bertemu dan mendengarkan gagasan-gagasan saya terkait pentingnya pendekatan filologi untuk kajian teks-teks keagamaan (dalam hal ini teks-teks Islam).

Saya tidak ingin hanya mengulang materi lama! Saya mencoba memikirkan sebuah kontribusi yang relatif segar, tidak semata mengulang-ulang materi lama yang mungkin sudah sangat difahami dan bahkan sudah dipraktikkan. Tapi itu ternyata tidak mudah, apalagi menyangkut hal-hal yang sifatnya teoritis. Istilah kata: memang sudah dari sananya begitu!


Read More......

21.5.15

Sabda Raja: Antara Wahyu Leluhur dan Tradisi Leluhur


Versi ringkas artikel ini terbit di Koran Republika, Selasa 12 Mei 2015.
----------

Untuk pertama kalinya sejak naik tahta 7 Maret 1989 silam, pada Kamis (30/4) Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan Sabda Raja yang berisi lima butir titah: penggantian kata Buwono menjadi Bawono, penanggalan gelar Khalifatullah, penggantian kata Sedasa menjadi Sepuluh’ mengubah perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan, dan menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan keris Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.

Berdasar tradisi Kraton, sabda Raja tentu saja adalah sabda pandita ratu yang tiada lain harus dipatuhi, bukan untuk diperdebatkan. Apalagi, Sultan Hamengkub[a]wono X menegaskan bahwa Sabda Raja ini tak lain adalah ‘wahyu leluhur’ melalui dirinya. Akan tetapi, dari perspektif sejarah kesultanan di Nusantara, penanggalan gelar khalifatullah, khususnya, sejatinya bukan persoalan sederhana.

Khalifatullah: Warisan Ideologi dan Tradisi
Sebutan khalifatullah (wakil Tuhan) adalah ‘setali tiga uang’ dengan gelar zillullah fil alam atau zillullah fil ard yang berarti bayang-bayang Tuhan di bumi, dan melekat pada gelar para Sultan di kerajaan Melayu-Islam sejak abad ke-14 (Milner 1981: 52). Jadi, oleh rakyatnya, Sultan selalu diyakini sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang patut dan wajib dipatuhi segala titahnya.

Read More......

14.4.15

From Anatolia to Aceh: Book Info

Title: From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia

Editors: A. C. S. Peacock & Annabel Teh Gallop

Published for the British Academy by Oxford University Press, 2015

Contributors: A.C.S. Peacock, Annabel Teh Gallop, Anthony Reid, Jorge Santos Alves, Jeyamalar Kathirithamby-Wells, Isaac Donoso, Īsmail Hakki Kadi, Īsmail Hakki Göksoy, William G. Clarence-Smith, Amrita Malhi, Chiara Formichi, Vladimir Braginsky, Oman Fathurahman, and Ali Akbar.
==========
Source of summary: http://www.amazon.com/From-Anatolia-Aceh-Southeast-Proceedings/dp/0197265812

Southeast Asia has long been connected by trade, religion and political links to the wider world across the Indian Ocean, and especially to the Middle East through the faith of Islam. However, little attention has been paid to the ties between Muslim Southeast Asia - encompassing the modern nations of Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore and the southern parts of Thailand and the Philippines - and the greatest Middle Eastern power, the Ottoman empire.

Read More......

6.3.15

Filologi Indonesia: Teori dan Metode

Judul: Filologi Indonesia: Teori dan Metode
Penulis: Oman Fathurahman
Penerbit: Prenadamedia Group
Terbit: Cetakan Pertama, Maret 2015

==========
Ah, lama sekali saya tidak posting di blog ini, hampir setahun semenjak posting terakhir tanggal 7 Mei 2014! maafkan wahai para pembaca. Saya mencoba memupuk kembali semangat itu dengan berbagi informasi buku terlampir. Buku ini merupakan "modifikasi" dari buku sebelumnya yang berjudul "Filologi Islam Indonesia". Buku yang disebut terakhir tidak dapat diperjualbelikan karena dicetak oleh Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Kemenag (2010), sementara minat mahasiswa atas buku pengantar filologi sangat tinggi setiap tahunnya.

Saya memberi judul buku ini Filologi Indonesia: Teori dan Metode.

Penulisan buku ini didorong antara lain oleh kegelisahan kolega-kolega, mahasiswa, dan saya sendiri, atas sulitnya menjumpai buku pengantar kajian filologi yang mutakhir dan dapat dipergunakan khususnya oleh mahasiswa-mahasiswa di Perguruan Tinggi ketika mereka melakukan studi naskah, padahal kajian Filologi di Indonesia sendiri sudah cukup lama berkembang dan menghasilkan karya-karya Filologis yang penting kontribusinya bagi dunia keilmuan, khususnya di bidang Humaniora.

Read More......