Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

16.9.16

Riset dan Menulis: Pengalaman Pribadi (1)

ASAFAS, Kyoto University
Sulit melukiskan emosi yang meledak-ledak saat saya sudah menemukan alur ide yang akan ditulis, dengan tumpukan referensi primer dan sekunder yang siap kutip, lengkap dengan nomor-nomor halamannya, dan terutama dengan mutu informasi yang meyakinkan.

Luapan emosi semacam itu biasanya semakin menjadi-jadi saat saya memulai menulis paragraf pertama, bersambung ke paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya. Alur ide dalam kepala sering melintas lebih cepat ketimbang sepuluh (kadang menggunakan ‘sebelas’) jari yang menari-nari di atas papan tombol (keyboard) komputer, sehingga saya seirngkali memanfaatkan aplikasi tertentu untuk menyimpan ide-ide yang berseliweran. Ini penting, biar gak lupa saat dibutuhkan.

Read More......

1.9.16

The British Library’s Endangered Archives Programme: Call for Applications

The Endangered Archives Programme at the British Library is now accepting grant applications for the next round of funding. Detailed information on the timetable, criteria, eligibility and application procedures is available on the Programme’s website. The deadline for receipt of preliminary grant applications is 4 November 2016.

Read More......

4.4.16

Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao: A New Book

Title: Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao
Author: Oman Fathurahman
Publisher: ILCAA-TUFS, Tokyo
Year of Publication: March 2016

==========
This book provides primary sources of the Shaṭṭārīyah silsilah in Southeast Asia as developed in Aceh, Java, and Mindanao. It examines the networks of the Order between the 17th and 19th centuries, arguably the most important formative periods of the Islamic history in these regions.

The majority studies on the history of the Shaṭṭārīyah in Southeast Asia highlighted the Acehnese scholar ‘Abd al-Ra’ūf b. ‘Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī (1615-1693) as the main khalīfah who expanded the order in this region while paying little attention to other silsilahs, as mentioned in certain Indonesian manuscripts. Therefore, this study examines the complexity of the Shaṭṭārīyah silsilah in this region, which was spread not only through ‘Abd al-Ra’ūf’s line but also al-Kūrānī, Ḥasan al-‘Ajamī, and Ṣāliḥ Khaṭīb.

Read More......

6.2.16

Raibnya Sang Naskah

Artikel ini terbit di koran Kompas, 5 Februari 2016. Saya menambahkan beberapa paragraf untuk penajaman.

==========
Berita kecil di harian Kompas, 18 Januari 2016, tentang raibnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, nyaris luput dari perhatian publik.
Maklumlah, hiruk-pikuk di jagat politik enggan beranjak dari media, dan kasus kopi sianida kelihatannya lebih menarik disimak. Untunglah, teman-teman aktivis Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) masih memiliki kepedulian dan mengingatkan saya untuk menulis, agar persoalan pentingnya artefak budaya ini juga turut mengisi ruang-ruang fikiran publik, dan menjadi memori kolektif bangsa kita.
Dwi Woro Retno Mastuti, dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), yang dalam beberapa tahun terakhir mengkaji naskah itu, heran dan masygul dengan raibnya naskah "pusaka" itu. Baginya, naskah Jawa-Tiongkok yang keseluruhannya berjumlah 118 buah dan tersebar di berbagai koleksi dalam dan luar negeri itu sangat penting dalam konteks kebinekaan bangsa ini. Sebab, naskah dan isinya menggambarkan pergumulan komunitas etnisitas Tiongkok di abad ke-19 untuk menjadi Jawa di satu sisi dengan tetap memunculkan identitas etnisitas asalnya di sisi lain.
Nama-nama legenda Sam Kok dan Sik Jin Kwi, yang dikisahkan dalam naskah tersebut, bahkan ditulis oleh pengarangnya menggunakan aksara swara dan aksara rekan sehingga jejak etnisitas Tiongkok-nya masih sangat kuat (Mastuti 2011, Menjadi Jawa: Naskah Cina-Jawa).

Read More......